Rabu, 24 Oktober 2012

Artikel Yogyasastra

Sastra di Yogya: Asyik-asyik Saja
Cerita buat dik Anes Prabu dan Saiful Anwar

Oleh: Andy Sri Wahyudi


Tulisan ini fragment. Bukan tanggapan atau memberikan pandangan baru tentang sastra. Cerita dari renungan kecil dalam dunia keseharianku sebagai anak kampung yang lahir dan tinggal di Yogya. Cerita yang kupersembahkan untuk Dik Anes Prabu dan Saiful Anwar sebagai respon atas tulisan perihal sastra di Yogya.

Suatu hari Ayahku pernah menegurku saat dahan dan daun pohon nangka kupotongi dengan pisau secara serampangan. Ayahku bilang, “Jangan kau sakiti pohon nangka itu, nanti kuwalat. Pohon Nangka itu adalah kakekmu!” Ayah bercerita, kakekku mati dibayonet tentara Belanda saat Agresi Militer II, lalu dikubur di bawah pohon nangka halaman rumah. Aku yang masih kecil hanya terdiam, lalu berlari ke dapur mengembalikan pisau sambil menyesali perbuatan. Sejak saat itu aku tak pernah menyakiti pohon nangka, juga semua pohon di halaman rumah. Sebab aku merasa semua pohon adalah teman kakekku.

Aku punya kenalan tetangga kampung namanya Mbah Temu, mantan pejuang 45 yang sekarang bekerja sebagai tukang parkir di sebuah Puskesmas. Aku mengenalnya ketika ia sedang ura-ura (bersenandung tembang jawa) di bawah pohon mlinjo. Istrinya lumpuh tak kunjung sembuh. Ia bercerita, hanya dengan ura-ura itulah ia bisa merasakan kenyataan. Istrinya akhirnya meninggal dunia.

Simbok dan Eva. Dua perempuan ini usianya jauh beda. Simbok berumur 70 tahun, ia tetangga dekat yang turut merawatku sewaktu kecil. Ada yang selalu kuingat setiap ia hendak menidurkanku. Ia membuat drama fabel di tembok dengan bayangan tangan. Tangan dan jari-jarinya bisa membentuk ular, itik, menjangan dan srigala, lantas ia bercerita hingga aku tertidur setelah tertawa cekikikan. Ceritanya selalu berbeda dan setiap hewan pernah menjadi tokoh utama. Entah dari mana ia belajar menulis naskahnya, padahal simbok tidak sekolah, tentu tak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi aku merasakan cerita itu hidup karena ketulusan dan rasa sayangnya padaku.

Tidak jauh beda dengan Eva (30 tahun), seorang guru SMA dan pendamping PAUD di kampung-kampung. Terus terang aku pernah mendekati, karena wajahnya manis. Pernah kubuatkan cerita pendek yang romantis dan kukirimi SMS puisi-puisi. Tak kusangka ia membalasnya dengan mengirimiku cerpen, puisi dan resensi sebuah novel sejarah.  Aku bingung diajaknya diskusi sastra. Lantas kubilang padanya, mengapa karya tulismu tidak dipublikasikan? Ternyata aku salah. Katanya, setiap hari ia mempublikasikan karyanya dengan mengajari anak-anak kecil menanam sayuran dan menyayangi binatang. Juga dengan ngobrol bersama murid-muridnya tentang kehidupan dunia remaja yang kadang mengkhawatirkan. Ada kata-katanya yang masih kuingat saat kutanya mengapa ia belajar sastra. Sastra mengajariku bahagia tanpa tanda tanya!, jawabnya.
Simbok membuat karya sastra lisan sedang Eva membuat karya sastra tertulis dengan dasar yang sama, karena rasa sayang dan kepeduliannya kepada yang dicintai.

Dari fragment di atas, aku merasa kehidupan Sastra di Yogya asyik-asyik saja. Sastra selalu ramai di seputarku. Ia hadir dalam hidup sehari-hari. Sastra tidak berhenti pada sebuah karya yang sekadar dibacakan, dipublikasikan lewat media massa, menjadi buku himpunan karya bersama untuk dibanggakan, atau menjadi kegiatan komunitas untuk memupuk rasa percaya diri bersastra. Aku merasa dalam kehidupan diseputarku, sastra menjadi spirit hidup dan berdaya guna. Sastra tidak hilang dalam gegap gempita tepuk tangan di atas panggung atau meringkuk dalam tumpukan dokumentasi berdebu. Tetapi ia melebur dalam hidup, ia bisa berubah menjadi berbagai wajah: semangat, cinta, sejarah, daya kerja, doa, obat, teknologi dan ilmu pengetahuan.
Aku kira tokoh-tokoh dalam fragment cerita di atas hanya setetes kisah yang kurang mewakili, sebab masih banyak tokoh-tokoh lain di Yogya, yang belum kita kenali tapi mempunyai sikap dan makna dalam menerapkan sastra di kehidupannya untuk sekadar membangun komunikasi dan pergaulan yang bermutu. Sebuah kehidupan yang luwes, berakar, berjuang, bertujuan, dan mengasyikkan.

Selain menawarkan sastra dalam intensitas hidup keseharian,  Jogja memberikan hal yang mungkin tak dimiliki kota lain. Yogya memberikan banyak tempat ‘pertapaan’ yang berupa trotoar, kafĂ©, kos, jalan raya, pasar, sawah, sungai, mall, angkringan, alun-alun, studio musik, sanggar, kampus, halaman rumah dan lain-lain. Tempat-tempat itu yang mengajak kita sejenak berhenti untuk berkelakar, berbagi cerita, dan tak terasa melihat sekaligus merasakan banyak tema berkeliaran  di seputar kita. Tema yang meminta untuk kita renungkan, untuk kita ikuti dengan kerelaan berpikir dan berimajinasi hingga melahirkan sesuatu yang disebut karya. Maka banyak orang dari berbagai daerah datang untuk berhenti (sejenak) di kota Jogja. Tidak sekadar menikmati tapi melakoni sungguh-sungguh. Demikianlah cerita ini kusampaikan, cerita dari anak kampung pinggiran kota Yogya yang belajar sastra dari seorang tukang tambal ban (Ayahku).

