Tampilkan postingan dengan label Liputan Pertunjukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan Pertunjukan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2014

Pementasan TO'BAD

Media dan Sampah Visual Dalam Tubuh Anonim
Oleh: Andy Sri Wahyudi

Keburukan – keburukan yang muncul dalam diri manusia mempengaruhi tubuh, pikiran dan perasaan manusia dalam perilakunya.
Sepercik kalimat itulah yang melahirkan pertunjukan monolog “To’BAD”, dimainkan oleh Hendra Setiawan, salah satu aktor Teater Kubur – Jakarta. Pertunjukan pada hari Kamis, 21 Maret di Sanggar Bengkel Mime Theatre – Yogya itu menciptakan teror – teror lewat gerak tubuh dan mimik wajah yang tak lazim. Hendra berperan menjadi tokoh Anonim, ia mengejek beberapa penonton dari belakang dengan mimik wajah buruk, lidah menjulur dan jari-jari tangan bergerak seperti penyihir. Penonton dibuat resah sekaligus geli dengan tingkah polah tokoh tersebut. Sebuah kemunculan yang terasa janggal, ia datang tiba-tiba dan memaksa penonton untuk mengenalinya tanpa mengerti latar belakang hidup dan karakternya. Apalagi maksud dan tujuannya.

Tokoh tersebut semakin meresahkan dengan tubuhnya yang sesekali mengejang – ngejang lalu perlahan melepas baju dan celana panjangnya, hingga tinggal mengenakan celana kolor. Siapapun diejek dan diolok-olok dengan wajah buruknya, beberapa penonton juga membalasnya dengan olok-olok wajah buruk. Ia bersikap sok akrab dengan penonton yang tak dikenalnya, mengajak bersalaman, tersenyum manis dan merangkulnya. Terlihat bahwa dirinya adalah orang tak dikenal yang tiba-tiba datang dan tak tahu malu. Sebab penonton yang diakrabinya tampak risih, bahkan ada yang merasa jijik. Tokoh Anonim itu terus bergerak dengan tubuh dan mimik wajah yang selalu berubah-ubah karakternya. Sesekali ia tersenyum, menertawai dan mengejar penonton. Ia sengaja terus menerus membuat teror dengan perubahan polah tingkah dan mimik wajahnya. Hingga alur gerakannya beputar kembali pada titik awal, dikenakannya lagi baju dan celana penjangnya. Ia kembali berkumpul bersama penonton dan melupakan teror yang telah dilakukannya. Monolog “To’BAD” seperti tak ada akhir namun dibiarkan selesai begitu saja, hanya menyisakan kenangan wajah-wajah palsu yang buruk dan gerak tubuh yang asing.

Inspirasi dari Serangan Media
Fenomena media sosial semacam facebook, twitter dan acara infotainment menjadi esensi dari monolog “To’BAD”. Fungsi media sosial tak lagi ke arah positif namun telah melenceng hingga melahirkan kriminalitas, penipuan dan berita sampah yang merugikan banyak orang. Acara televisi semacam infotainment menjadi ajang mengumbar gosip saling menjelekkan dan mengolok-olok. Aib pribadi menjadi barang dagangan yang diperjual belikan dikhalayak umum. Ironisnya masyarakat malah menikmati sebagai konsumsi sehari-hari yang dijadikan tontonan untuk segala usia. Segala hal tentang keburukan telah menjadi sesuatu yang layak dibanggakan dan seolah hal-hal buruk menjadi idola masyarakat.

Fenomena terbaru yang muncul adalah hadirnya sampah-sampah visual  berupa wajah calon legislatif. Mereka hadir secara tiba-tiba di tengah kehidupan masyarakat, tidak sekadar hadir begitu saja tetapi membawa janji-janji untuk masa depan yang lebih baik. Mereka datang mengatasnamakan kebaikan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Wajah-wajah itu hadir dengan senyum manis, santun dan tampak akrab seolah mereka saudara atau sahabat dekat. Mereka meminta dipilih untuk menjadi pemimpin yang memperjuangkan kehidupan rakyat. Hadirnya wajah-wajah itu mengotori jalanan, merusak keindahan taman, bahkan ada yang sembarangan memaku di batang pohon. Kehadiran sampah visual itu terasa sebagai sebuah teror baru yang memaksa untuk mengenali dan memilihnya secara tiba-tiba, tanpa mengerti kebenaran maksud dan tujuannya. Masyarakat seperti sedang dibentuk menjadi masyarakat asal-asalan.

