Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cihuy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cihuy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Agustus 2012

Melodi Memori


Cerita Cinta
Oleh: Andy Sri Wahyudi
                                                                                                   
Sudah kukatakan pada Tia, perempuan seleraku sangatlah sederhana. Aku suka gadis berwajah keibuan, bergaya keibuan, berprilaku keibuan, bertutur kata keibuan dan aku juga menyukai Ibu-ibu. Tia belum juga percaya dengan pernyataanku itu, Tia selalu berusaha mengenalkanku dengan gadis-gadis macam Lia, Nina, Lupik, Imola, Luna, atau Imel. Kurasa mereka sama saja, seragam, tidak eksentrik dan mudah membuatku bosan.
Seleraku bukanlah gadis putih, langsing, semampai, trendi dan modis. Aku hanya pemuda kampung yang tak suka neko-neko. Sudah berkali aku katakan pada Tia kalau aku mencintainya dengan sepenuh perasaanku, meski Tia tidak percaya. Mungkin ia merasa aneh dengan dirinya, mengapa ada laki-laki yang bisa jatuh cinta padanya yang gedut dan sama sekali nggak modis. Aku tersenyum sendiri jika ingat peristiwa petang hari di bawah pohon jambu tempat aku dan Tia suka menghabiskan waktu di siang hari.
“ Nang, aku ingin tahu alasanmu, mengapa kamu mencintaiku selain aku ini keibuan dan seperti ibu-ibu?”
“Tia, aku tak punya alasan apa-apa, dan jangan kau tanyakan lagi.”
Tia diam, aku diam. Cuit..cuit..cuit…cuitt…seekor burung mencuit sambil bergegas dari ranting terbang ke udara bebas. Kami pulang jalan kaki berdua dan saling diam. Sesekali jari-jari tanganku kusenggolkan jari-jari tangannya. Tia cuek saja.
Tidak hanya satu – dua kali peristiwa itu terjadi, mungkin puluhan kali, dan selalu berakhir dengan diam yang sebenarnya kusukai. Aku merasakan dalam diam itu ada perasaan geli, sebel, lucu, malu, dan rasanya…ingin sekali mencubit pipi Tia yang tembem itu.
Setiap peristiwa itu berulang, selalu ada seekor burung yang mencuit-cuit ketika kami berdua sama-sama diam. Cuit..cuit..cuiit…cuitt…

Jumpa Pertama
Tia, gadis manis yang gaya berpakaiannya kadang mengejutkanku. Uh! Selera fashionnya mirip ibu-ibu PKK atau ibu-ibu yang berangkat arisan atau ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah. Berkemeja batik, bercelana kain dan bersepatu tipis tanpa hak, kadang mengenakan rok di bawah lutut. Satu yang membedakan dengan ibu-ibu: tas punggung yang berisi novel, bedak dan artikel tentang pendidikan. Kadang dia mengenakan kemeja coklat yang didobeli jaket warna merah dengan ritsliting depan terbuka. Namun Tia sangat cuek bebek, tiap hari menjalankan aktifitasnya sebagai mahasiswa komunikasi dan pengajar honorer di SMU swasta. Aku tak tahu apa yang ada dalam benaknya ketika memilih pakaian. Temanku ada yang mengomentari, jika cara berpaikaiannya aneh, kadang pilihan warna dan model berpakainnya tabrakan.
Aku bilang, “dia memang suka dengan gaya seperti itu.”
“Wuuu…jangan diperhalus dong kamu harus mengakui kalau pikirannya memang sampainya segitu,” balas temanku. Aku tertawa ngakak, “ya, pikiran yang nabrak-nabrak!”
Baru lima bulan aku mengenal Tia, aku masih ingat pertama kali bertemu ketika menghadiri acara baca puisi di sebuah komunitas teater. Aku tak menyangka bisa mengenalnya dengan cepat dan langsung akrab, padahal Tia termasuk gadis pendiam yang sulit didekati. Tia hadir di acara pembacaan puisi sendirian. Tentu saja terlihat sangat asing di komunitas itu, lantaran yang biasa menghadiri acara baca puisi hanya orang-orang itu saja. Aku mendekatinya setelah dua puisi karya Marwan anggota baru teater itu dibacakan dengan nada romantis. Ku sapa Tia dengan kepercayaan diri yang kukumpulkan beberapa menit lalu.
“Hai, selamat malam…”
“Eh, malam juga..” dia melihatku dengan tenang tanpa curiga.
“Kamu sendirian ya? dari komunitas mana?” tanyaku sok akrab.
“ Hmmmm…aku sendirian dan aku tak perlu komunitas.”
“Tahu dari mana acara ini?”
“Dari baca poster jelek di papan pengumuman depan.”
“Eh, maaf namamu siapa? Aku Lanang”
“Tia” sambil menjabat tanganku tanpa basa basi.
“Mengapa kamu datang ke acara ini?”
“Aku sedang suntuk, malas dan frustasi, trus mau bikin puisi juga buntu.”
“Trus ndengerin orang baca puisi?” sambungku
Tia hanya tersenyum melihatku.
Aku mengambil salahsatu kursi yang masih kosong dan menjejerkan dengan kursi yang diduduki Tia. Kami berdua terlibat dalam obrolan yang akrab dan tak lagi memperhatikan pembacaan puisi. Kurasa percakapan kami lebih puitik daripada pembacaan puisi yang masih dengan iringan musik perkusi dan terkesan mistis nan artifisialis.
Tia pulang setelah acara selesai, dia tak mau ku antar meski hanya sampai parkiran sepeda motor. 
Senang rasanya berkenalan dengan cewek seperti Tia. Aku merasa udara malam tengah tersenyum padaku…Sejak saat itu Tia menghiasi pikiranku, memenuhi buku harianku, dan sering membuatku melamun. Tak dapat kupungkiri, aku naksir Tia.

Ternyata
Aku terkejut ketika berkunjung ke rumah Tia pertama kali, di kota kecil Klaten. Ketika aku duduk di ruang tamu, secara iseng kubuka album-album keluarga yang tergeletak di atas meja tamu. Sepertinya memang tamu dipersilakan membuka-buka sendiri. Aku kaget sekali ketika ada sebuah foto yang berlatar halaman rumahku, ada juga foto kakakku ketika masih kecil yang mengenakan seragam pramuka dan di sampingnya ada sepeda roda tiga milikku. Auuhh… Sungguh aku kaget sekali, gambar dalam album itu membuat ingatanku terbang ke masa lalu ketika rambut ayahku masih hitam legam. Ketika aku masih bersenjatakan botol kempongan susu. Aku berusaha mengingat-ingat semua temanku waktu itu demi rasa kagetku tentang Tia dan masa kecilku.
Setelah lama kuingat-ingat, aku baru sadar ternyata Tia adalah sahabat masa kecilku yang telah berpisah selama tujuh belas tahun lebih. Tia, gadis kecil berambut poni itu, dulu selalu bermain berdua denganku. Dulu kami paling suka berlarian di atas pematang sawah mengejar kupu-kupu yang tersesat. Tia, Gadis mungil yang dulu selalu menggandeng tanganku jika hendak menyeberang jalan raya untuk membeli ice juice jambu biji di warung mbak Tini.
“ Nang, silakan diminum.” Tia memotong lamunanku tentang masa kecil.
“ Eh, oh..iya Tia, terimakasih.” Aku tersenyum melihat Tia yang juga tersenyum segar.
Betapa kagetnya aku ketika melihat segelas ice juice kental warna pink tua di atas meja. Jelas itu adalah juice rasa jambu biji kesukaanku dari kecil. Lebih tepatnya kesukaan kami dari kecil. Aku tambah kaget ketika di dalam gelas kulihat dua sedotan plastik yang ujungnya mengarah ke arahku dan ke arah Tia. Sungguh, peristiwa kali ini membuatku bergetaran menahan rindu yang datang tiba-tiba. Ingatanku kembali melayang jauh ke belakang ketika aku dan Tia melakukan kebiasaan-kebiasaan lucu dan mengesankan: Aku dan Tia masih berusia 6 tahun, rambutku masih prontos dan Tia berambut poni. Di kebun belakang rumah, setiap hari minggu pagi cerah kami berdua berdiri menghadap ke timur tempat matahari terbit. Kami berdua paling suka melihat cahaya matahari yang bersilangan menembus celah-celah pohonan. Aku dan Tia paling suka mengelus-elus batang sinar matahari yang berbentuk seperti tombak menancap di tanah. Kami melihat ada jutaan bulatan debu kecil yang hidup di dalam sebatang sinar matahari itu. Debu yang kami sayangi. Kami menamainya debu piaraan Tuhan. Aku dan Tia sangat mencintai sinar matahari. Aku masih ingat ketika kami sering berdoa di bawah pohon jambu, kami memohon kepada matahari agar menjadi sahabat abadi. Sejak saat itu Kami mengaku sebagai anak matahari.
Selain kisah ‘matahari’, ada yang membuatku tersenyum ketika mengingat sesaji yang kami buat dari daun-daun, tanah, air, ranting, batu dan buah-buahan yang jatuh. Sesaji itu kami taruh pada sebuah sekotak kayu  yang tak lagi terpakai. Kami menaruhnya di bawah pohon – pohon besar karena setiap pohon yang besar kami anggap sebagai Ibu dari setiap pohon kecil yang sedang tumbuh. Sesaji itu kami persembahkan kepada pohon besar  sebagai tanda rasa sayang kami kepada ibu pohon yang menghidupi pohon-pohon yang lain.
Ah, belasan tahun telah lewat tapi kenangan itu masih juga hangat terasa dalam ingatan dan perasaan kami berdua. Di ruang tamu kami tertawa-tawa, menertawai nostalgia dan pertemuan tak disangka. Tia adalah anak pak Hasan, tetanggaku dulu yang pindah rumah lantaran Pak Hasan dipindah tugaskan ke luar pulau Jawa. Dulu keluargaku dan keluarga Tia sangatlah akrab meski keluarga Tia jauh lebih kaya dari keluargaku.
Saat ini adalah Lanang dan Tia yang mengaku sudah sama-sama dewasa.