Sungguh tidak adil dan terlalu arogan jika dunia sastra hanya mengenal Kirjomulyo, Nasyah Jamin, Umar Kayam, Rendra, Kunto Wijoyo, Linus Suryadi, Arifin C. Noer, Emha Ainun Najib, Imam Budi Santosa, Landung Simatupang, dan orang-orang yang kau namai sastrawan itu. Tanyakan pada Rendra, dari mana Kasidah Barzanji itu lahir. Tanyakan pada Kirjomulyo dari mana Romansa Perjalanan itu mengalir. Tanyakan pada Indrian Koto, darimana ia dapatkan planet-planet di dalam kopinya, Tanyakan pada Arifin C. Noer, darimana Mega Mega itu bisa hadir. Aku yakin mereka akan menjawab sama: dari orang-orang dan suasana yang ia jumpai di kota Jogja!

Dik Anes dan Saiful Anwar yang baik, tidakkah kau sadari sejak pertama kakimu menginjak tanah Ngayogyakarta Hadiningrat ini, sesungguhnya kau telah berada dalam pusaran sastra yang hidup sepanjang waktu. Hidup di sulur-sulur darah setiap manusianya. Itulah salah satunya mengapa Yogya menjadi daerah istimewa.


Pantomimer dan Penyair, Putra Jogja.

Tulisan ini dimuat di Koran Mingguan MINGGU PAGI yang terbit hari Jum'at, tanggal 19 Oktober 2012

Minggu, 21 Oktober 2012

Liputan Pentas Puisi



Dik Iblis Menertawai Penyair

SEMARANG -- Konsep baru pembacaan puisi disuguhkan dengan menggemaskan di acara "Sahabatan Sama Dik Iblis", Rabu (19/7) malam. Pasalnya, puisi dibacakan ke dalam sebuah konsep pertunjukan teaater. Berpuluh puisi dinikmati dengan lugas. Meski kata penuh arti tetap menjadi kekuatan utama di setiap puisi. Perhelatan ini diadakan di Gedung E Lantai III, kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Jalan Nakula 1 Nomor 1- 12, Semarang. Penonton seringkali tertawa cekikikan karena ulah aktornya yang lucu.

Acara ini merupakan rangkaian dari bedah buku puisi karya Andy Sri Wahyudi (32). Andy adalah pelaku kesenian lintas genre. Ia mengibaratkan laku seninya seperti bermain-main dengan semangat anak kecil tetapi tetap bertanggungjawab. Seperti halnya kali ini, puisinya dalam dua buku antologi di pilih dan direpresentasikan ke pertunjukan teater. Dua buah antologi puisi itu yakni, "Ibu, Aku Ingin Dibelikan Mushola" dan "Iblis Imut dan Uh Kamu Nyebelin".

Selama sepuluh tahun Andy menulis puisi dalam dua buku tersebut. Laku seni, bagi Andy, bukanlah laku memiskinkan diri. Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam tersebut mencoba membongkar faham itu. Keseriusan berjibaku dengan karya seni yang membuat lupa dengan sisi lain dari hidup ditolaknya. "Yang penting aku tidak mengalami kalau puisi memiskinkan diriku," ucap salah satu tokoh dalam pertunjukan dengan tajuk "Pertunjukan Puisi Dalam Fragment Cinta".

Andy menggodog konsep pertunjukannya dengan membenturkan realita. Dalam salah satu adegan, seorang penyair membaca dengan serius. Tetapi masyarakat bukannya menikmati, malahan menganggapnya tidak ada. Bahkan ada yang menyangsikan kata-kata indah dari mulut penyair. "Buku ini bagi saya adalah sebuah kenang-kenangan perjalanan hidup," kata Andy kepada Jateng Pos.

Lagi, tokoh dik iblis di pertunjukan ini adalah interprestasi sahabat yang setia. Tokoh utama, diperankan Andy, mempunyai sahabat sedari kecil yaitu dik iblis ini. Sejak kecil tokoh utama tanpa nama ini menginginkan menjadi penyair. Namun, ibunya selalu tidak merestui. Bahkan seringkali diusir karena menurut ibunya penyair tidak mempunyai ketrampilan dalam bertahan hidup. Tokoh utama tetap bersikeras menjadi penyair. "Sedikit banyak tulisan saya adalah pengalaman hidup saya sendiri," ucap penulis naskah Bengkel Mime Teathre ini.

Sekitar 90 penonton dibuat gembira karena kelucuan realitas penyair. Usai pementasan dilanjutkan bedah dua buku antologi itu. Diskusi berjalan mengalir. Konsep pembacaan puisi yang dibawa Andy dianggap eksplorasi baru. Penyuguhkan pantomim dan alur dianggap menjadi kabar gembira dalam eksplorasi puisi yang seringkali terkesan kaku. "Menurut saya puisi Andy itu sangat serius. Meski presentasi dalam pertunjukan diungkapkan dengan kulucuan," kata Agung Hima, pembicara dalam bedah buku. (Aristya Kusuma Verdana)


________________________________________________________________________


Andy SW, Mengolok-olok dalam Puisi

Semarang Tengah

Kurang lebih satu jam lamanya, Rabu (19/7) lalu penonton disuguhi pembacaan puisi  oleh kelompok pertunjukan Bengkel Mime di Gedung E Lantai III, kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Jalan Nakula 1 Nomor 1- 12, Semarang. Andy Sri Wahyudi (32) penyair yang puisinya diterjemahkan dalam bentuk pertunjukan malam itu juga ikut pentas bersama Bengkel Mime. Pertunjukannya menjadi menarik karena seluruh puisi  yang ditampilkan dibingkai dalam satu alur cerita tertentu. Ada penokohan meskipun tidak jelas benar karakternya. Semua fragmen bersumber pada 2 antologi yang malam itu diluncurkan bersamaan.

Dua buah antologi puisi itu yakni, Ibu, Aku Ingin Dibelikan Mushola dan Iblis Imut dan Uh Kamu Nyebelin. Nyaris semua puisi yang dipilih merupakan bahan olok-olok, ejekan, ajakan menertawakan diri profesi penyair. Andy, penyair kelahiran Yogyakarta 13 Desember 1980 bersama para pemain lainnya secara bergantian membacakan puisi setelah sebelumnya selalu didahului dialog-dialog antar pemainnya."Ini merupakan kali pertama saya mementaskan puisi, saya bilang pentas karena seluruh pertunjukannya memang digarap serius dan tidak asal baca. Ada alur, tokoh yang berusaha kami bangun, konflik, dan klimaks," katanya pada Warta Jateng.

Tidak dinyana, bahasa puisi yang untuk beberapa orang sulit dipahami, dengan dibantu visualisasi melalui pentas menjadi cukup mudah dipahami. Hal ini dirasakan oleh Sulung Pamanggih, mahasiswa IKIP PGRI yang malam itu menonton."Pertunjukannya ringan, mudah dipahami, namun cukup menampar," katanya.