Teror dan intrik dalam dunia hiburan dan politik dari media itulah yang kemudian membentuk tubuh Anonim menjadi tubuh yang gagap dan sulit berkembang secara progresif. Tubuh, pikiran dan perasaan didikte oleh media sosial dan visual. Rasanya tak ada ruang untuk tawar menawar, semua dipaksakan untuk kepentingan kelas dan golongan tertentu. Tubuh Anonim menggambarkan sebuah masyarakat yang terus menerus dijejali berita dan visual dari berbagai media tanpa mengetahui kebenarannya, masyarakat disulap menjadi mahkluk penurut. Tak ada waktu untuk merenung dan mengkritisi apa yang dipikirkan dan dirasakannya.

Membuka Kesadaran
Monolog “To’BAD” karya Hendra Setiawan mengajak sejenak diam untuk merenung mengkritisi keadaan. Diam untuk membuka kesadaran bahwa tak selamanya berita diberbagai media itu benar, juga sampah-sampah visual yang memajang wajah manis itu belum tentu seorang pribadi yang tulus, jujur dan bervisi menuju perubahan yang baik. Semua harus dikritisi dan dikoreksi dengan pikiran sehat, sebab siapa tahu dibalik berita, wajah dan janji-janji manis itu menyimpan keburukan-keburukan. Masyarakat diajak agar mempunyai sikap dan prinsip yang kuat dalam menghadapi serangan dari berbagai media dan teror dari sampah-sampah visual di jalan-jalan. Keburukan yang muncul dalam diri juga harus dicegah agar tidak menjalar mempengaruhi pikiran, prasaan dan perilaku. Ada dua pilihan, melawan keburukan atau menjadikan keburukan sebagai kodrat manusia yang tak pernah berakhir. Keburukan mempunyai banyak wajah yang berupa kebohongan, kriminal, mengumbar  janji palsu, munafik, pengecut, bodoh, tak sadar diri, sombong dan masih banyak yang lainnya. Satu jalan agar terbebas dari pengaruh keburukan hanya melawannya dengan ketegasan dan kesadaran untuk menuju suatu masyarakat yang kritis.

Yogyakarta, 23 Maret 2014
Andy Sri Wahyudi
Pemimpin Bengkel Mime Theatre Yogyakarta




Selasa, 30 Oktober 2012

Topeng Losari

Topeng Losari Yang Terus Bersinar
Oleh     : Andy Sri Wahyudi

Sore itu matahari mulai condong ke barat, sinarnya masih terasa hangat menyentuh kulit. Sinarnya  juga menerangi sebuah pelataran luas yang dikelilingi pohon-pohon rindang, pelataran yang berhawa sejuk, berdekatan dengan sungai dan kawasan outbond. Dari pelataran sejuk itu melantun bunyi gamelan yang dimainkan oleh para pengrawit yang sudah berumur 40 tahun ke atas, lengkap dengan ikat kepala dan pakaian tradisional khas Cirebon warna coklat muda. Bunyi gamelan yang menghias suasana membuat orang-orang berdatangan untuk melihatnya. Warga desa, dari anak-anak hingga kakek – nenek  mulai menempatkan diri di tempat yang mereka anggap nyaman, sebagian melihat dari kejauhan. Beberapa anak bermain kejar-kejaran, ibu-ibu merumpi, orang-orang tua berdiam menikmati irama gamelan. Tak hanya warga desa yang berdatangan, wisatawan manca negarapun turut meramaikan suasana sore di Ledok Sambi, Jl. Kaliurang KM. 19,2 Dusun Sambi, Sleman.