Tia, Kamu Seksi
Jendral Ramilo dari Filipina pernah berkata kepada Presiden Sukarno bahwa orang-orang Filipina itu ganteng dan cantik, Sukarno menjawabnya dengan enteng “Ya, mungkin, tapi orang-orang Indonesia itu Seksi”. Tia hanya tersenyum kecut mendengar ceritaku, dia bilang, ah, Sukarno  si pecinta keindahan itu, memang selalu membuat bangsanya menjadi percaya diri. Apakah Sukarno punya ukuran seksi yang mengglobal? Seksi yang diakui seluruh dunia? Hehehe..kubilang bahwa semua orang Indonesia itu memang seksi termasuk nenek-nenek, kakek-kakek, ibu-ibu. Juga tanah airnya yang ke-seksi-annya diakui dunia. Kalau masih nggak percaya lihatlah relief perempuan di candi-candi itu, betapa seksinya leluhur kita. Seksi yang subur, bukan seksi yang kerempeng. Kami berdebat hingga marahan seminggu hanya gara-gara kata: Seksi!
Suatu ketika aku menulis surat pernyataan buat Tia tentang kata ‘seksi’ yang kuakhiri dengan kalimat: Tia, kamu seksi. Tia membalas surat itu dengan balpoin warna merah marun, “GOMBAL!”
Aku sedikit tersinggung, lantas ku bercerita apa adanya pada Tia:
Tia, kamu layak mencurigai seleraku tentang perempuan yang keibuan dan yang berbau ibu-ibu. Sebab sejatinya aku bingung dengan diriku, bingung dengan semua relasi yang pernah kujalani. Salah seorang sahabatku pernah bilang bahwa aku tak mempunyai selera tentang perempuan. Katanya aku asal pacaran saja, asal menerima dan menyatakan cinta, setelahnya tak ada masa depan untuk cinta. Aku tak pernah merawat dan bercita-cita dalam berpacaran. Lantas untuk apa pacaran?
Sejak saat itu aku tak pernah lagi pacaran, karena aku merasa bersalah dan merenungi keadaanku. Aku bingung  dengan mitos cinta yang katanya, membuat deg-degan, salah tingkah, menggetarkan dada dan indah tak terkatakan. Juga menyimpan misteri. Tapi diusiaku yang sudah 25 tahun belum juga merasakan seperti dalam mitos tersebut. Biasa saja, bahkan terlalu biasa. Aku pernah curiga dengan diriku, jangan-jangan aku pecinta sesama jenis. Aku pernah secara iseng beciuman dengan laki-laki tapi rasanya juga biasa saja, malah geli sendiri.
Ketika beberapa kali bertemu denganmu aku merasakan seperti mitos cinta orang kebanyakan itu. Saat itu juga aku merasa punya selera pada perempuan, maka kukatakan padamu kalau seleraku cewek yang keibuan dan serba ibu-ibu. Karena aku melihatmu dengan ciri-ciri seperti itu, tapi sebenarnya ada sesuatu yang sulit kukatakan dengan bahasa daerah atau bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Biarkan sesuatu itu hanya kurasakan dan menjadi milikku.
Kamu boleh membuang suratku, tapi yang harus kamu ingat  “Seksi itu tidak setiap hari muncul, tapi setiap saat bisa muncul dan diam-diam memukau”. Aku tak akan mengatakan saat kamu secara diam-diam membuatku terpukau. Maaf.
Sekali lagi kukatakan padamu, kali ini secara lisan: Tia, kamu Seksi J

Cerita-Cerita Kecil Menuju Harapan
Pertemuanku dengan Tia membuat orang tuaku kaget, apalagi setelah aku mengajak Tia main ke rumah. Ibu seolah tak percaya.
“Masak sih ini Tia..?” kata Ibu memandangi Tia agak lama.
“Iya, bu, ini Tia anak Pak Hasan.” Kataku menyahut.
“Ah, ibu nggak percaya, coba ibu tanya”
Tia hanya tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya.
“Tia, Ibumu masak apa?” tanya ibu membuatku heran.
Tia melihat ibu lalu tersenyum dan menjawab dengan cepat.
“Masak terong dan goreng ikan asin!”
“Apa?
“Masak terong dan goreng ikan asin!!” kata Tia dengan nada meninggi.
Setelah itu Tia tertawa, ibu juga tertawa dan mereka berpelukan erat. Aku baru ingat, pertanyaan itu sering diucapkan ibu untuk menggoda Tia waktu masih kecil. Tia selalu menjawabnya dengan jawaban yang selalu sama dan bernada sebal, karena ibu selalu mengulang pertanyaannya. Kemudian terjadi percakapan hangat antara ibu dan Tia. Ibu menanyakan kabar Pak Hasan dan Bu Hasan yang sekarang tinggal di Klaten. Ibu bercerita kalau ayah sudah meninggal dunia dua tahun lalu dan tentang kakakku yang sekarang bekerja di Surabaya.  Aku memberitahu ibu, Tia sekarang tinggal di rumah Neneknya di Jogja. Ibu nitip salam buat keluarga Tia. Aku berharap ibu bahagia jika aku pacaran dengan Tia. Ibu terlihat sayang pada Tia. Aku juga berharap Tia membuatku bersemangat untuk menyelesaikan skripsiku yang sudah dua tahun terbengkalai.  
***
Menjelang siang di bulan Maret, aku dan Tia pulang kuliah jalan kaki menuju rumah Nenek Tia. Langit yang cerah, tiba-tiba mendung, rintik gerimis turun perlahan. Aku dan Tia melihat langit, lalu kami berpandangan dan tersenyum seolah bersepakat untuk tidak berteduh. Berdua berjalan santai membiarkan gerimis yang diam-diam membasahi baju dan tubuh kami. Beruntung tas kami terbuat dari bahan anti air. Aku dan Tia menikmati perjalanan hari itu, bercakap-cakap di sepanjang jalan di bawah gerimis yang lembut. Tentu saja sambil tertawa-tawa, kadang menertawai orang-orang yang kerepotan mengenakan mantel di tepi jalan. Berdua bergandengan hingga sampai ke rumah nenek Tia dengan basah yang menggembirakan. Hati kecilku bebisik pelan: terimakasih Tuhan,  telah menghadiahiku gerimis seperti ini. Aseekk…deh…
Sesampai di beranda rumah, Pak Hasan dan Bu Hasan menyambut dengan senyuman dan geleng-geleng kepala.
“ Duh…kalian itu sadar nggak sih kalau sudah dewasa? atau mau nostalgia masa kecil?” kata Bu Hasan dengan nada sedikit jengkel.
“Iya bu, sadar kok…” balas Tia sambil menaruh tas di kursi beranda.
“Udah sana langsung ke belakang jangan sampai ketahuan Nenek.” Sahut pak Hasan.
Sementara aku agak kikuk dengan kejadian itu, sungguh malu sekali rasanya. Aku tak menyangka kalau orang tua Tia datang ke Jogja. Tia menggandeng tanganku ke kamar mandi lewat pintu belakang. Kuucapkan kata permisi dengan agak gerogi pada orang tua Tia. Kuharap pak Hasan dan Bu Hasan memaklumi kejadian ini.
“Lho, Lanang sudah bawa pakaian ganti?” kata Bu Hasan.
Aku menjadi tambah kikuk, aku dan Tia menghentikan langkah.
“Tia, nanti Lanang dipinjami baju ayah, ambil di almari lama.” Lagi Pak Hasan menyahut.
“Waduh..terimakasih Pak…” ucapku lirih.
“Ayo cepet!” Tia menarik tanganku.
Aku segera akrab dengan keluarga Tia. Bu Hasan sering bercerita padaku tentang Tia dan tentang kakaknya yang bekerja di Jakarta. Pak Hasan juga sering bercerita tentang burung-burung piaraannya. Bu Hasan da Pak Hasan menanyakan kabar ibu, dan berencana bermain ke rumahku. Duh…aku merasa diterima di tengah  keluarga Tia.
***
Suatu hari Tia bercerita padaku tentang kisah cintanya yang selalu ia sembunyikan pada siapapun, juga keluarganya. Tia pernah pacaran dengan cowok sekelasnya sewaktu SMA dan kakak angkatannya di kampus, tapi keduanya berakhir dengan alasan yang sama: sudah tidak cocok lagi. Aku tak menanyakan perihal ketidakcocokannya, hanya kudengarkan saja semua ceritanya. Kadang di sesela cerita aku mencium kening Tia saat dia menundukkan kepala.
“Hmm…Tia, aku suka nonton film kartun Tom and Jerry, Kamu suka?”
Tia terdiam tiba-tiba, mungkin dia merasa jengkel karena aku seperti akan mengalihkan tema ceritanya. Mungkin ia mengira aku malas mendengarkan ceritanya, tapi segera kujelaskan tentang falsafah film kartun itu. Tom dan Jerry, sepasang tokoh kucing dan tikus yang tak pernah cocok, tapi mereka menjadi sepasang tokoh yang seru. Tokoh yang menghibur diri sendiri dengan ketidakcocokkan. Tokoh yang banyak akal karena terinspirasi dari ketidakcocokkan. Tokoh yang membuat dunia mereka menjadi ramai karena “tidak cocok”. Aku yakin jika tak ada Tom pasti Jerry kesepian, begitu juga Tom pasti akan resah dan merasa kehilangan jika tak ada Jerry. Jadi mengapa harus putus hanya karena tidak cocok? Aiihh, aku ini….diam-diam aku berdoa, semoga Tia tidak bertanya mengapa aku putus dengan pacar-pacaraku. Aku khawatir akan kujawab: sudah tidak cocok lagi. Tia tersenyum lebar lalu meremas lembut jari-jari tanganku.
Aku dan Tia duduk berdua di sebatang pohon Jambu yang baru tumbang di belakang rumahku. Kami bercerita tentang banyak tentang sambil melihat bulan yang bulat penuh. Tia berbisik padaku, “Nang, kita akan saling bercerita hingga kita sama-sama tua kan?” Aku menoleh, kupandangi mata Tia dalam-dalam lalu kuberbisik padanya, “Iya Tia, kita akan bercerita hingga sama-sama tua.”
Ujung bibirku menyentuh daun telinga Tia, tepat ketika seekor nyamuk menggigit leherku.