Dalam salah satu adegan misalnya, tokoh utama terus menerus membacakan puisinya sementara ibunya di dapur memanggil-manggil tokoh  utama untuk disuruh membeli bumbu dapur. Dengan tegas tokoh utama menolak, lalu sekonyong-konyong ibunya datang dan menampar wajah anaknya."Itu salah satu adegan yang  saya suka, menjadi ringan karena adegan itu disajikan dengan sederhana. Si Anak wajahnya polos, dan kemarahan ibunya ditunjukkan dengan wajar. Tidak heroik dan berlebihan," tambah Sulung.

Dalam sebuah diskusi setelah pementasan, Andy juga mengakui pertunjukannya diinspirasi oleh kejadian sehari-hari yang dialaminya."Saya sutradara, penulis naskah, editor, aktor, dan kadang-kadang menyamar menjadi penyair. Semua campur aduk. Pentas ini bersumber dari apa yang saya alami dan didedikasikan untuk ibu saya dan seluruh pengalaman di masa lalu," katanya.

Bagi Andy menjadi penyair tidaklah harus terkotak-kotak dalam satu disiplin tertentu. Baginya menjadi penyair sebagaimana pilihan profesi sebagai seniman lainnya tidak lebih dari main-main semasa pentas tujuh belas agustusan. Semua orang bisa dengan mudah bertukar peran,  tidak ada sekat-sekat antara menjadi aktor, penyair, penulis naskah atau pilihan profesi lainnya."Saya hanya ingin menyatakan kehidupan kesenian itu tidak terkotak-kotak. Tak heran dalam pementasan puisi saya ini saya mengandalkan semua potensi dan sumber daya yang saya miliki," tegasnya. (m8 / Adin)


Dari Kesalahan Negara, Berubah Menjadi Maha Karya
oleh Imam Supriono pada Sabtu, Juli 21st, 2012 dilihat 125 kali
Pasti menjadi hal yang sangat menggembirakan kalau sebuah karya tulis bisa di diabadikan menjadi buku. Yap, hal inilah yang mungkin sedang dirasakan Andy Sri Wahyudi. Cowok dengan gaya gokil yang berasal dari Jogja ini baru saja melakukan bedah buku yang dibuatnya lho. Nggak hanya melakukan bedah buku saja, tapi bekerjasama dengan teman-teman dari Teater Kaplink Udinus, dia juga mementaskan tulisan puisi yang di bukukannya dalam fragment kasih sayang lho.
Gedung E Universitas Dian Nuswantoro lantai tiga adalah tempat yang dijadikan sebagai tempat berlangsungnya acara yang bertajuk “Sahabatan Dengan Dik Ibliz”. Tepat pada jam tujuh malam acara pun dimulai. Dengan mementaskan sebuah drama yang diambil dari buku hasil garapan Andy, mereka menghibur para penonton yang malam itu ikut hadir membanjiri veneu. Karena alur cerita pementasan dan tingkah laku para pemainnya yang gokil, nggak sedikit juga penonton yang tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya memang asal mula buku yang berisi kumpulan puisi yang dibuat Andy memang gokil. Jadi nggak salah kalau pementasannya sedikit berbabau humor.
Andy yang sebenarnya adalah orang yang nggak tahu sistematika dunia tulis nggak merasa minder untuk menjadi seorang penulis. Dengan memilih puisi yang mungkin banyak dari penerbit mayor label menimang puisi, maka dipilih jalur Indie untuk menyalurkan hobi menulisnya itu. Dengan ciri khas gayanya yang kekanakan, imajinya yang ‘kartun’ ini dia menceritakan hal-hal yang sederhana seputar kesehariannya.
Cowok yang menjadi penulis sekaligus sutradara dan pemeran ini juga menuturkan bahwa karena kesalahan negara lah yang membuatnya menjadi seorang seniman seperti ini. “Yang membuat saya terjun di dunia seni itu sebenarnya adalah karena kesalahan negara. Hehe! Karena dari kecil saya dididik menampilkan drama, puisi atau yang lain yang berbau dengan puisi pada peringatan 17′an”, tuturnya sambil tertawa. Dia juga mengaku bahwa dari lima saudaranya yanng lain, hanya Andy lah yang nggak memiliki jiwa seni di dalam dirinya. Namun karena terbiasa dari kecil, maka dari itu sekarang dia jadi seorang seniman.
Setelah 10 tahun menulis, akhirnya tiga buah buku pun dikeluarkannya. Sebut saja, “Uh Kamu Nyebelin (II&UKN)”, “Ibliz Imut”, “Ibu Aku Minta Dibeliin Mushola (IAMDM)“. Setelah selesai menyelesaikan bukunya itu dia juga mencurahkan isi hatinya kalau dia menyayangkan bukunya itu untuk dijual. “Sebenarnya nggak enak untuk menjual buku itu. Karena setelah menjualnya saya takut nggak bisa nulis lagi”, kata Andy dengan sedikit sedih.
Ya, kita doa kan saja semoga buku yang dibuat Andy bisa laku di pasaran. Semoga saja dengan di bedahnya buku itu semakin membuat Andy semangat untuk menulis kembali dan selalu memiliki inspirasi-inspirasi menulis yang lebih banyak. Amin! Keep spirit Andy!!!


Headlines News :
Home » Agenda » Rabu, "Sahabatan Sama Dik Ibliz" di Udinus 

Rabu, "Sahabatan Sama Dik Ibliz" di Udinus

Rabu, "Sahabatan Sama Dik Ibliz"" di Udinus

SEMARANG- Kegelisahan para seniman terus terjadi seiring laju peradaban zaman, mereka berusaha menemukan identitas dengan segala kebebasannya dalam berekspresi.

Seperti seorang sastrawan muda asal Jogjakarta, Andy Sri Wahyudi ini. Dengan menggandeng Teater Kapling Udinus serta aktivis kesenian di Semarang, karya-karya puisi seniman ini bakal "unjuk gigi" dalam pementasan puisi fragmen kasih sayang bertajuk "Sahabatan Sama Dik Ibliz", Rabu, (18/7) mulai pukul 19.00-23.00. Pergelaran akan berlangsung di Gedung E Lantai 3 Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang dengan tiket masuk Rp 10 ribu.