Sebuah pertunjukan Tari Topeng Losari akan segera digelar, Gamelan mulai melamban lalu berhenti. Pukul 16:05 WIB Master of Ceremony membuka acara, setelahnya para pengrawit kembali membunyikan gamelan yang tertata disebuah panggung sederhana beralas karpet permadani tanpa level. Panggung berhias hasil bumi: sayur mayur, terong, kacang panjang, pare, juga makanan kecil dan minuman instran (soft drink) yang digantung mengelilingi gamelan dan pengrawit. Kain merah lebar satu meter di atas panggung, memanjang ke depan dari belakang hingga ujung batas ruang penonton. Sebuah kotak dari kayu yang bervernis halus diletakkan di tengah depan gamelan. Para penonton yang terdiri dari warga desa Sambi, wisatawan asing, dan seniman diantaranya musisi Jaduk Ferianto, teaterawan muda Agnes Cristina dan Fery Ludyanto. Semuanya mulai merapat, mendekat.
Persembahan tari pertama dibuka dengan Tari pamindo atau Panji Sutrawinangun, dibawakan oleh Nur’Anani M Irman atau akrab dipanggil mbak Nani. Tari Panji Sutrawinangun yang menceritakan tentang seorang Ksatria muda dari negeri Urawan, dimainkan dengan greget dan dinamis. Ketika topeng yang diambil dari kotak kayu mulai dikenakan, tubuh mungil yang semula tampak lemah gemulai itu perlahan berubah karakter tokoh yang tegap dan gagah. Gerakkannya mulai menyedot perhatian penonton yang semakin bertambah. Gerak tangan yang sesekali menghentak seiring bunyi gamelan dan gerak tubuh yang luwes itu berhasil menghidupkan karakter topeng seorang Ksatria. Terlihat ada sebuah dunia karakter yang terbangun lewat bunyi gamelan dan gerak tubuh penari. Tubuh penari menceritakan karakter sosok Panji Sutrawinangun sebagai ksatria yang gagah, tegas dan pemberani. Sebuah tarian yang berdurasi 30 menit ini terasa mengesankan. Gerak tubuh dan topeng Ksatria merupakan dua dunia yang menyatu dalam jiwa: sang Penari.