Jogjakarta, Maret 2012

Minggu, 23 Oktober 2011

Lounching Purwokerto


Metafora Mawar & Beberapa Referensi Poetis[1]

Oleh Abdul Aziz Rasjid[2]

I
Seorang anak Sekolah Dasar (SD) yang dikenal berperangai baik di lingkungan ia tinggal, tiap pulang dari sekolah acapkali menyempatkan diri mencuri bunga mawar yang berjajar rapi di halaman rumah salah satu tetangganya. Nama anak itu, Galuh. Dia dikenal pemberani, rajin, dan pendiam oleh pencerita akuan (first person narrator) dalam cerpen “Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar” (selanjutnya akan disingkat GSMBM) yang ditulis oleh Andy Sri Wahyudi (ASW)[3].
Pencerita akuan, yang disampaikan oleh ASW sebagai “Aku” dalam cerpen GSMBM terlibat langsung sebagai first person participant narrator dalam peristiwa tercurinya bunga-bunga mawar milik ibunya. Keterlibatan ini ditandakan oleh dua hal: 1). Aku melihat dengan matanya sendiri saat Galuh setiap pulang sekolah mencuri bunga mawar milik ibunya, 2). Aku melihat reaksi ibunya yang marah, jengkel, penasaran bahkan sampai bolos kerja untuk seharian mengintip dari jendela ruang tamu demi mengetahui identitas pencuri bunga mawarnya.
Tapi, sebagai satu-satunya saksi, aku memilih geming, ia tak pernah bercerita bahwa Galuhlah yang mencuri bunga mawar milik ibunya. Hanya pada satu kesempatan, aku pernah berniat mengejar Galuh saat ia terlihat sedang memetik dua mawar di halaman rumahnya. Sayangnya, niat itu tak menjadi kenyataan, sebabnya: Galuh telah berlari memasuki rumahnya. Akhirnya, aku berdiam dalam rumah, menilik suara batinnya yang diliputi pertentangan deskriptif antara sikap positif yang diperlihatkan Galuh pada publik dan perilaku negatif Galuh yang aku ketahui secara pribadi. Dan aku pun menguraikan pertanyaan dalam hati: …bukan hanya aku, semua tetangga juga tahu kalau Galuh anak yang baik. Aku tidak tahu, mengapa Galuh mencuri mawar-mawar ibu?” (h. 61).
Singkat cerita, penyelesaian lalu dikisahkan oleh ASW dengan cara Galuh mengakui serta meminta maaf bahwa dialah yang mencuri bunga-bunga mawar. Secara keseluruhan, ending yang dipilih ASW ini menyelesaikan konflik batin para tokoh sebab di satu sisi mengakhiri reaksi jengkel, marah, dan penasaran yang meliputi tokoh ibu. Sedang di sisi lain, juga menjawab pertanyaan aku: Galuh mencuri bunga mawar ibu untuk diletakkannya di atas televisi sebab setiap hari ia melihat orang mati di televisi.
Dalam cerpen GSMB itu, secara pribadi saya mendapati tiga hal yang saya kira penting: 1). Peristiwa tercurinya bunga-bunga mawar jelas dibangun sebagai pusat peristiwa atau dengan kata lain menjadi inti dunia teks yang dibangun oleh imaji pengarang, 2) Orang mati di televisi adalah dunia di luar teks sebab kebenaran faktualnya dapat dicek secara empiris (referensi ostensif), 3). Kebiasaan Galuh mencuri bunga mawar untuk diletakkannya di atas televisi karena setiap hari ia melihat orang mati di televisi adalah referensi poetis, sebab secara tekstual reaksi galuh adalah dunia tersendiri, dunia potensial sebuah teks, yang dibangun dengan cara memuat suatu keunikan pribadi seorang tokoh dalam deskripsi sikap dan ekspresi tertentu yang berbeda dengan reaksi umum kebanyakan orang ketika setiap hari melihat orang mati di televisi. 
Maka, akhir peristiwa yang menyibak motif Galuh mencuri bunga mawar untuk diletakkannya di atas televisi karena setiap hari ia melihat orang mati di televisi dapat dipahami pula sebagai metafora, karena secara tekstual memuat karakter ganda sebagai peristiwa dan makna. Makna ini berpusat pada latar material cerpen berupa bunga mawar yang memiliki rujukan pada realitas berupa orang-orang mati di televisi. Secara lebih mudah, saya ingin mengatakan bahwa bunga mawar hendak menyatakan sesuatu (tindakan lokusioner) yang telah diekspresikan tokoh Galuh lewat sebuah aksi berupa peletakan mawar di atas televisi (tindakan ilukosioner) sebagai reaksi tersendiri Galuh melihat bahwa setiap hari ada orang mati di televisi.
Pertanyaannya kemudian, apakah identifikasi makna yang dimuat oleh bunga mawar dalam cerpen GSMBM? Secara definitif mawar adalah tanaman perdu suku Rosaceae, yang meliputi ratusan jenis, tumbuh tegak atau memanjat, batangnya berduri, bunganya beraneka warna, seperti merah,putih, merah jambu, merah tua dan utamanya tersohor berbau harum. Secara jangkauan potensi konotasi (makna tertentu yang oleh seseorang atau suatu kelompok diberikan pada suatu kata) secara umum karakter mawar yang berwarna-warni, harum, merekah, seringkali dikaitkan atau lazim diterima sebagai ekspresi luapan kebahagian. Sekadar sebagai contoh, kelaziman ini terungkap dalam potongan sajak “Kuungkapkan Lewat Bunga”[4], yang ditulis oleh Sitok Srengenge di Candikuning pada tahun 1989:

Mawar dua warna
Kembang sepatu Cuma Satu
kupetik untukmu

Merah kembang sepatu menjadi semangat
Harum mawar menjadi kemesraan
Engkau menciumnya mesra
“cinta kita lebih wangi…”

Tapi, makna mawar dalam cerpen GSMBM memiliki jangkauan konotasi yang berbeda dengan potensi konotasi mawar secara lazim, sebab secara tekstual mawar hadir sebagai interaksi terhadap orang-orang mati yang Galuh lihat setiap hari di televisi sehingga dimungkinkan mawar memuat ekspresi yang lebih berkaitan dengan kepedihan.
Dari tawaran pembacaan sederhana atas cerpen GSMBM pada bagian I esai ini[5], dengan perulangan yang akut saya ingin menyatakan bahwa laku Galuh mencuri bunga mawar untuk diletakkannya di atas televisi karena setiap hari ia melihat orang mati di televisi memenuhi contoh kategori sastra yang dikonsepsikan oleh Dilthey (dalam Kleden, 2004) bahwa sastra menerapkan pendekatan ideografis secara par excellentiam, yaitu mengolah hal-hal yang spesifik dan unik dan menghindari pendekatan nomologis yang cenderung jatuh pada generalisasi.
Rasa kepedihan melihat orang-orang mati di televisi, mungkin berdampak pada banyak orang yang lantas menangis, marah, memilih mematikan televisi atau asyik membicarakannya di warung-warung kopi. Tapi dunia tekstual yang diciptakan ASW berbicara lain pada kita, peletakan mawar di atas televisi sebagai referensi poetis ini, menghadapkan pembaca pada situasi baru, makna baru yang menguak kepedihan massal kuantitas hilangnya (kematian) manusia di wilayah publik (terwakilkan lewat tayangan televisi ―entah lewat kekejaman perang, kelaparan&kemiskinan, bencana alam, dan sebagainya) yang cenderung diabaikan banyak orang dengan pembandingan kepedihan personal kuantitas hilangnya (tercurinya) bunga-bunga mawar sebagai kepemilikan domestik (benda-benda yang disayangi, dirawat, dikoleksi) yang bagi tak jarang orang ternyata lebih menimbulkan kesedihan berlarut-larut..