Pembacaan puisi kali ini mempunyai konsep, corak dan inovasi baru dari sang penggagas, Andy. Ia selaku penulis puisi, juga menjadi aktor sekaligus sutradara. "Bentuknya pementasan teater. Maka kami melibatkan beberapa aktor lain," tutur Bintang Al Huda selaku ketua perhelatan tersebut.

Beberapa aktor yang dilibatkan masing-masing; Desita Wahyu Gundi Aditya, Ficky Tri Sanjaya. Sementara pada Lighting dipegang oleh Firdaus Firmanto.
Menurut Bintang, Andy memang sengaja diusung dalam pertunjukan tersebut, sebab sastrawan satu itu mempunyai corak yang unik dalam generasi belakangan ini. "Sehingga, Andy kami anggap menarik dan karya sastra milik Andy patut mendapat apresiasi," ungkapnya.

Materi dalam pementasan ini diambil dua buku kumpulan puisi karya Andy Sri Wahyudi. Masing-masing berjudul "Ibliz Imut: Uh, Kamu Nyebelin!" dan "Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola". "Kami menggabungkan sisi puisi dengan teater. Setiap kata diramu dan diterjemahkan ke dalam bentuk konsep pertunjukan. Mulai kata-kata ringan, selenge'an, hingga kata penuh arti. Kesemuanya disampaikan secara lugas, bebas tapi tertata," terang Bintang.

Andy mengaku menggubah karya-karya puisinya sendiri untuk dipersembahkan secara khusus pada acara ini. "Jangan lupa datang lebih awal supaya kita bisa berbincang. Disediakan berkardus-kardus senyuman untuk Anda," timpal Andy yang juga aktif sebagai penulis dan sutradara di Bengkel Mime Theatre, sembari bercanda.

Tidak hanya itu, dalam rangkaian acara tersebut juga akan dilakukan bedah buku, yakni dua buku kumpulan puisi karya Andy Sri Wahyudi. Narasumber dalam diskusi dan bedah buku tersebut bakal mendatangkan sastrawan sekaligus jurnalis Adin Hysteria dan seniman senior Agung Hima. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Bintang +6287832358297. (G-15)


Home » AGENDA » Rabu, Bedah Buku Sahabatan sama Dik Ibliz di Udinus

Rabu, Bedah Buku Sahabatan sama Dik Ibliz di Udinus

By HaloSemarang - Sun Jul 15, 6:37 pm
Diskusi dan launching dua kumpulan buku karya Andy Sriwahyudi bertemakan “Sahabatan Sama Dik Iblis” akan digelar di Udinus.
Acara yang akan diselenggarakan pada 18 Juni 2012 ini dimeriahkan oleh Desita Wahyu, Gandhi Aditya, Ficky Tri Sanjaya serta sang penulis.
Pementasan yang akan dimulai pukul 19.00 ini juga menampilkan mini mime dan drama serta pembacaan puisi oleh rekan-rekan penyair Solo dan Semarang.
Jangan lewatkan diskusinya bersama Adin dan Agung Hima dalam membedah “Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola” dan “Ibliz Imut: Uh, Kamu Nyebelin” di Auditorium Gedung E Lantai 3, Jalan Nakula 1 No. 5-12 dengan harga tiket masuk Rp 10 ribu saja.
(Fitria Rahmawati)

Jumat, 03 Agustus 2012

Lounching di Semarang


ANDY, UH KAMU NYEBELIN
Oleh: Agung Hima (Penulis Tinggal di Semarang)

[1]

Andy bikin puisi? Begitu tanya yang setiap hari muncul di otak saya. Cah mime kok bikin puisi? Opo iso? Sembari menunggu kiriman bukunya saya pun menikmati indah pantai senggigi di lombok, disanalah saya juga mengalami sebuah peristiwa yang membuat saya berpikir ulang untuk berdekat-dekat dengan penyair. Pada akhirnya terjawab sudah apa yang pernah dikatakan Richard boleslavky, seorang tokoh drama modern yang pernah menulis 6 pelajaran bagi seorang aktor.  Bahwa penyair/penulis biasanya “Cuma” menuliskan sebuah peristiwa untuk di rangkaikan menjadi sederet-deret kalimat indah atau bahkan membingkai dengan bahasa alegoris yang njlimet hingga memungkinkannya terjadi puisi gelap. Bahkan semakin gelap konon katanya semakin indah. Duh…

Lewat sms, Andy mengabarkan puisi sudah dikirim, dan benar, 2 buah buku mungil dan manis itu sekarang sudah berada di atas meja belajar anak saya. “lumayan” begitu kata anak saya. 2 buah buku dengan warna dasar putih dengan gambar yang manis disertai pilihan font yang “kartun” emang sangat menarik. Judulnya juga seperti diperuntukkan bagi pembaca “remaja” IBLIZ IMUT dan UH, KAMU NYEBELIN (II&UKN).  Dan buku satunya IBU AKU MINTA DIBELIIN MUSHOLA (IAMDM). Wow.

Beberapa hari kemudian baru saya menelusuri buku itu, ada pengantar mutia sukma, ikun sk, satmoko budi santosa dan endorsment lainnya, yang kukira cukup menggambarkan apa yang dituliskan Andy. So, apalagi yang harus dibedah dari buku ini? Jangan-jangan kalau dibedah malah menambah nggak karuan, sebab saya sendiri masih meyakini bahwa “kesalahan-kesalahan” yang timbul dalam puisi justru ketika puisi itu dibedah sedemikian rupa sehingga puisi tidak lagi bebas untuk menemukan pembacanya sendiri. Nah lo!

[2]

Dalam mendeskripsi banyak bahasa di dunia diperlukan sebuah unit kata, sebagian kata dibatasi fonologis, sedangkan bagi bahasa yang lain dibatasi morfologis. Kata mempunyai stabilitas intern dan mobilitas posisional, yang berarti mempunyai komposisi tertentu dan relatif memiliki distribusi yang bebas. Tentu saja, dengan adanya distribusi bebas ini membutuhkan sebuah komunikasi dalam sebuah konstruksi kata-kata yang pada akhirnya dimungkinkan adanya sebuah pengertian, baik dari sebuah kata-kata yang tersurat ataupun tersirat.

Sebagai penyalur gagasan, kata ibarat “pakaian” yang dipakai oleh pikiran penulis untuk mengkomunikasikan “jiwa” yang terdapat dalam kata yang disusunnya. Maka perlu disadari bahwa semakin banyak kata yang dikuasai semakin memungkinkan menyalurkan gagasan atau ide yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapnya.  Mereka yang menguasai gagasannya atau luas kosa katanya akan dengan mudah mengadakan komunikasi dengan orang-orang lain.