Pertunjukan kedua adalah Tari Bodoran yang dibuka oleh seorang penari laki-laki (Warsono).  Tari Bodoran di dalam rangkaian pentas Topeng Losari, biasanya selalu ada di sela-sela pertunjukan yang ada dalam babakan Topeng Losari. Penari mengenakan kostum hitam dan berkalung selendang, bergerak seiring irama gamelan. Gerak tubuhnya mengalun lamban dan berada di satu titik, juga tak membuka lahirnya karakter tokoh. Akan tetapi ketika irama gamelan mulai mengalun dinamis, gerak penari tak lagi melamban, tubuh Penari seperti membuat ruang yang melahirkan peristiwa baru. Gerak Penari berubah dinamik dan menghentak, lalu dikenakannya sebuah topeng warna merah dengan mata melotot. Topeng yang diambil dari kotak kayu itu, menggambarkan seorang tokoh yang berperangai buruk dan galak. Ia bergerak seperti layaknya penguasa yang terlihat konyol.
Dalam babakan Tari Bodoran lebih ditekankan pada adegan yang melahirkan peristiwa yang konyol. Terlihat ketika muncul tokoh, seorang tua berkostum gombal yang compang-camping layaknya orang gila. Ia hanya diam, namun gestur tubuhnya tampak lucu. Kemudian di susul oleh pengrawit yang turut bermain dalam adegan tersebut. Sementara tokoh penguasa duduk bersila di atas kotak kayu seperti seorang raja yang aneh. Dalam adegan tersebut membuat para penonton tertawa, lantaran sering terjadi hal konyol lewat dialog maupun polah tingkah. Dialog yang digunakan adalah dialek jawa cirebonan, meskipun penonton tak paham artinya tapi tetap tertarik dengan gaya bicara para tokoh. Selain dialog, adegan itu tampak hidup degan mimik wajah dan tingkah laku pemain. Seperti tokoh orang tua yang diperankan pak Sujat, meski diam namun ekspresi wajahnya tampak konyol, dan tingkah laku pemain lain (Amad dan Mutara) yang menjadikan tokoh orang tua bulan-bulanan bahan olok-olok. Tari Bodoran ini cukup menyegarkan suasana pertunjukan, namun kecenderungan pemain yang membelakangi penonton membuat permainan tak terlihat maksimal. Tari bodoran ini memakan durasi yang lumayan panjang sekitar 40 menit. Tari Bodoran memang benar-benar bodor! 
Tari Klana Bandopati merupakan suguhan terakhir dari rangkaian tari Topeng Losari, menceritakan tentang tokoh Raja yang berkarakter congkak, sombong dan menggambarkan angkara murka. Dalam tarian Klana Bandopati, semua elemen yang melekat ditubuh penari mendukung terbangunnya karakter tokoh. Kostum yang dikenakan adalah kain bermotif parang dan bermahkota hitam, dengan bulatan-bulatan merah dironce memanjang disamping kanan-kiri mahkota hingga sepinggang. Kostum yang dikenakan penari tampak ada pengaruh dari Jawa Tengah, mengingat Cirebon berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kostum kain motif parang atau liris ini yang membedakan Tari Topeng Losari dengan Tari Topeng di wilayah Jawa Barat, yang mengenakan kain motif mega mendung. 
Gerakan Tari Klana Bandopati sanggup menyihir penonton, semua elemen yang melekat ditubuh penari difungsikan untuk menghidupkan karakter dan cerita. Setelah mengenakan Topeng, Penari seperti memasuki dunia yang lepas dari karakter aslinya. Gerak Penari sangat dinamis, ia menggerakkan tangan, kaki, kepala dan tubuhnya tak hanya pada satu titik namun berpindah menguasai panggung pertunjukan. Kali ini gamelan tak hanya sebagai pengiring tarian, namun bunyi gamelan menjadi irama yang lebur dengan gerak penari. Crek…! crek…! crek…!! Crek…!! Hentakkan gerak kaki, tangan dan liukan tubuh beriringan dengan bunyi alat musik keprak, bunyi alat gamelan yang lain berubah semakin dinamik. Suasana yang terbangun semakin memuncak dalam ketegangan dan amarah, sebuah gambaran cerita angkara murka yang tengah melanda diri manusia. Berkai-kali kaki penari menyibakkan kain selendang yang terjurai di tanah dengan sapuan tegas. Sering juga  penari berbalik ke belakang dengan gerak cepat lalu berhenti dengan satu kaki diletakkan di atas kotak kayu. Di dalam Tari Klana Bandopati ini dijumpai gerakkan khas Tari Topeng Losari yakni Galeyong atau khayang, gerak yang meliukkan badan ke belakang. Selain itu tari Topeng juga mempunyai gerak gantung sikil sekitar 10 menit. Dua gerakan tersebut menjadi kekhasan sekaligus kekuatan dalam Tari Topeng Losari. 
Pertunjukan Tari ketiga dalam rangkaian pentas Tari Topeng Losari ini berdurasi cukup lama, sekitar 45-50 menit. Meski demikian, Penari Klana Bandopati (mbak Nani) masih tampak enerjik. Dalam ketegangan dan tubuh yang mulai capai itu sang Penari menyikapinya dengan santai: tiba-tiba ia istirahat dengan menduduki salah seorang pengrawit, kadang berhenti lalu minum dengan mengambil minuman yang digantung diseputar panggung. Peristiwa itu menciptakan suasana baru yang segar. 
Tak terasa petang mulai datang, rangkaian pentas Tari Topeng Losari yang berdurasi dua jam itupun selesai sudah. Jumlah Penonton hingga akhir pertunjukan tak lagi bertambah, berkisar anatar 90 – 100 penonton. Pementasan ini cukup berhasil dalam membawakan Tari Topeng Losari, namun dalam hal publikasi kurang tergarap. Sepantasnya pementasan Tari di pelataran seluas sekitar 600m itu bisa dihadiri lebih dari 200 penonton, apalagi pementasan ini diselenggarakan di Desa Sambi yang berstatus sebagai desa wisata.
Sanggar Purwa Kencana Topeng Losari
“Saya akan terus menari...hingga kaki saya tidak bisa melangkah lagi”
Demikian yang terucap dari hati sang penerus generasi ke 7 pewaris Tari Topeng Losari, Nur’Anani M Irman. Beliau ingin melanjutkan cita – cita leluhurnya yang terus memberikan sumbangan wacana seni tradisi. Beliau telah membuktikannya dengan mendapat penghargaan dari pemerintah maupun kancah pecinta seni. Bersama Sanggar Purwa Kencana Topeng Losari pernah menjadi misi kesenian untuk mementaskan tari Topeng Losari di 22 Negara.
Sanggar yang beralamat di Jl. Baru. Desa Astana Langgar. Gg. Dewi Sartika RT/RW: 01/03 No. 03 Kec. Losari, Kab Cirebon ini, didirikan oleh Ibu Dewi dan Ibu Sawitri, generasi ke 6 pewaris Topeng Losari, pada tahun 1984. Sanggar Purwa Kencana memiliki arti yang menarik, Purwa berarti terdahulu/masalalu sedang Kencana berarti Emas. Sanggar tersebut bertujuan untuk senantiasa menjaga seni keemasan masalalu sebagai warisan kekayaan khasanah budaya Nusantara. Pengabdiannya terhadap kesenian tradisional Topeng Losari, membuat seni Topeng Losari Cirebon dikenal di kancah dunia internasional. 
Meskipun arus budaya global tengah berdatangan melanda negri ini, namun Tari Topeng Losari tetap selalu ada, hidup dan bersinar!