II
Cerpen GSMBM termuat sebagai salah satu cerpen sekaligus menjadi judul buku yang memuat 14 cerpen ASW yang lain. Cerpen-cerpen lain dalam kumpulan ini, pada hemat saya, beberapa di antaranya memiliki keunggulan dalam pemilihan referensi poetis yang membuka kemungkinan identifikasi makna baru pada suatu latar material yang berinteraksi dengan referensi ostensif  yang memiliki kebenaran secara faktual.
Tapi, ada perbedaan tipikal literer yang dilakukan oleh ASW. Bila pada Cerpen GSMBM interaksi referensi poetis dengan referensi ostensif dibangun dalam dunia tekstual dengan intensitas konflik batin para tokoh dalam satu peristiwa yang dilontarkan pencerita akuan tanpa menjelaskan biografi tokoh utama dengan detail; pada cerpen bertajuk “Sri”, “Seribu Patungku dan Sumpah Serapahku Kepadamu”, “Mencari Galuh” dan “Lorong Gelap” interaksi referensi poetis dengan referensi ostensif dibangun lewat deskripsi biografi yang membentang dari masa kanak hingga dewasa lewat sudut pandang pencerita diaan semestaan (third person narrator), sehingga secara tekstual intensitas konflik batin para tokoh berjalan tahap demi tahap.
Empat judul cerpen yang telah saya sebut di atas, tidak semuanya akan saya bicarakan secara menyeluruh, alasan saya: keempatnya diolah dengan tipikal literer yang sama dan hanya memiliki perbedaan dalam ranah referensi poetis. Dalam cerpen “Seribu Patungku dan Sumpah Serapahku Kepadamu” dunia potensial sebuah teks dibangun lewat biografi Setyawati dimana alur sorot balik (flashback) mengkisahkan pembangunan monumen-monumen yang disatu sisi menjadi simbolisme penaklukan namun lantas didekontruksi menjadi simbolisme perlawanan.
Dalam cerpen “Mencari Galuh” dunia potensial sebuah teks dibangun lewat interaksi antara biografi burung elang yang mengamati lalu menceritakan biografi manusia, keduanya diliputi dengan akutnya kerinduan yang lantas dicairkan dengan terbang menuju tempat-tempat yang belum terjamah manusia, secara pribadi saya kira cerpen ini lebih didominasi referensi poetis dan tidak begitu terbebani oleh referensi ostensif.
Dalam cerpen “Lorong Gelap” dunia potensial sebuah teks dibangun lewat biografi Mahli dalam mencari jasad ayahnya yang mati ditembak serdadu pasukan perak. Pencarian ini saya kira berpotensi untuk membuat pembaca mengindentifikasikan peristiwa diculiknya ayah dan tetangga Mahli dengan kejadian pembantaian orang-orang yang dianggap terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) di akhir tahun 60-an. Tapi, apapun itu ada satu message yang nampak jelas dalam dunia tekstual cerpen “Lorong Gelap” ini, ketika Mahli mengurungkan niatnya untuk menguburkan jasad ayahnya secara manusiawi, Mahli menyatakan bahwa tak kan pernah ada kata “secara Manusiawi” bagi ayahnya juga tetangga sekampungnya.  
Sedang dalam cerpen bertajuk “Sri”, tiba-tiba saja saya ingin membicarakannya dengan sedikit cerewet. Sampai saya menulis pada pertengahan bagian II esai ini, saya hanya mempunyai alasan ini: Lebih karena selera pribadi yang tertarik pada referensi poetis sosok Sri yang bersikap tak akan pernah lagi memakai kutang yang secara tekstual mengingatkan saya pada dunia imajinasi Rendra, dalam “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”[6], sebuah sajak dari tahun 1967:

Ambillah galah.
Kibarkan kutang-kutangmu di ujungnya.
Araklah keliling kota
sebagai panji-panji yang telah mereka nodai.
Kini giliranmu menuntut.

Secara tekstual, sikap Sri yang menanggalkan latar material kutang dan anjuran Rendra agar pelacur-pelacur kota Jakarta mengibarkan kutang-kutang di ujung galah memuat karakter ganda sebagai peristiwa dan makna yang memiliki keserupaan, bahwa tubuh perempuan telah terhina oleh zaman yang selalu dimenangkan para penguasa dan dunia potensial teks ingin memberi alternatif bahwa tubuh perempuan sepenuhnya dapat menjadi sikap perlawanan. Meski metafora menanggalkan kutang, kini telah dibicarakan oleh ASW dan Rendra lewat kesamaan teknik penyimpangan makna kutang yang sudah dibakukan untuk dialihkan sebagai pesan perlawanan, tapi saya kira metafora keduanya tak jatuh sebagai dead metaphor.
Oleh karena itu, cerpen “Sri” tetap berdiri utuh untuk menceritakan biografi diri seorang perempuan yang sedari awal kelahirannya dipenuhi kisah-kisah pedih: seorang anak yang ditinggal mati bapak dan ditinggal minggat ibu, selain itu Sri mewarisi dosa politik sebab kakeknya dianggap terlibat organisasi terlarang. Cerpen “Sri”, lalu berkembang lewat deskripsi bagaimana ia tumbuh sebagai gadis yang berparas molek, hidup berdua bersama neneknya dengan berjualan jamu, dimana riwayat politik sang kakek menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang menyempurnakan nasib malang dalam perjalanan hidup ―tak ada pemuda yang mendekati Sri, masyarakat menjaga jarak dengan nenek Sri bahkan jamu nenek Sri dituduh berefek samping buruk, tidak memiliki izin departemen kesehatan sehingga Pak Lurah hanya memberikan izin berjualan di malam hari, dan itupun disertai tenggat waktu.
Sebagai latar tempat, area nenek Sri berjualan jamu menjadi panggung utama terbentuknya alur cerita., Area nenek Sri berjualan nantinya berkembang sebagai pasar tiban dimana Sri melanjutkan berjualan jamu selepas neneknya meninggal. Area ini, sekaligus menjadi area berinteraksinya rasa afeksi juga hasrat pak lurah (wakil penguasa berhidung belang) yang jatuh hati pada kemolekan tubuh Sri.
Sedang pada pucuk konflik, yang sekaligus merupakan segi referensi ostensif  juga sindiran pengarang menguak strategi penguasa yang secara licik berusaha menggusur pasar tiban dengan membentuk issue bahwa area pasar telah menjadi tempat perjudian, Sri sebagai wakil masyarakat yang termaginalkan dan pak Lurah sebagai wakil penguasa yang bervisi bahwa pembangunan berpangkal pada penaklukan sebagai syarat utama untuk terkumpulnya modal komunal.saling bersitegang dan saling berhadapan. Dalam situasi saling bersitegang inilah, Sri bertindak nekat melepas pakaian dan mencopot kutangnya lalu dilemparkan ke muka Pak Lurah sambil berteriak, “Pengecut! Picik! Licik! Tak pantas Hidup!!! Dan sejak peristiwa itulah Sri tak pernah memakai kutang lagi.

III
Pada bagian I dan II esai saya di atas, berdasarkan lima cerpen ASW yang termuat dalam kumpulan Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar, saya telah mencoba-coba membuat semacam kategori atas cerpen-cerpen ASW dengan pertimbangan kekhasan stretegi tekstual berupa pengolahan referensi poetis dan jangkauan konotasi yang tak lazim pada latar material cerpen. Pada bagian III ini, saya akan beralih membicarakan hal-hal lain yang berkaitan dengan beberapa cerpen ASW yang belum sempat saya bicarakan.
Dalam cerpen “Arjuna di Bawah Hujan”, cerita bermula lewat sudut pandang pencerita diaan semestaan yang mengikuti perjalanan Arjuna dengan bertindak maha tahu akan perasaan-perasaan yang meliputi sang tokoh semacam kerinduan pada Rara Ireng, atau keresahan akan kekuasaan, bahkan kemahatahuan ini dilengkapi awalan penggambaran kuantitafif semacam ini: siang ke seratus telah ia lewati dengan keresahan yang tak kunjung padam (hlm. 96). Tetapi pada ending cerita, kemahatahuan pencerita luluh sebagai teks yang self-conscious (sadar diri), dimana sang pencerita mengakui telah malas mengikuti perjalanan Arjuna sebagai tokoh dalam cerpennya. Sehingga yang tinggal adalah cerita perjalanan Arjuna sendiri, dan berpotensi tanpa akhir, sebab status fiksional teks telah dibebaskan untuk membangun alurnya sendiri, namun potensi ending tetap ada asal terdapat keterlibatan prediksi-prediksi pembaca yang lantas menkontruksikan ending tertentu lewat pikirannya.
Sedang dalam cerpen “Andaikan Aku Adalah Salju”, bentuk surat yang disisipkan dalam cerpen menduduki posisi penting. Surat membangun pokok cerita tentang ironi sepasang suami istri yang terbelit masalah keunagan, terbelit masalah perselingkuhan sehingga memutuskan untuk membuang anaknya yang bernama Salju di depan pintu sebuah rumah. Surat ini sebagai strategi literer, terjalin sebagai cerita berbingkai tentang riwayat Salju yang telah tumbuh dewasa dengan identitas nama lain diantara nama Pingki, Ficky, Agam dan Sita.  
Akhirnya, pada cerpen-cerpen semacam “ROSE”, “Menunggu Laela”, “Lar dan Sum”, “Romantika Ayu dan Kabul”, “Bahrul Si Anak Desa”, ASW mencoba menguak pelik-pelik dunia keseharian orang-orang biasa, yang memiliki riwayat tak biasa. Ada seorang lelaki berusia 80 tahun yang lebih memilih menulis puisi, menyiram tanaman dan memilih hidup lajang; ada seorang remaja yang setia menunggu pelacur di sebuah halte; ada seorang pelacur dan tukang becak yang bernasib beruntung menjadi kaya; dan ada seorang anak yang lahir di luar nikah yang mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri. Orang-orang biasa, yang memiliki riwayat tak biasa itu lalu berhadapan dengan kompleksitas kenyataan dalam situasi yang berbeda-beda, ada yang menggenaskan, ada yang menggelikan, dan ada yang membahagiakan. Kesemua ringkasan itu, saya kira menjadi penutup manis untuk menyatakan bahwa kumpulan cerpen Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar dikemas serupa buket yang dirangkai dari mawar berbagai warna. (aar)