Dalam hal ini ketika II&UKN dan IAMDM terlahir ia tidak lepas dari upaya komunikasi penulis kepada pembacanya (bahkan mungkin termasuk pilihan kover dan orang-orang yang memberi endorsement). Hingga pada akhirnya persoalan pemilihan kata menjadi sangat penting dalam penjalinan komunikasi ini. Sungguh sangat gegabah ketika menyederhanakan persoalan pilihan kata yang tidak perlu dipelajari atau dibicarakan karena menganggap bahwa proses itu terjadi secara wajar pada setiap manusia. Di dalam banyak puisi yang berceceran di setiap jaman, sering dijumpai puisi yang sulit mengungkapkan gagasan dan miskin variasi bahasanya tapi juga tidak sedikit menemu puisi yang berlimpah kata namun sama sekali tidak ada isinya.

Membaca puisi Andy dalam 2 antologi ini saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh nama-nama yang ada dalam kata pengantar dan endorsment dalam buku ini. Sebab setiap pembaca berhak menafsirkan apapun atas apa yang ditulisnya. Saya juga menemukan begitu banyak persoalan ketika membaca puisi-puisi Andy. Saya begitu lelah ketika membaca puisi-puisi panjang yang mungkin sarat makna tapi kadang juga sumringah ketika bertemu dengan kalimat-kalimat yang lucu. Puisi-puisi Andy memang benar mengaduk-aduk begitu banyak persoalan meski saya juga mendapat bahwa kadang ia gagap untuk menghentikan apa yang ditulisnya.

Ibarat saya butuh pecel, tapi Andy menuliskan banyak hal dan memberikan spaghetti, nasi liwet dan beraneka makanan untuk disantap, hingga pada akhirnya saya harus berhenti untuk menyantapnya. Secara ngawur dalam benak saya timbul bahwa kadang Andy tidak menyadari puisi yang ditulis sebanarnya harus berhenti pada titik yang seharusnya berhenti, tapi ia malah melanjutkan dengan banyak hal sehingga justru ketika ia menulis banyak maka ia bercerita sangat sedikit. Tapi justru ketika ia menuliskan puisi dengan beberapa kalimat, justru puisi itu bercerita sangat banyak.

USAI PESTA LUPA
:whani D

ada yang indah di dada kita
keberanian dan nafas panjang

HARI IBU
Ibu, aku tak cukup lelaki menjadi ibu

Puisi-puisi inilah yang justru secara pribadi membuat saya terperangah. Andy seperti bicara banyak hal tentang bagaimana sebuah proses bertahan hidup, menjalani kehidupan yang semakin hari semakin tidak mudah. Persis dengan apa yang pernah diusungnya dalam reportoar pantomim-nya beberapa tahun yang lalu (saya lupa judulnya).  Maka ketika saya membaca puisi-puisi dengan baris panjang, saya malah menemukan banyak kecerewetan yang meskipun mempunyai daya tonjok tapi malah membikin saya untuk tidak mengamininya. Persis ketika istri saya menasehati anak saya yang tetep mantuk-mantuk mendengar nasehat, tapi tetep juga tanganya lihai mengubah chanel televisi. Nah lo!

[3]

Saya meyakini bahwa apa yang ditulis Andy merupakan donne apenser atau suatu bahasa yang kepenuhan kekayaannya tidak pernah selesai diungkap. Maka puisi-puisi Andy memungkinkan untuk dibedah lewat cara apapun, dengan varisasi kajian akan dengan mudah mengungkap “something” yang ditulis Andy baik secara jelas atau disembunyikan.

Namun secara pribadi saya juga bercuriga bahwa puisi-puisi yang ditulis Andy mungkin merupakan embrio dari naskah-naskah reportoar pantomim yang belum selesai untuk dipentaskan. Sebagai seorang aktor mime dan sutradara tentu saya paham bahwa apa yang ditulisnya telah sampai pada proses “mengalami”.  Sehingga saya banyak melihat bahwa puisi-puisi Andy sungguh bercerita.  Disanalah saya menukan kemarahan, kelesuan bahkan sampai sebuah kesakitan yang menjadi energi hidup seorang Andy.

Maka sekali lagi saya sepakat dengan apa yang dituliskan dalam kata pengantar ataupun endorsement dalam buku puisi Andy.

Ditulis untuk Andy Sri wahyudi.


 
Teks-teks yang Sedih namun tetap Optimis

Oleh: Adin (Direktur, Hysteria Sastra)


Akan halnya Ikun SK, teks-teks Andy datang pada saya sudah sejak lama. Seperti ingatan yang cerewet ingin dihidup-hidupkan kembali, demikianlah Andy mengabsen saya tiap hari. “Adin yang baik apakah sudah selesai teks yang kamu tulis untukku,” katanya. Demikianlah ‘teror’ ini menghampiri saya tiap saat. Bahkan dalam beberapa kesempatan saya matikan handphone saya untuk menghindari diabsen dia. Hahahhaha. Tapi begitulah, kawan yang baik tidak akan pernah berhenti untuk terus menyapa dan meneror meski kita acuhkan berkali-kali bukan?

Heran juga, saya yang belakangan ini mulai tidak bergairah lagi dengan kata-kata, seolah diseret oleh panggilan yang tidak masuk akal untuk bersuntuk-suntuk dengan teks lagi. Setidaknya jika tidak bersuntuk-suntuk, dipaksa untuk bersemangat oleh ajakan teman-teman yang sedang bersemangat. Tidak hanya para mahasiswa baru, tetapi juga kakak kelas saya yang mau tidak mau saya tidak bisa berkelit. Maka, saya kembali pada jalan ini untuk saat ini.

Ada dua buah antologi puisi yang disodorkan pada saya, yakni Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola, dan Iblis Imut sengaja saya pilih satu judul saja untuk saya tekuni. Antologi pertama memuat sajak-sajak Andy pada kurun waktu 2001-2008 sedangkan antologi kedua memuat sajak dalam kurun waktu 2007-2011. Pilihan saya untuk mengapresiasi antologi yang kedua, Ibliz Imut, didasari pada bacaan sepintas lalu yang secara tekstual lebih menarik daripada antologi pertama. Pertimbangan ini tidak berdasar kajian teks secara mendalam, tetapi pada kesan sepintas lalu saja.