Jogjakarta, 3 Oktober 201

Titer


Posted by skAnA under Review/Liputan | Tags: Joned Suryatmo, Teater Garasi |
Leave a Comment 

Oleh: Andy Sri Wahyudi *

Ih, sebel deh,” gerutu seorang cowok saat berjejal antri masuk ruang pementasan. Pintu masuknya memang terlalu sempit, jadi harus bergilir satu persatu. Apalagi jumlah penontonnya sekitar seratusan orang? “Uh, Busyet dah!

Malam itu adalah hari pertama pementasan Malam Jahanam karya Motinggo Boesye, yang dimainkan oleh kelompok Actor Studio dan disutradarai  oleh Joned Suryatmoko (Sutradara Teater Gardanalla). Pementasan diadakan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan no:3 Yogyakarta. Pementasan ini merupakan program Aktor Studio: Program belajar keaktoran yang ditujukan kepada siapa saja yang ingin mempelajari keaktoran secara lebih dalam.

Tempat duduk yang berbentuk punden berundak itu sudah dipenuhi penonton. Panggung hanya disinari lampu warna biru yang diredupkan. Para penonton masih menunggu sambil asyik ngobrol dengan berisik. Tata ruang panggung dibagi menjadi dua: level atas adalah sebuah jalan, sedang level bawah rumah penduduk. Dua rumah berdinding bambu dan beratapkan rumbai-rumbai mendominasi ruang.
Suara berisik para penonton berangsur hilang, ketika terdengar suara lirih deburan ombak yang membangun imajinasi tentang pantai. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Suara wanita yang mengumpat jengkel. Ialah Paijah istri Mat Kontan. Seseorang keluar dari dalam rumah dengan bentuk tubuh dan gerak aneh (orang kelainan mental) ia berlari ketakutan sambil mohon ampun saat di kejar Paijah. Ialah Utay, si Pandir. Rupanya pertunjukan telah dimulai.

Saya masih terpesona dengan setting panggungnya. Adalah rumah Soleman di sebelah kanan, agak maju menghadap serong ke kiri dan rumah Mat Kontan berada di kiri panggung lebih ke belakang, mengarah diagonal. Jemuran pakaian berada di samping kanan rumah. Di samping kiri rumah Soleman adalah sebuah gang. Properti yang berupa kelapa kering, jala ikan, dan pasir memeperkuat kesan rumah-rumah itu terletak di daerah pantai. Sebuah lentera kecil tergantung di atap emper rumah Mat Kontan, tanda hari sudah petang. Suasana panggung seperti kehidupan nyata. Sebuah nostalgia kehidupan pantai bagi yang sempat singgah meski sekedar melepas lelah.

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay
Tiba-tiba tawa penonton riuh memecah ruangan, saat melihat tingkah Utay yang membawa jemuran hendak masuk rumah lewat jendela. Sebentar kemudian Soleman keluar rumah, disusul tukang pijit buta yang melintas dengan suara tongkatnya. Utaypun pergi setelah mengusili tukang pijit. Tinggal Paijah dan Soleman yang diam  saling curi pandang, lalu suara kereta api melaju memecah sepi. Peristiwa dan percakapan seperti lewat begitu saja sekedar menghantarkan ke suasana malam.