[1] Esai ini pertama kali disampaikan dalam diskusi “Launching Buku Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar” di Auditorium Lama STAIN Purwokerto, Minggu 2 Oktober 2011 yang diadakan oleh Saga Khatulistiwa.
[2] Abdul Aziz Rasjid, Pemenang III Sayembara Esai Sastra Bulan Bahasa 2010, Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. Aktif menulis esai dan kritik sastra. Beberapa tulisannya dimuat di: Kompas, Jawa Pos, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Lampung Post, Radar Tasikmalaya, Radar Banyumas, Jurnal Yin-Yang, Majalah Sastra Littera (Taman Budaya Jawa Tengah), Buletin Sastra Pawon, dan lain-lain. Di samping itu, esai dan kritiknya juga terhimpun dalam antologi bersama semisal kumpulan esai Kahlil Gibran di Indonesia (editor: Eka Budianta, Ruas, 2010) juga menulis kata penutup buku sastra semisal buku sajak Yang, Kumpulan Sajak 2003-2010 (Abdul Wachid B.S., Cinta Buku, 2011). Ia menjadi pengajar di Sekolah Kepenulisan STAIN Purwokerto (2010-sekarang), sembari bergiat di Komunitas Sastra Beranda Budaya.
[3] Cerpen “Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar” ini terhimpun dalam buku kumpulan cerpen Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar  (garudhawaca:2011) yang merupakan buku perdana Ady Sri Wahyudi. Buku ini diberi kata pengantar oleh Afrizal Malna dan bernomor ISBN: 978-979-18632-6-1.  Versi digital cerpen ini dapat dibaca di blog Andy yang beralamat berikut: http://andyswahyudi.blogspot.com/2011/04/galuh-suka-mencuri-bunga-mawar.html
[4] Sitok Srengenge, Persetubuhan Liar (Jakarta: Condet, 1992, hlm. 35)
[5] Tawaran pembacaan dalam esai ini banyak merujuk pada penerapan gagasan teoritis yang berkaitan dengan  cara kerja metafora, penulis memanfaatkan bab khusus “Metafora dan Persoalan Utama Hermeneutika” yang ditulis Paul Ricoeur dalam buku Hermeneutika Sosial (Kreasi Wacana. 2008). Di sana-sini penulis juga memanfaatkan penerapan hermeutika dalam membaca teks saatra yang banyak ditulis di esai-esai Ignas Kleden yang terkumpul dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (Grafiti. 2004). Tapi penulis belum bisa mengatakan bahwa esai ini merupakan tawaran pembacaan hermeneutika, karena sebab beberapa keterbatasan pembacaan ini belum menerapkan disiplin ilmu hermeneutika dengan sangat ketat.
[6]  Rendra, sajak “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”, dalam Hary Aveling, Rahasia Membutuhkan:Kata Puisi Indonesia 1966-1998 (Magelang: IndonesiaTera, 2003. Hlm. 26)

Minggu, 09 Oktober 2011

Berita Cerpenkuh...

"Galuh meminta maaf pada ibu. Galuh mengaku, tiap pulang sekolah ia mencuri bunga mawar ibu, lalu meletakkan bunga mawar itu di atas televisi, karena setiap hari Galuh melihat orang mati di televisi."

MAKNA kehilangan dalam kehidupan manusia hingga kini ternyata memiliki sisi yang penuh tafsir dari ruang lingkupnya. Kisah dalam nukilan yang dikutip dalam cerpen berjudul "Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar" tersebut mencoba mengajak pembacanya untuk tidak memaknai kematian hanya dalam lingkup domestik, tetapi juga secara universal.

"Dalam konteks tersebut sebenarnya bisa dikatakan sastra menguak dunia. Karena pemaknaaan kehilangan pada sisi ibu dan Galuh memiliki ruang lingkup yang berbeda. Dan disinilah menjadikan ciri yang menarik dari antologi cerpen "Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar" karya Andy," urai esais muda Banyumas, Abdul Aziz Rasjid dalam bedah antologi Cerpen "Galuh Suka Mencuri Bunga Mawar" di Auditorium Lama STAIN Purwokerto, Minggu (2/9).

Selain itu, Abdul Aziz, juga mengungkapkan pemaknaan mawar yang digunakan menjadi simbol menarik karena identifikasi bunga tersebut selama ini selalu digambarkan sebagai ungkapan kebahagiaan. Tetapi, lanjutnya, jangkauan konotasi dalam cerpen tersebut mengandung arti baru yang unik dan menarik sebagai referensi poetis.

"Dunia tekstual yang diciptakan Andy berbicara lain pada kita, kreativitas yang unik dalam cerpen tersebut menghadapkan pembaca dalam situasi baru, makna baru yang memungkinkan pembaca menyelami yang tersirat dalam kuantitas kematian manusia," ungkapnya.

Sementara itu, Andy Sri Wahyudi dalam pemaparannya mengemukakan, dalam antologi cerpen kali ini cenderung menggunakan gaya bercerita dalam dunia anak-anak. Karena dalam dunia anak-anak lebih jujur untuk mengungkapkan sesuatu. Selain itu, referensi dari dunia panggung pertunjukan dan pertemuan dengan benda menjadi salah satu unsur penting dalam penulisan cerpennya.

"Pada kehidupan masyarakat saat ini, media tampak sekali mengangkat kesedihan dan duka manusia menjadi satu unsur hiburan. Ungkapan Galuh yang digambarkan menaruh bunga mawar dia atas televisi dalam teks tersebut menjadi salah satu pemaknaan dalam dunia anak-anak yang jujur," paparnya.

Dalam menulis, Andy yang juga menjadi koordinator dalam Bengkel Mime Theatre, memilih untuk tidak menyepi. Dia mengemukakan cerapan dalam karya antologinya tersebut didapatnya dari dokumentasi visual pada peristiwa yang mengangkat tema-tema marjinal untuk diapresiasi. "Dokumentasi visual kecil (dalam cerpen) ditujukan agar ada greget apresiasi dan meyakini dunia tidak diam," ucapnya.

Pada konteks tersebut, Aziz juga mengemukakan, strategi penulisan cerpen karya Andy SW tersebut sebenarnya sangat baik untuk dijadikan referensi penulis di Banyumas. "Dunia prosa dan sastra di Banyumas yang sepi diharapkan bisa menunjukkan geliatnya. Dengan referensi penulisan yang digunakan Andy, sebenarnya bisa menjadi referensi menarik untuk penulis di Banyumas," tuturnya.

Acara yang menghadirkan pembicara Abdul Aziz Rasjid, Andy Sri Wahyudi dan dipandu penulis serta esais berbakat, Dwi Cipta tersebut menjadi seri penutup "Purwokerto Pantomime Series 2011" yang diselenggarakan Saga Khatulistiwa bekerjasama dengan Suara Banyumas-Suara Merdeka dan Bengkel Mime Theatre. (Chandra Iswinarno)

*Pernah dimuat Suara Banyumas-Suara Merdeka Selasa, 4 Oktober 2011
 

Selasa, 13 September 2011

Cerpen Ahay...


Di Sungai Waktu Itu
Sebuah Surat cinta

Suatu kali aku mengajakmu berjalan menyusuri sungai dari siang yang mulai pudar  hingga langit berwarna oranye. Sungai yang berliku seperti sejarah setiap kehidupan. Entah apa yang kamu rasakan waktu itu. Sepertinya kita tak pernah lelah meski keringat bercucuran dan jari-jari kaki memohon-mohon untuk diam sebentar. Kamu tahu mengapa kita terus melangkah? Sebab langkah itu seperti perasaan, ia berjalan sendiri, kadang menggelinding meninggalkan semua kompromi. Tak ada yang mampu mengalahkannya, kalaupun ada pasti sedang terjadi konspirasi antara Iblis, Malaikat dan Tuhan. Ah, biarkan saja. Biarkan ia tetap bernama perasaan. Jangan kamu tambahi nama keluarga, nama marga atau nama baptis ataupun nama Arab. Biarkan ia bangga dengan namanya sendiri.
Aku masih ingat waktu itu di bulan Februari, bulan pertama setelah aku menyatakan cinta padamu. Cinta yang selalu berkibar-kibar dan telanjang. Kita sudah berjanji sebelum melangkah pertama kali. Di jalan nanti kita tidak boleh jajan sembarangan karena tidak baik untuk kesehatan. Jika melihat burung jangan bertanya mengapa ia bisa terbang, jangan bertanya mengapa ikan-ikan bisa berenang, jangan bertanya berapa centi meter loncatan katak. Biarkan saja, kita tinggal melihat dan percaya pada irama semesta. Kelak kita pasti akan mengerti. Tapi kalau tersesat boleh bertanya pada pohon-pohon atau debu-debu yang mampir di pori-pori kita, karena pohon dan debu tak pernah berbohong. Pasti akan ada jalan yang  membawakan arah untuk kita. Yupz! Kita melangkah…
Perjalananan ini seperti cerita legenda yang di dalamnya memuat pesan dan peristiwa, juga ada puisi di sesela percakapan nanti. Kita hanya berdua tak ada masyarakat dan agama yang menemani sepanjang jalan, hanya ada dua liter air bekal perjalanan. Kata Kakekku berdua itu lucu, berdua itu berpikir, berdua itu berjuang, berdua itu bertengkar, berdua itu pilihan, berdua itu bajingan juga. Jika ingin sendiri cabutlah rumput lalu dekatkan ke telingamu, pasti dia akan berbisik: kembalilah padanya, peluklah dia dan berbaik-baiklah. Atau kalau kamu tak percaya pada rumput dekatkan telingamu pada ilalang, perdu, belukar atau serangga atau apa saja, pasti mereka akan berbisik sama seperti bisikan rumput. Kalau kamu tetap besikeras ingin sendiri dan menjauh dari bisikan semua mahkluk Tuhan itu, maka air sungai dan angin akan selalu berbisik padamu. Kamu tahu mengapa aku yakin semua bakal berbisik padamu? hihiiiihiii…karena mereka juga pernah berbisik padaku. Mereka semua sahabatku, juga sahabatmu. Mereka tak mau melihat kita berpisah, semua mahkluk Tuhan menyayangi kita. Percayalah.
Berjalan itu menyusun keberanian kecil dalam dada kita. Keberanian yang nanti akan menjadi bukit dan gunung-gunung…