Beberapa waktu yang lalu saya dihadapkan pada teks-teks rekan saya Galih Pandu Adi dan Timur Budi Raja, keduanya juga memaksa saya untuk menengok mereka melalui teks yang dianggitnya. Teks keduanya meski mengelaborasi kesunyian dan kadang kesedihan, tetap saja mempunyai perbedaan dalam bahasa ungkap. Pada keduanya, masih banyak saya temukan kesunyian dan kesedihan yang dikatakan dengan cara seperti kebanyakan penyair menulis tentang kedua tema tersebut. Berbeda dengan teks-teks Andy, penyair yang juga pegiat mime ini menulis kesunyian, lebih khusus lagi kesedihan dan memperlakukan kenangan dengan cara berbeda.
Kata Andy:

Ada sedih yang warnanya ungu, merah, jingga, nila. Ada sedih yang remaja dan dewasa, ada sedih ang cantik, sedih yang ganteng, sedih yang fotogenik dan ada sedih yang genitnya minta ampun. Ada juga sedih yang masih kanak-kanak, ingusnya meler-meler. Ia berlari telanjang bulat sambil menangis, ia dikejar ibunya disuruh mandi. Wah..pasti kamu senang melihatnya. Melihat kesedihan berlarian lincah kesana-kemari.

(dalam ‘Adhik jangan menangis lagi ya..’)

Kesedihan hadir dalam puisi-puisi lelaki yang bernama lengkap Andy Sri Wahyudi ini dengan ringan, enteng, tidak berlarat-larat, kadang lucu, namun tetap sedih dan optimis

Tapi orang-orang sedih karena punya perasaan, tapi kamu tetap cantik seperti pantai

(dalam ‘Ibliz Imut)

Begitulah, karena punya perasaan orang-orang punya alasan untuk sedih, tidak lantas berlarat-larat dalam perasaan sedih, aku lirik tetap memandang optimis karena dia punya orang yang dicintai sebagai objek keindahan.
Dalam sajak ‘Ibliz Imut’ Andy menggambarkan leukemia dengan cara yang menarik. Penyakit yang menakutkan dan sering merenggut nyawa orang, ditangannya disulap menjadi penyakit yang lucu dan bersahabat. Bukan dalam artian leukemia bernada positif, namun mengajak penderita untuk menerima nasibnya dan berdamai dengan hal ini. Ada dua cara untuk memperlakukan nasib, pertama menolaknya, yang kedua menerimanya. Sajak ‘Ibliz Imut’ adalah ajakan Andy untuk tidak sekedar menerimanya dan pasrah, tetapi lebih dari itu mengajak untuk memberi pemaknaan ulang pada penyakit mematikan ini.
Masih ada kesempatan untuk memilih bahagia! Dalam keadaan sesedih apapun, termasuk dirundung leukemia. Inilah keistimewaan Andy dalam memperlakukan kesedihan.

Saya cenderung sepakat dengan Satmoko Budi Santoso dalam endorsement nya yang mengatakan puisi-puisi Andy ditulis secara spontan. Dasar pengeditan tekspun bukan berdasar pada renungan mendalam untuk mencapai daya ungkap yang orisinal, namun salah jika kemudian menyederhanakan Andy sangat menganggap remeh bahasa. Dalam sajak ‘Sore Itu Aku Tak Menemukanmu’ misalnya Andy sama sekali tidak main-main. Tidak kita temui kat-kata semacam ngrumi, soklat, buatjingan, ampyun dan beberapa kata lagi yang membuat sajak-sajak Andy terkesan main-main.

Kesan lain yang saya tangkap, Andy hendak membuat bahasa menjadi miliknya sendiri meskipun jelas itu tidak mungkin karena sajak-sajaknya masih mengandaikan untuk dibaca orang, artinya ia tetap pada konvensi bahasa baik sintaksis maupun semantiknya. Namun usaha untuk membuat itu jadi khas Andy memang terasa, misalnya dalam penggantian kata coklat menjadi ‘soklat’, bersentuhan dengan ‘bersintuhan’ merupakan salah satu bukti usahanya.

Tidak seperti Roland Barthes yang menganjurkan matinya pengarang ketika teks lahir, saya justru sangat kesulitan membunuh Andy dalam tiap pembacaan sajak-sajaknya. Wajah Andy, perilaku yang menyebalkan, humornya yang aneh, dan tawaran persahabatannya yang lucu melulu hadir dan memaksa saya membaca teks-teks ini dengan menghadirkannya dalam imajinasi saya.
2007 lalu saya pertama kali berjumpa dengan penyair kelahiran Yogyakarta, 13 Desember 1980 saat mendapat kesempatan lokakarya penulisan buku program di Jakarta yang diselenggarakan oleh Yayasan Kelola. Sejak saat itu kami intens menjalin kontak.

Beberapa puisinya juga secara sengaja ditujukan untuk nama-nama tertentu. Ini juga menjadi penyebab sulitnya saya menceraikan Andy dalam pembacaan saya. Saya sedang membayangkan Andy bertutur pada saya, Dab Joko Bibit, Gus Dur, Dwi Cipta, Indrian Kota, Joned, Whani Darmawan, Danarto dan banyak lagi sahabat-sahabatnya yang disebut satu persatu.

Pada Dab Joko Bibit misalnya aku lirik mengajak person yang disapanya sejenak bedamai dengan kebencian yang mengalir sederas arus mimpi, pada Gus Dur ia mengenangnya dengan jalan memutar. Tidak langsung spesifik menyapa Gus Dur, Andy lebih senang menceritakan Gus Dur melalui kisah yang dibangun bersama ibunya. Semua ini membuat saya mengimajinasikan Andy sebagai kawan yang ramah menyapa dan semakin saya bayangkan semakin basah pembacaan ini atas kehadirannya.
Namun demikian entah kenapa kejenakaan itu pelan-pelan lenyap pada sajak-sajak yang ditulis pada tahun 2011 an. Kalau diperhatikan sajak-sajak Andy berubah menjadi sajak ‘serius’ lagi. Mendadak saya kehilangan Andy yang lucu dan menyebalkan. Kenapa? (m8)