Cerita mengalir setelah kedatangan Mat Kontan dari membeli burung. Mat Kontan membuka percakapan dengan membanggakan burungnya dan dirinya, tapi Soleman memotongnya dengan mengungkit masalah rumah tangga Mat Kontan. Tentang Kontan Kecil yang terus menangis karena sakit. Mat Kontan memang terkenal sombong dan hanya menuruti kegemarannya bermain burung, ia tak peduli dengan anak dan istrinya meski ia sering membanggakannya, sebab kelahiran Kontan kecil telah menghapus anggapan tentang dirinya yang mandul.

Percakapan mengaliri adegan hingga muncul ketegangan; Burung Beo Mat Kontan hilang. Ia marah, ia tanyakan pada Paijah istrinya, tak peduli bayinya (si Kontan kecil) terus menangis. Ternyata Utay melihat burung Beonya mati di dekat sumur, mati digorok lehernya. Mat Kontan semakin marah, Utay menjadi pelampiasan marahnya lalu Mat Kontan mengajak Utay pergi ke ahli nujum.

Malam itu semakin sunyi, rahasia-rahasia cerita mulai terungkap. Soleman berselingkuh dengan Paijah. Mereka berdua hanyut dalam kekhawatiran yang tak terpecahkan. Ketegangan semakin memuncak setelah Mat Kontan datang dan terbongkarnya rahasia, ternyata Kontan kecil adalah anak Soleman. Naluri primitif kedua laki-laki itu tergugah. Mereka hendak berkelahi demi kegagahannya sebagai laki-laki. Awalnya Mat Kontan mengalah, tapi Utay memanas-manasi. Mat Kontan terbakar amarah, ia akan membunuh Soleman tapi Soleman berhasil lolos. Nasib naas menimpa Utay, ia mati. Kepalanya disepak Soleman. Paijah menjerit histeris, ia tak dapat menerima kenyataan. Bayinya telah mati. Ia berlari, berteriak seakan menyesali segalanya. Hanya si Tukang pijat buta terdiam di tengah malam. Malam yang membutakan segalanya. Malam Jahanam. Suara kereta melaju kencang melindas peristiwa dan perasaan-perasaan lalu.

Naskah Malam Jahanam yang ditulis pada tahun 1958 dan mendapat juara pertama sayembara penulisan drama Departemen P & K 1958 memang sudah tak asing lagi, berpuluh kali telah dipentaskan di atas panggung seiring jaman yang terus bergerak, ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, dan teknologi modern yang terus melaju (meski sering muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah karena kurangnya naskah drama realis di Indonesia?). Kisah klasik dan permasalahan  lama manusia masih juga hangat. Tentang relasi berpasangan, perselingkuhan, dan perasaan purba manusia yang dikemas dalam sebuah drama panggung yang memikat dan eksotis. Rupanya tragedi “Malam Jahanam” pun perlu kita kaji ulang, bukan sekedar menilai baik-buruk atau benar-salah,  tapi  dari banyak sudut pandang yang memungkinkan melahirkan nilai-nilai baru? Cerita Malam Jahanam seperti tak habis-habisnya dibicarakan orang dari jaman ke jaman, tak kan lapuk termakan waktu. Ah, siapa yang sanggup menjelaskan cinta dan air mata?
Soleman, Paijah, dan Mat Kontan

Pementasan yang digarap dalam bentuk drama realis ini, adalah presentasi para aktor studio dari hasil belajar mereka selama kurang lebih enam bulan. Aktor benar-benar teruji dalam mendalami karakter setiap tokoh dan terlatih kecakapannya dalam berdialog dengan cepat, tangkas dan sesuai dengan karakter tokoh.
Pentas telah usai. Ternyata pementasan ini berhasil menarik penonton yang tidak hanya dari kalangan seniman teater saja tetapi dari banyak kalangan. Ada ibu rumah tangga, pelajar, aktivis LSM, guru, mahasiswi dan remaja gaul yang cakep-cakep.
* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre
(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Tim Kerja ‘Malam Jahanam’:
Sutradara Joned Suryatmoko Pemain Mat Kontan (Darmanto Setiawan), Soleman (Guntur Yudho Saputro), Paidjah (Dien Rukudzi), Utay (Alex Suhendra), Tukang Pijit (Siswadi)