di bawah matahari sore by: Sang







Di Kelokan Pertama
Aku melihat seekor burung kecil terbang mengejar kawanannya yang terbang jauh meninggalkannya. Suara cicit burung kecil itu sungguh lucu, membuatku teringat masa kecil dulu ketika pagi tiba, ketika aku terbangun dan merasakan sepi yang aneh. Tak ada suara radio atau suara ayah ibuku  hanya suara daun jendela yang bergerak kecil membentur-bentur kusen lantaran tertiup angin pagi. Aku sendirian dan perutku lapar sekali. Aku memanggil ayahku, aku memanggil ibuku tapi tak ada yang datang. Meoong…kulihat kucingku di kolong tempat tidur menghabiskan nasi kering sisa makannya kemarin. Aku keluar rumah lewat pintu belakang mencari ayah ibuku. Kutanyakan pada tetangga sebelah, kemana ayah ibuku pergi.
“Ayahmu kerja sejak pagi pukul lima, ibumu...hmm…ibumu hilang dicuri Jin semalam,” kata tetanggaku dengan santai. Aku terkejut, aku bersedih, mataku berkaca-kaca. Kutinggalkan tetanggaku. Aku menangis sambil kupanggil ibuku. Ibu..ibu..ibu..lalu aku berlari mencari ibuku di sepanjang jalan sambil terisak-isak. Isakanku hampir mirip seperti cicit burung yang terbang sendirian itu.
Hey…! Ayo lekas jalan!” teriakanmu  menyadarkanku dari lamunan. Rupanya kamu membiarkanku berhenti mengamati burung kecil itu.
Sementara sungai masih mengalir dan airnya tak pernah habis. Sungai yang kita susuri bukan sungai episodic[1] atau ephemeral[2] melainkan sungai permanen yang airnya tak pernah surut. Ia mengalir dari jaman ke jaman, mencipta ekosistem yang harmonis. Sebuah kehidupan yang selalu ramai. Tak pernah ada yang merasa sepi di dekat sungai, seperti kita saat ini.
Tidakkah kau tahu, peradaban dunia dimulai dari sungai? Sebab sungai seperti ibu bagi kehidupan. Maka di kelokan pertama ini ingin kukatakan padamu: kita akan membangun sebuah peradaban mini buah tangan kita sendiri.
Kita melangkah mengikuti jalan setapak di atas kelokan sungai yang airnya mengalir tenang…

Di Kelokan Kedua
Hujan datang tiba-tiba, ia tidak SMS dulu atau setidaknya berteriak dari atas agar kita lebih santai mencari tempat berteduh yang nyaman, tak perlu berlari mencari pohon rimbun. Sungguh gerombolan hujan yang tidak sopan. Yah, setiap gerombolan memang tidak sopan dan sembarangan. Ia turun di saat yang tak tepat, saat yang begitu menyenangkan dan menenangkan. Segera kugandeng tanganmu dan kuajak berlari untuk berteduh. 
Di bawah pohon, kita melihat hujan yang usil dan sesekali tempias air mengenai baju dan kulit kita. Aku berdiri dibelakangmu dan kulingkarkan kedua tanganku ke pinggangmu, secara reflek kedua tanganmu meraih pergelangan tanganku. Biarkan orang lewat membatin kita seperti model kalender tahun delapan puluhan. 
Kita tak banyak bercakap lantaran mata kita terlalu asyik melihat hujan yang jatuh membrondong sungai. Kecipak air hujan seperti melukis ornamen kemarahan di permukaan sungai. Jika kamu tahu, sungai tengah melukis dirinya sendiri agar tak hanya mengalir tenang tapi sewaktu-waktu ada deras dari dalam dan luar dirinya. Sejatinya air hujan yang marah itu kembali pada asal-usulnya. Ia larut menjadi aliran dan menghidupkan tubuh sungai menjadi gerak yang lincah. Sungai selalu menerima apa yang akan dihadapinya sebab ia tahu semua yang berasal dari dirinya akan kembali ke dalam dirinya meski dalam bentuk yang berbeda. Seperti sedih, kecewa, cemburu, luka, bahagia dan apa saja yang sewaktu-waktu datang menyambangi kita dalam bentuk yang selalu baru. Dan kita harus meyakini seperti sungai, menerima dan mengolahnya menjadi bagian dari tubuh kita. Tubuh yang berhias peristiwa.
Tenanglah hujan tak menjadi hambatan dalam perjalan ini. Ia akan turun sebentar sebab matahari masih bersinar dan di langit tak ada mendung. Memang aneh, tapi senyatanya terjadi, Nenek menamainya hujan tokek.
Hujan berhenti menyisakan gerimis yang malas dan jalan yang sedikit becek. Aku menggandeng tanganmu berjalan sambil melompati genangan air.
“Hati-hati! Jangan meloncat sebelum aku siap meloncat.” Pesanmu padaku.
“Maafkan aku ya, aku sudah memperhitungkan setiap loncatan kita tapi jalannya terlalu licin hingga membuatmu terpeleset. Hiihhii…tidak,  kamu tidak jatuh seluruhnya sebab tanganku masih sempat meraih tubuhmu untuk berdiri, hanya kaki kananmu saja yang menyentuh tanah dan menjadi kotor lantaran tanah basah itu menempel di celana dan kulitmu. Ah, tak apalah  hanya sedikit kotor tanah becek yang  melekat di kulit dan celana, nanti kita cuci di pinggir sungai tapi biarkan saja kotoran masih melekat meski sudah kita basuh dengan air. Mmm… Kadang kita memang harus bersahabat dengan ke-kotor-an agar lebih mengenali untuk berjuang menjadi bersih. Dan setelah bersih nanti pasti banyak kotoran lain akan mendekati kita. Jangan bersedih, ingat! Mereka telah menjadi sahabat kita.” Cerewetku kepadamu.
Aku menggandengmu lebih hati-hati dalam perjalanan, tanganmu erat sekali menggenggam tanganku. Demikian juga aku.

Di Kelokan ke Ketiga
Di tepi sungai setelah membersihkan celana panjang dan telapak kaki dengan basuhan air, kita melihat sesuatu yang lucu, sesuatu yang meminta untuk didekati. Kita melihat genangan air yang jernih, pasir dan batu kerikil terlihat sangat jelas. Air dalam genangan itu jauh berbeda dengan air yang tengah mengalir di sungai. Kita berjongkok memandangi air jernih itu berlama-lama, di dalamnya ada batu krikil dan pasir hitam yang begitu tentram berdiam. Ada juga udang kecil yang bersembunyi di balik kerikil, sepasang udang yang tengah bercanda. Ketika aku hendak menyentuhkan ujung jariku, kamu melarangku.
“Jangan, nanti udangnya berubah monster. Biarkan ia menjadi udang kecil dibalik kerikil, jika ingin menyentuh sentuhlah dengan hatimu,” katamu sambil menahan tangan kananku.
Aku menoleh padamu yang masih asyik melihat sepasang udang itu.
“Jika kamu tahu, setiap kebahagiaan itu datang dari dalam hati, kamu tak dapat menyentuh atau meraba kebahagiaan. Kalau kebahagian itu berupa materi ia akan kedinginan dan kepanasan lalu lapuk atau rusak atau bisa jadi terjungkal. Biarkan sepasang udang itu bercanda dengan bahasanya sendiri, setiap mahkluk punya dunianya sendiri dan berhak membangunnya.” Aku hanya melongo melihatmu berbicara sambil terus melihat sepasang udang itu. Tiba-tiba tanganmu meraih tanganku dan mengajakku meninggalkan pinggir sungai melanjutkan perjalanan.  
Di jalan kamu masih terus bercerita tentang sebuah dunia yang pernah kamu lihat, seperti dunia sepasang udang tadi.  Dulu ketika remaja kamu pernah membenci sekolah dan keluarga, rasanya tak pernah ada yang mau mengerti dan memperhatikanmu. Hidupmu seperti angin yang ingin bertiup namun selalu saja ada dinding yang mengembalikanmu ke tempat semula. Padahal cita-citamu sangat sederhana, kamu hanya ingin punya keinginan.
Lantas kamu menciptakan duniamu sendiri yang kurasa cukup menyenangkan untuk dibayangkan. Ooww…andaikan saja kamu adalah Kanchana Ketkeaw si gadis kalajengking dari Thailand yang tubuhnya kebal dengan sengatan[3], pasti kamu sudah memilih hidup bersama ribuan Kalajengking di dalam kamar, lantaran Kalajengking lebih jujur dan nggak butuh kekuasaan atau kehormatan. Kalajengking nggak pernah takut miskin dan lebih bersahabat. Tapi kamu punya pilihan  yang lebih menyenangkan, setiap kali rumah sedang sepi kamu sering melihat rendaman air cucian piring berlama-lama. Duuuh…dalam rendaman itu kamu melihat sebuah dunia yang diam, kamu menyebutnya dunia para pertapa. Ada piring-piring yang tergeletak dan sisa nasi yang melayang-layang, juga gelas yang jatuh terkulai, dan sekumpulan minyak yang mengambang enggan menyatu dengan air meski ia dipaksa di dalam air.
Semua diam berendam dan melayang-layang seperti tengah merenung. Tapi katamu, mereka semua baik hati, piring, gelas, nasi dan minyak menjadi sahabatmu untuk bercerita tentang apapun. Mereka juga selalu menceritakan percakapan ayah ibumu. Merekalah yang membuatmu bahagia. Nasi-nasi itu mengajarimu menari untuk mengusir segala sepi. Minyak mengajarimu sebuah tekad untuk terus bertahan meski kamu berada dalam pusaran yang mengutukmu. Piring dan gelas itu seolah mengatakan padamu: berdiam dan tersenyumlah sebab esok hari selalu ada matahari yang membasuhmu dengan segala kesegaran hidup. Itulah yang dinamai keyakinan dan daya hidup.
Pelan-pelan tanganmu melepas genggamanku lalu berlari meninggalkanku.
“Heii laki-laki pemalas! Ayo kejarlah aku! Lihatlah ada jalan lurus yang akan membuat kita lebih tenang dan bisa melihat jarak yang jauh. Ayolah!” Teriakmu dari jauh di depanku.
Aku belari menyusulmu.