Puisi Klembak Mentol
Ratjikan Aseli Pemuda Andy
(catatan untuk dua buku puisi Andy Sri Wahyudi : Iblis Imut, dan Ibu Aku Minta Dibelikan Mushola) 
Jika Anda adalah seorang penulis syair atau prosa fiksi, maka kemungkinan besar Anda perokok, tak urusan saya jenis kelamin Anda. Nah, Anda pasti juga sadar, betapa rokok adalah sebuah realita kegigihan umat manusia Indonesia. Lihat saja, betapa gencar kampanye penindasan dan upaya-upaya terang-terangan untuk membunuh rokok. Tidak saja berasal dari gerakan pura-pura intelektuil, tetapi juga dari tangan kanan Negara melalui Kementrian Kesehatan, bahkan melalui sayap agama dan organisasi agama yang dengan sukarela, menjanjikan neraka untuk Anda (perokok).
Namun demikian, bagaimana nasib konsumsi rokok? Surutkah? TIDAK! Paberik-paberik, dengan semangat mengejar uangnya terus berupaya melawan tanpa harus menyerang kembali musuh besarnya… dan kita (perokok)? Juga dengan penuh kegigihan yang agung (tanpa makian dan kebencian) terus tersenyum menggali sumber-sumber uang sehingga tetap bisa merokok dan berkarya. Kita, kaum2 yang tegar, dan pantas dijuluki generasi penerus orang-orang luhur …
Nah, demikianlah fenomena puisi… sampai hari ini, kita terus mengenal dengan baik karya-karya puisi besar dari generasi lama, dan kita saksikan bersama kelahiran yang terus menerus memunculkan penyair baru. Tetapi, berapa jumlah kumpulan puisi di toko buku? Rupanya, puisi bukanlah konsumsi yang menyehatkan sehingga pabrik2 buku tidak serta-merta menganggapnya sebagai komoditi yang menguntungkan. Lagipula, menulis puisi, umumnya sudah dikenal oleh hampir semua orang sejak masa awal remaja ketika cinta monyet menghampirinya. Ya, hampir semua orang pernah membuat puisi. Mungkin begitu sebabnya, sehingga menerbitkan puisi bukanlah hal yang modis bagi penerbitan buku.
Tetapi sebagaimana pabrik rokok dan perokok, penyair-penyair semacam Andy, yang keturunan orang-orang luhur ini, tidak menemukan satu alasanpun untuk dendam dan mengumpat. Ia justru melenggang dengan karya-karya sederhana dan gokil. Lalu keceriaannya membuat malaikat bersedia menuntunnya, mempertemukannya dengan orang-orang serupa, yang tetap tulus mencintai puisi. Penerbit mayor label enggan menimang puisi, maka alam menggeliat mereka-reka lahirnya penerbitan Indi, dan orang-orang semacam Andy, menemukan jalan untuk berpuisi.
Puisi-puisi Andy ini bergaya aneh dan lucu. Saya tidak yakin ia bisa lolos masuk ke Koran. Tetapi, nyatanya, kita tidak bisa menolak bilang bahwa puisi nya ini memang unik. Gayanya yang kekanakan, imaji nya yang “kartun” dan isi nya yang tidak sulit untuk disimpulkan bahwa ia mempuisikan hal-hal sederhana kesehariannya. Ia menulis puisi sebagaimana remaja 90-an menulis Diary. Andy, membelokkan kecewa atas hal-hal yang lewat begitu saja dalam hidupnya di masa kecil, menjadi semangat untuk menjaga apa yang sedang melintas dalam hidupnya kini ke dalam puisi. Mungkin biar abadi. Ini berarti, Puisi bagi Andy adalah semacam sebuah jalan keluar, sebuah langkah hidup. Ini mengingatkan saya pada Haji Djamhari yang mencari cara agar tetap merokok tetapi batuknya juga bisa sembuh, dan terciptalah rokok kretek yang mengandung cengkeh itu.
Pada puisi Andy, terasa adanya sesuatu yang lugu dan beraroma “ndesa” sekaligus lawas, seperti aroma rokok klembak menyan. Meski seringkali kita temukan gaya-gaya kalimat “muda” yang hanya muncul dalam pergaulan kota masa kini, seperti rokok Mentol… Ya Puisi Andy seperti rokok jenis baru, Klembak Mentol, apek tapi seger semriwing, udik sekaligus gaul… Dan sekali lagi, seperti kegigihan rokok, penerbitan puisi Andy ini adalah juga bentuk kegigihannya, untuk tetap bisa merokok… J  
M. Ahmad Jalidu, chief editor Garudhawaca Digital Book.




Melodi Memori


Cerita Cinta
Oleh: Andy Sri Wahyudi
                                                                                                   
Sudah kukatakan pada Tia, perempuan seleraku sangatlah sederhana. Aku suka gadis berwajah keibuan, bergaya keibuan, berprilaku keibuan, bertutur kata keibuan dan aku juga menyukai Ibu-ibu. Tia belum juga percaya dengan pernyataanku itu, Tia selalu berusaha mengenalkanku dengan gadis-gadis macam Lia, Nina, Lupik, Imola, Luna, atau Imel. Kurasa mereka sama saja, seragam, tidak eksentrik dan mudah membuatku bosan.
Seleraku bukanlah gadis putih, langsing, semampai, trendi dan modis. Aku hanya pemuda kampung yang tak suka neko-neko. Sudah berkali aku katakan pada Tia kalau aku mencintainya dengan sepenuh perasaanku, meski Tia tidak percaya. Mungkin ia merasa aneh dengan dirinya, mengapa ada laki-laki yang bisa jatuh cinta padanya yang gedut dan sama sekali nggak modis. Aku tersenyum sendiri jika ingat peristiwa petang hari di bawah pohon jambu tempat aku dan Tia suka menghabiskan waktu di siang hari.
“ Nang, aku ingin tahu alasanmu, mengapa kamu mencintaiku selain aku ini keibuan dan seperti ibu-ibu?”
“Tia, aku tak punya alasan apa-apa, dan jangan kau tanyakan lagi.”
Tia diam, aku diam. Cuit..cuit..cuit…cuitt…seekor burung mencuit sambil bergegas dari ranting terbang ke udara bebas. Kami pulang jalan kaki berdua dan saling diam. Sesekali jari-jari tanganku kusenggolkan jari-jari tangannya. Tia cuek saja.
Tidak hanya satu – dua kali peristiwa itu terjadi, mungkin puluhan kali, dan selalu berakhir dengan diam yang sebenarnya kusukai. Aku merasakan dalam diam itu ada perasaan geli, sebel, lucu, malu, dan rasanya…ingin sekali mencubit pipi Tia yang tembem itu.
Setiap peristiwa itu berulang, selalu ada seekor burung yang mencuit-cuit ketika kami berdua sama-sama diam. Cuit..cuit..cuiit…cuitt…