Komentar Penonton:
“Paling kusuka tokoh Utay-nya, karakternya bagus banget. Selalu kutunggu kemunculannya.” (Nonik 26 tahun, Guru Wisma Bahasa)

“Kalau bagus sudah biasa, siapa dulu yang menggarapnya? Saya suka bentuk realis apalagi sutradaranya muda meski sudah tujuh kali saya melihat partunjukan teater yang menggarap Malam Jahanam.” (Hasta Indriyana, 30 tahun. Komunitas Tanda Baca)

“Keseluruhan pertunjukan lancar dan terselamatkan, tapi beberapa actor masih terbata-bata saat memasuki perannya.harus lebih digali pencarian karakternya. Selamat buat Alex untuk peran Utai-nya.” (Catur Stanis, 30 Tahun lebih)

“Apik. Utai-nya sueger banget dan membuatku cukup betah, asyik. Cuma kalau dengan gaya realis model Joned gak pas dengan kurun waktunya.” (Ria, 25 Tahun, kerja di Papermoon)
“Lumayan dan menarik.” (Orangnya cantik tapi malu-malu nyebutin namanya-Mahasisiwi Fak 
Fisipol Atmajaya, 22 Tahun)

“Kurang renyah masih seperti hari kemarin, tapi aku suka tokoh Utai-nya Cuma artikulasinya kurang ok. Kalau yang cewek mainnya tanggung banget, seharusnya di tangan Joned (sang Sutradara) bisa lebih menarik.” (Teguh, 28 Tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia Sanata Darma)

“Secara realis sangat terpahami dan menghibur.” (Ajis, 24 Tahun, Komunitas Film 03)

“Apik dan sangat realis.” (Adin, 21 Tahun dari Teater EmKa UNDIP Semarang)

“Cukup menghibur, penyutradaraannya bagus. Ehm, ceweknya lemah dalam akting.” (Soni Wibisono, 26 Tahun, pengkelana dari Semarang)

“Duh, komentar apa ya? Eh, Aku suka Utay-nya titik!” (Ari “Inyong” Dwianto, 25 Tahun, Sutradara Bengkel Pantomim)

Liputan Monolog


Monolog Demam dalam 50 cm3
Oleh: Andy Sri Wahyudi

Perempuan itu terlihat lugu dan innocent: berkuncir dua, berdaster kembang-kembang, telanjang kaki, dan wajahnya, ai..aih…saya sendiri pasti akan selalu sayang dan cinta jika ia menjadi istriku. Manis dan polos nada bicaranya. Akan tetapi siapa sangka perempuan itu adalah pelaku pembunuhan dua anaknya dengan membenamkan mereka dalam bak mandi? Duh…ada apa di balik itu semua?

adegan Demam dalam 50 cm3. Foto: Agung Kurniawan

Erythrina Baskoro memerankan tokoh perempuan yang namanya disamarkan sebagai Pipit, sekaligus menjadi penulis naskah monolog yang berjudul Demam dalam 50 cm3 itu. Monolog itu dipentaskan pada tanggal 21–22 Januari di Studio Teater Garasi, dua kali dalam semalam. Dalam pementasan dengan kapasitas penonton  40 orang tersebut, Ery bermain dalam ruang yang simpel dan bersih yang didesain oleh Andy Seno Aji. Ruangan itu berbentuk kotak tiga dinding berwarna putih berukuran 3 X 4 meter, dengan properti sebuah kursi. Ada sebingkai cermin kecil menempel di dinding belakang. Ery tampak seperti boneka yang berada dalam etalase mainan anak-anak.

Selama 30 menit pertunjukan berlangsung, Ery mencoba bermain dengan rileks di setiap pergantian perannya -sebagai Pipit, Psikolog, suami Pipit dan dirinya sendiri sebagai pencerita.. Keluar masuk karakter tokoh dalam dirinya mengalir begitu saja, dalam artian tidak terjadi perubahan secara drastis namun cukup menggambarkan karakter yang berbeda. Ery hanya memainkan gestur dan intonasi yang berbeda. Karakter tokoh-tokoh itu timbul tenggelam dalam diri Ery malam itu, dan menggulirkan alur cerita yang meminta untuk didengarkan.