Jalan Lurus
Senang rasanya dapat berdekatan denganmu lagi dan ingin bercerita tentang banyak tentang…
Kamu mengajakku berhenti sebentar, haus katamu. Seperempat air dalam botol itu telah menghapus hausmu dan hausku. Wajahmu tampak kembali cerah dan segar, matamu melihat arah yang jauh dan pasti.  Jajaran pohon dan rerumputan di pinggir jalan itu begitu menawanmu.
“Siapa yang menatanya hingga seperspektif itu?” tanyamu entah pada siapa.
“Yang jelas bukan pemilik supermarket!” ku jawab dengan seloroh.
Kamu cemberut melihatku. Baiklah akan kujelaskan maksudku, bukankah sudah kubilang sejak awal bahwa pohon dan rumput itu baik hati. Mereka tak pernah berbohong seperti manusia. Mereka jujur, rasakan saja betapa pohon dan rumput bisa menata dirinya sendiri dan tak pernah mengganggu pohon yang lain. Dapatkah kamu mengimajinasikan jika kelak manusia bisa menata dirinya sendiri dan tak saling mengganggu? Maka tak pernah ada kecelakaan di jalan, tak pernah ada penindasan, tak ada korupsi dan penipuan, tak ada perang, tak perlu ada agama dan mungkin tak ada lagi dunia ini. J
Pohon dan rumput tak pernah ada kelas, mana yang tinggi dan mana yang rendah. Kita bisa menikmatinya secara bersamaan dan tak perlu memilih seperti di Supermarket, yang menata barang dengan strategi yang manis: barang yang lebih murah biasanya diletakkan di rak bawah, sementara yang lebih mahal diletakkan sejajar dengan pandangan mata[4].
Aku pesankan juga padamu di jalan lurus ini, jika ada buaya nyasar di sungai lalu naik ke atas dan mengejar kita, maka kemungkinan besar ia akan mengejar dengan cepat dan leluasa karena buaya akan bergerak lebih cepat di darat. Maka berlarilah berkelok kelok agar buaya kebingungan. Buaya akan kesulitan mengubah arah secara tiba-tiba[5].
“Buayanya kamu kan?” tuduhmu.
“Aduh, aku bukan buaya, aku ini kado dari malaikat untukmu.” Aku tersenyum melihatmu tertawa sinis padaku.
Kamu tahu? Jalan ini lurus seperti masa lalu. Ya, katanya masa lalu itu penuh lika-liku, namun sejatinya masa lalu itu terlalu lurus dan dapat kita tempuh sewaktu-waktu. Begitu cepat dan lancarnya kita bercerita tentang masa lalu sepahit dan segembira apapun meski diikuti tangis atau tawa.  Ia seperti sebuah jalan tanpa liku yang dengan cepat dapat kita telusuri. Menurutku masalalu itu mirip minyak kayu putih, karena rasanya semriwing dan membuat kita nggak masuk angin, bebas dari rasa mual dan menghangatkan tubuh. Masa lalu telah membuat serum kekebalan dalam tubuh, ia menyadarkan tentang nilai perjuangan dan cara bertahan untuk berdaya hidup.
Eh, kemarilah sebentar dekatkan telingamu kan kubisikkan   sesuatu,Cups..cups…mwahh…hihiii…”
Aku berlari setelah menciummu. Kamu mengejarku. Kita tertawa-tawa.

Bunga Rumput di sekitar Kita
by: Sang

Bendungan
Mendekatlah kepadaku, berdirilah disampingku. Lihatlah permukaan air yang sedemikian tenang seperti menyimpan rahasia yang terpendam terlalu lama. Dewi yang baik, aku ingin mengajakmu duduk di atas batu, melihat air yang mengalir sangat lamban dan mendengar suara derasnya arus yang bergemrujuk keluar dari bendungan. Suaranya membuat kita hampir tak mendengar  semua di sekeliling kita. Dewi, baru kali ini aku memanggil namamu, sebab aku ingin tak ada yang mendengarnya selain kamu. Selain telinga kita tak boleh ada yang mendengarnya, sebab jika ada yang mendengarnya pasti mereka akan memanggilmu dan kamu akan menengok. Aku tak mau ada yang mengganggu kita kali ini.
Di sini kita tengah melihat sebuah bendungan air yang diam namun menyimpan energi yang melimpah. Manusia membendung air sungai menjadi sebuah genangan yang menyuburkan tanah, menumbuhkan padi-padi, menciptakan aliran listrik yang menerangi jalan-jalan desa dan membiarkan ikan-ikan berkembang biak di dalamnya, yang kelak jika bendungan itu dibuka semua penduduk akan memanennya. Aku ingin, jadilah kita seperti bendungan yang menyuburkan, menumbuhkan, menerangi dan membebaskan. Bendungan ini diam tapi berenergi. Jika kita tak sanggup jadi bendungan, kita bisa menjadi udara yang selalu menghidupi. Setidaknya kita bisa menjadi udara untuk diri kita sendiri.
Dewi… pasanglah telinga baik-baik agar kita bisa mendengar suara di luar arus sungai, jadikan telinga kita telinga kucing yang banyak dihiasi urat saraf melebihi telinga manusia. Kita tak perlu menengok ke kanan dan ke kiri, cukup berdiam konsentrasi. Dengarlah seluruh keluh kesah sampah yang terapung-apung dan tanah yang terkikis, dengar juga dengingan serangga kecil yang mulai bersuara menyambut sore. Mereka mempunyai kisah yang tak mudah tertebak dan mengagetkan. Pejamkanlah matamu, cerita mereka akan segera mendatangimu. Setiap menit cerita itu akan berubah bahkan kadang dalam hitungan detik, sebab sewaktu-waktu tanah bisa longsor, sampah bisa menyangkut semaunya dan denging serangga akan berhenti tiba-tiba jika ada ancaman. Semua dapat berubah dengan tiba-tiba dan lepas dari genggaman tangan. Kita hanya bisa memasang telinga baik-baik untuk mendengar seluruh perubahan untuk berdiskusi dengan perubahan…
Mari beranjaklah dari batu ini, kita akan berjalan lagi. Persediaan air minum jangan dihabiskan, sisakan sedikit untuk berjaga-jaga kalau nanti tak kita jumpai mata air. Ayo!

Mata Air
Dua puluh menit sudah kita berjalan dan berdiam diri seperti sedang terjadi pertengkaran. Tidak, meskipun diam tapi tangan kita tetap bergandengan hingga keringat di telapak tangan berlekatan. Kita belum menjumpai mata air sejauh ini dan bekal minum kita tinggal satu tenggakan lagi. Bersabarlah, orang sabar pasti subur tapi orang subur belum tentu sabar. Kita mesti setia dengan perjalanan ini, jangan mudah putus asa. Mata air juga lahir dari kesetiaan ia datang dari dalam tanah setelah bertapa bertahun-tahun, lalu menyembul menjadi air yang jernih untuk kita minum nanti. Tapi aku lebih percaya bahwa mata air berasal dari keringat dewa tanah setelah ia berolah raga senam tanah. Dewa tanah selalu menjaga kesehatannya agar semua yang berada di atasnya dapat hidup dengan sehat, termasuk kita.
Aku melihat anak-anak mandi di sungai dengan riang gembira, mereka telanjang bulat. Kamu menyarankan padaku untuk bertanya pada mereka di mana letak mata air. Tentu saja dengan senang hati aku tanyakan pada anak-anak kecil itu.
Salahsatu di antara mereka menunjuk ke sebuah arah sambil berteriak , “Nang kana ana mbelik mas, jenenge mbelik swara mas![6]
Aku ucapkan terimakasih dan tersenyum melihat gaya anak kecil yang lincah dan lantang menunjukkan arah. Lega rasanya menemukan mata air di tepian sungai, orang Jawa biasa menyebutnya belik seperti yang disebutkan anak kecil tadi. Kita bergegas menuju Belik Swara yang kubayangkan jernih dan dingin.
Kita telah sampai di sebuah belik yang bernama Swara. Mata air jernih itu menyembul dari di bawah telapak kaki kita. Banyak mata air yang menyembul dari dalam tanah, kuhitung ada sembilan lubang mata air. Jumlah yang istimewa, tetanggaku mengatakan bahwa angka sembilan adalah angka yang istimewa, sebab ia selalu kembali menjadi dirinya sendiri meski di
sejajarkan dengan angka-angka yang lain. Cobalah kalikan angka sembilan dengan angka satu sampai sepuluh lalu jumlahkan angka hasilnya pasti akan kembali menjadi sembilan (2x9=18 lalu 1+8=9). Tapi jangan kalikan dengan angka nol karena angka nol adalah sperma dari semua angka.  Hihihihii…sejak SD kita juga sudah tahu kok kalau angka sembilan adalah angka yang bagus sekali. Bukankah kita akan bungah dan bangga jika mendapatkan nilai Sembilan?
Ayahku juga sering bilang kalau lubang yang ada di tubuh kita berjumlah sembilan dan kita harus merawat baik-baik sembilan lubang itu. Merawat dengan cara kita sendiri agar hidup ini berjalan seimbang. Dulu aku sering menyanggahnya bahwa manusia juga mempunyai jutaan lubang pori-pori yang juga harus dirawat. Jadi, manusia itu ditugasi merawat banyak sekali lubang untuk menjaga dirinya, menjadi dirinya dan mengatur dirinya. Hahahaa… kamu tak menanggapinya karena omongku ngelantur.
Aku tahu mengapa dinamai Belik Swara, karena air belik itu mengeluarkan suara yang aneh, begini suaranya: pluk.pluk.pluk.pluk. Begitu di sepajang tahun. Selamanya. Lalu aku memelukmu selama tiga detik sebab konon aku pernah dengar cerita dari orang sekitar sungai, jika memeluk kekasihnya di bilik itu maka akan menjadi pasangan abadi.
Minumlah beberapa teguk lalu basuhlah kaki, tangan, muka dan penuhi botol kita dengan mata air jangan dengan air mata.

Sepuluh Kelokan
Sepuluh kelokan telah kita lewati sambil menikmati setiap langkah dan mengalahkan marah berkadar rendah hingga marah yang mengandung bakteri. Sayang sekali, aku tak menghitung sudah berapa jam perjalanan ini, sudah berapa jejak yang kita tinggalkan, sudah berapa tema kita bicarakan. Andaikan saja ku hitung sejak awal pasti akan kususun menjadi sebuah kalung dan gelang untuk kita kenakan. Sebuah aksesoris yang dirangkai dari waktu, cerita, jejak dan perasaan. Pasti akan menarik perhatian teman-teman, jika ada yang pesan katakan saja hadiah dari Dewa Tanah.
Aku melihatmu dengan tatapan aneh, seperti ada yang kurang dengan dirimu. Mengapa kamu kelihatan lucu, mengapa kamu kelihatan sipit, mengapa kamu kelihatan aneh. Oh, Aku segera tahu, kamu tak memakai kacamata. Mengapa tidak dipakai? Aku kwatir jika nanti tersandung batu atau terpeleset lagi. Biasanya kamu akan marah jika kacamata tidak berada di dekatmu. Pernah kamu bilang padaku: Aku lebih membutuhkan kacamataku dari pada kamu, katamu dengan sengit lantaran aku memindahkan kaca matamu dari ke atas almari kecil saat kamu tidur. Padahal aku takut kacamata itu terinjak.  Aku nggak tahu kalau kamu akan marah jika kacamata itu jauh darimu. Swear!
Kali ini kamu hanya tersenyum melihatku.
“Kutanggalkan kacamataku untuk sementara waktu, aku ingin melihat jalan dengan mata telanjang. Aku yakin jalan ini akan mengerti dan mencintaiku lebih dari cintamu. Ia tak akan menjatuhkanku untuk ke dua kalinya. Aku juga ingin melihatmu dengan mata telanjang agar terlihat lebih ganteng, hehee…” katamu sambil meraih tangan kiriku.
Kamu harus memakai kacamata agar bisa membaca buku, menonton film, menulis bulletin anak, mengajar dasar-dasar broadcast dan membukakan pintu untukku. Setiap tahun harga kacamata akan naik, kita harus bekerja untuk membeli kacamata setiap tahun.
Aku akan bekerja menjadi Pastur atau Tentara tapi kalau tidak diterima, aku akan bekerja menjadi Buruh Tambang atau Juragan Ayam. Kalau semua tidak mau menerima lamaran kerjaku tentu saja aku akan mengajakmu merampok bank. Aku sudah menyiapkan strategi perampokan yang cantik untuk kita berdua melebihi pasangan legendaris Bonnie dan Clyde[7]. Dewi…kamu ngga marah kan kalau aku belum punya tabungan di usia 30 tahun ini? Mulai besok aku pasti akan bekerja menjadi apa saja kecuali koruptor atau anggota multi level marketing.  Ah, aku tetap mencintai pantomim, memahat dan mencipta puisi untuk mengisi hidup hingga hari tua nanti.
Sudah sepuluh kelokan, beberapa menit lagi kita akan sampai muara. Bertahanlah.

Bukan Antara Aku dan Kamuby: Sang

Tempuran
Ada dua arus yang bertemu menjadi satu arus dan terus mengalir, orang Jawa menamainya Tempuran. Tempat untuk laku kungkum[8] orang-orang saat laku prihatin untuk mendapatkan energi dari alam atau bisa mencari kemuliaan hidup. Tak ada yang istimewa di tempat yang bernama tempuran ini, tempat yang kelihatan wingit lantaran huru ‘n’ coba kalau ngga ada huruf ‘n’ tempatnya terkesan imut seperti makanan Jepang. Eh, tapi diam-diam aku pernah juga melakukan laku kungkum ketika SMA, telanjang bulat berendam di sebuah tempuran kali. Tapi apa lacur rupanya ikan-ikan kecil dan udang kali tertarik pada bentuk burungku. Mereka merubung burungku dengan gigitan kecil namun mengena. Maka berteriaklah aku dan dimarahilah aku oleh teman sekungkumanku.
Tempuran itu hanyalah sebuah pertemuan. Sudah berkali kita mengalaminya, orang selalu menceritakan betapa sulitnya menggabungkan dua aliran yang berbeda. Senyatanya dua sungai itu tetap saja bertemu dan bergabung menjadi satu aliran menuju satu muara. Dan aku yakin setiap aliran sungai pasti mengusung bangkai, sampah, pecahan kaca, racun, batu, tahi, pohon tumbang dan lain-lain. Semua bakal bertemu dalam sebuah tempuran lalu mengalir bersama menuju muara. Aku tidak tahu apakah kedua sungai saling berdiskusi atau sudah saling memahami. Coba tanyakan pada mereka apa yang mereka diskusikan berdua.
Aih…kurasa mereka tidak sedang menyatukan pikiran dan perasaan tapi tengah menciptakan spirit baru agar air terus mengalir. Tapi semua itu hanyalah perkiraan-perkiraan tak menentu. Apapun teorinya, aku kadang khawatir jika suatu ketika kamu ilfil[9]  padaku tiba-tiba atau bosan bertemu. Aku bisa gila kalau kamu pergi membuat aliran sendiri. Kalau aku gila nanti, pohon-pohon akan sedih, rumput-rumput pusing, burung-burung gelisah, ikan-ikan ngambek, sepeda motorku pasti menangis.
Aku harap kita akan membuat kanal-kanal yang membuat kita terus bernafas. 

Jalan Lurus Kedua
Untuk mengurangi segala bosan dalam perjalanan dan menghindari pertengkaran di jalan, aku ingin membacakanmu sebait puisi. Hanya sebait sebab muara sudah dekat dan semua percakapan sudah menguap di perjalanan tadi. Di jalan lurus ke dua ini membuat kita sadar datangnya lelah. Maka berhentilah sebentar, duduklah di atas rumput sambil meluruskan kaki. Sebentar dan dengarlah.
Jendela yang membuatmu tersenyum
hei, bukalah daun jendela itu
kau kan melihat dirimu sedang duduk di kursi taman
sambil mencicip ice cream dan membaca novel
bukalah sebentar saja, lalu tutup kembali dengan pelan
aku takut ada yang meloncat masuk trus menculikmu
sebab aku sudah merasa bahagia kau berada di sana

tahukah kau? jendela itu ada di tengah dadaku.

Aku suka melihatmu tersenyum mendengar puisiku. Kamu tahu mengapa aku suka puisi? Bukan karena aku bercita-cita menjadi penyair, tapi hanya menjalani kewajiban saja. Dewi, bersastra itu kewajiban setiap warga negara!
Ayo lekas beranjaklah kita berlari secepatnya, jangan khawatirkan berat badanmu sebab berlari demi kebahagiaan akan membuat semua terasa ringan.

Muara
Kita telah sampai di muara sungai yang berpemandangan sederhana tapi membuat kita bahagia. Di Muara ini kita melihat pertemuan antara matahari, langit, burung-burung, angin, suara deras air dan kita. Muara ini semacam danau yang begitu luas.
Di muara ini kita akan menenggelamkan dendam, luka dan basa-basi. Di sini kita akan membuang seluruh kesombongan, keangkuhan, ironi dan tragedi. Di sini kita berdiri melihat langit oranye dan merasakan sesuatu yang tengah bergerak-gerak sendiri di dada ini.
Silakan nikmatilah, carilah tempat bersandar yang nyaman. Kamu bisa memilih tempat di bawah pohon jati, di atas rumput liar, di bibir muara, di dekat pohon pisang, atau di sini: di pelukanku.
Tanganku merangkul pinggangmu dan kepalamu rebah di bahuku.

                              
Jogjakarta, 3 April 2011


[1] sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada musim kemarau airnya kecil
[2] sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan. hanya saja pada musim hujan sungai jenis ini airnya belum tentu banyak. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai)

[3] Salah satu dari 5 rekor tergila yang dipecahkan di Thailand
(http://anaxmuda.blogspot.com/2011/05/5-rekor-tergila-dan-terhebat-yang.html)
[4] http://kaskuslounge.co.cc/50-kejadian-unik/
[5] http://kaskuslounge.co.cc/50-kejadian-unik/
[6] Di sebelah sana ada belik mas! namanya belik swara!

[7] Film Bonnie and Clyde (1967) disutradarai Arthur Penn. Pasangan perampok legendaries yang beraksi di Amerika, biasanya merampok Bank, SPBU, toko.
[8] Berendam. (Syarat yang dilakoni sesorang untuk meraih sesuatu: pangkat, kekayaan, dan kemuliaan.)
[9] Hilang Feeling / Sudah tak ada perasaan lagi