Pentas monolog yang disutradarai Yudi Ahmad Tajudin tersebut tidak banyak mengeksplorasi ruang, namun memberikan kesan ganjil. Model penyutradaraan itu menurut saya memiliki daya ganggu terhadap nalar umum permainan panggung yang biasanya seperti mengharuskan aktor untuk memanfaatkan seluruh ruang untuk bermain. Sementara, Ery hanya bermain di sisi kiri panggung, bahkan properti kursi hanya sekali mendapat sentuhan dan hanya melakukan gerakan-kerakan kecil: jari telunjuk yang menyentuh dinding seperti tengah menggambar sesuatu.  Hingga akhir adegan ia menghabiskan aktingnya di sisi kiri panggung. Meski demikian dinamika permainan tetap tergarap seirama dengan akting dan karakter setiap tokoh. Bagi saya, tidak begitu istimewa tapi menggemaskan!

Narasi dari Pencerita
Mulanya Ery membaca naskah klasik Medea karya Euripedes, pengarang zaman Yunani kuno yang hidup di kisaran abad 5 SM. Naskah Medea bercerita perihal sosok perempuan yang membunuh anaknya lantaran disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Ery merasa ada kesejajaran antara naskah tersebut dengan kasus yang sama (pembunuhan anak oleh ibunya sendiri) di beberapa kota di Indonesia. Kemudian Ery mulai menelusuri beritanya di koran-koran dan internet, dan muncul pertanyaan: alasan apa yang menyebabkan seorang ibu sebagai sosok pelindung, pemelihara, dan penuh kasih, tega membunuh darah dagingnya?

Berawal dari kegelisahan atas merebaknya kasus pembunuhan anak oleh ibunya tersebut, Ery kemudian melakukan observasi menemui psikolog dan pelaku pembunuhan anak secara langsung. Ery mengkhususkan berangkat dari kasus “Pipit” asal Pekalongan. Dalam penelusurannya ditemukan sebuah kenyataan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa akibat mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sebuah tekanan yang tak lagi dapat ditanggung sebagai seorang istri. Akan tetapi, tak sedikit orang-orang di sekitar Pipit menuduhnya sebagai pembunuh anak yang layak dihukum. Tak jauh berbeda dari kisah Medea di jaman Yunani Kuno: disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Sering Pipit menangis tiba-tba ketika mengingat anaknya yang mati di tangannya sendiri. Dari peristiwa itu Ery mulai menyusun peristiwa-peristiwa yang kemudian  ia hadirkan dan ceritakan sendiri dalam sebuah peristiwa pementasan di atas panggung.
Dalam teks itu Ery menemukan semacam ambiguitas antara seseorang yang disebut sebagai korban atau pelaku.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, anggota Bengkel Mime Theatre
(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)
*****
Kerabat Kerja
Penulis dan Aktor: Erythrina Baskoro / Penata Musik: Risky Summerbee / Penata Cahaya: Ign. Sugiarto / Penata Ruang: Andy Seno Aji dan YAT / Sutradara: Yudi Ahmad Tajudin / Kru Panggung: Adi Wisanggeni, Ega Kuspriyanto, Samsul Islam / Manajer Produksi: Reni Karnila Sari dan Theodorus Cristanto

Komentar penonton:
Pentasnya Ery memang keren… (Ikun SK, Penulis)

Konsep panggung dan pertunjukan simpel, fresh, kuat. Pementasannya sendiri lumayan intense, cukup menantang si aktor, karena penonton seperti diajak untuk mencermati setiap detail dan adegan. Suka beberapa pilihan karakter yang dimainkan, meski ada satu dua adegan yang terasa agak panjang atau mungkin masih bisa dieksplorasi. Dari isu dan ceritanya, ibarat keripik, gaungnya cukup crispy ya, kayaknya banyak yang demen J. Sorry, ini komentar sembarangan dan subjektif, apalagi yang saya nikmati adalah pentas presentasi awal, bukan pentas ‘finalnya’. Selamat ya, sukses! Kapan lagi? (Anihimawati, aktivis jaringan perempuan)