Jumpa Pertama
Tia, gadis manis yang gaya berpakaiannya kadang mengejutkanku. Uh! Selera fashionnya mirip ibu-ibu PKK atau ibu-ibu yang berangkat arisan atau ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah. Berkemeja batik, bercelana kain dan bersepatu tipis tanpa hak, kadang mengenakan rok di bawah lutut. Satu yang membedakan dengan ibu-ibu: tas punggung yang berisi novel, bedak dan artikel tentang pendidikan. Kadang dia mengenakan kemeja coklat yang didobeli jaket warna merah dengan ritsliting depan terbuka. Namun Tia sangat cuek bebek, tiap hari menjalankan aktifitasnya sebagai mahasiswa komunikasi dan pengajar honorer di SMU swasta. Aku tak tahu apa yang ada dalam benaknya ketika memilih pakaian. Temanku ada yang mengomentari, jika cara berpaikaiannya aneh, kadang pilihan warna dan model berpakainnya tabrakan.
Aku bilang, “dia memang suka dengan gaya seperti itu.”
“Wuuu…jangan diperhalus dong kamu harus mengakui kalau pikirannya memang sampainya segitu,” balas temanku. Aku tertawa ngakak, “ya, pikiran yang nabrak-nabrak!”
Baru lima bulan aku mengenal Tia, aku masih ingat pertama kali bertemu ketika menghadiri acara baca puisi di sebuah komunitas teater. Aku tak menyangka bisa mengenalnya dengan cepat dan langsung akrab, padahal Tia termasuk gadis pendiam yang sulit didekati. Tia hadir di acara pembacaan puisi sendirian. Tentu saja terlihat sangat asing di komunitas itu, lantaran yang biasa menghadiri acara baca puisi hanya orang-orang itu saja. Aku mendekatinya setelah dua puisi karya Marwan anggota baru teater itu dibacakan dengan nada romantis. Ku sapa Tia dengan kepercayaan diri yang kukumpulkan beberapa menit lalu.
“Hai, selamat malam…”
“Eh, malam juga..” dia melihatku dengan tenang tanpa curiga.
“Kamu sendirian ya? dari komunitas mana?” tanyaku sok akrab.
“ Hmmmm…aku sendirian dan aku tak perlu komunitas.”
“Tahu dari mana acara ini?”
“Dari baca poster jelek di papan pengumuman depan.”
“Eh, maaf namamu siapa? Aku Lanang”
“Tia” sambil menjabat tanganku tanpa basa basi.
“Mengapa kamu datang ke acara ini?”
“Aku sedang suntuk, malas dan frustasi, trus mau bikin puisi juga buntu.”
“Trus ndengerin orang baca puisi?” sambungku
Tia hanya tersenyum melihatku.
Aku mengambil salahsatu kursi yang masih kosong dan menjejerkan dengan kursi yang diduduki Tia. Kami berdua terlibat dalam obrolan yang akrab dan tak lagi memperhatikan pembacaan puisi. Kurasa percakapan kami lebih puitik daripada pembacaan puisi yang masih dengan iringan musik perkusi dan terkesan mistis nan artifisialis.
Tia pulang setelah acara selesai, dia tak mau ku antar meski hanya sampai parkiran sepeda motor. 
Senang rasanya berkenalan dengan cewek seperti Tia. Aku merasa udara malam tengah tersenyum padaku…Sejak saat itu Tia menghiasi pikiranku, memenuhi buku harianku, dan sering membuatku melamun. Tak dapat kupungkiri, aku naksir Tia.

Ternyata
Aku terkejut ketika berkunjung ke rumah Tia pertama kali, di kota kecil Klaten. Ketika aku duduk di ruang tamu, secara iseng kubuka album-album keluarga yang tergeletak di atas meja tamu. Sepertinya memang tamu dipersilakan membuka-buka sendiri. Aku kaget sekali ketika ada sebuah foto yang berlatar halaman rumahku, ada juga foto kakakku ketika masih kecil yang mengenakan seragam pramuka dan di sampingnya ada sepeda roda tiga milikku. Auuhh… Sungguh aku kaget sekali, gambar dalam album itu membuat ingatanku terbang ke masa lalu ketika rambut ayahku masih hitam legam. Ketika aku masih bersenjatakan botol kempongan susu. Aku berusaha mengingat-ingat semua temanku waktu itu demi rasa kagetku tentang Tia dan masa kecilku.
Setelah lama kuingat-ingat, aku baru sadar ternyata Tia adalah sahabat masa kecilku yang telah berpisah selama tujuh belas tahun lebih. Tia, gadis kecil berambut poni itu, dulu selalu bermain berdua denganku. Dulu kami paling suka berlarian di atas pematang sawah mengejar kupu-kupu yang tersesat. Tia, Gadis mungil yang dulu selalu menggandeng tanganku jika hendak menyeberang jalan raya untuk membeli ice juice jambu biji di warung mbak Tini.
“ Nang, silakan diminum.” Tia memotong lamunanku tentang masa kecil.
“ Eh, oh..iya Tia, terimakasih.” Aku tersenyum melihat Tia yang juga tersenyum segar.
Betapa kagetnya aku ketika melihat segelas ice juice kental warna pink tua di atas meja. Jelas itu adalah juice rasa jambu biji kesukaanku dari kecil. Lebih tepatnya kesukaan kami dari kecil. Aku tambah kaget ketika di dalam gelas kulihat dua sedotan plastik yang ujungnya mengarah ke arahku dan ke arah Tia. Sungguh, peristiwa kali ini membuatku bergetaran menahan rindu yang datang tiba-tiba. Ingatanku kembali melayang jauh ke belakang ketika aku dan Tia melakukan kebiasaan-kebiasaan lucu dan mengesankan: Aku dan Tia masih berusia 6 tahun, rambutku masih prontos dan Tia berambut poni. Di kebun belakang rumah, setiap hari minggu pagi cerah kami berdua berdiri menghadap ke timur tempat matahari terbit. Kami berdua paling suka melihat cahaya matahari yang bersilangan menembus celah-celah pohonan. Aku dan Tia paling suka mengelus-elus batang sinar matahari yang berbentuk seperti tombak menancap di tanah. Kami melihat ada jutaan bulatan debu kecil yang hidup di dalam sebatang sinar matahari itu. Debu yang kami sayangi. Kami menamainya debu piaraan Tuhan. Aku dan Tia sangat mencintai sinar matahari. Aku masih ingat ketika kami sering berdoa di bawah pohon jambu, kami memohon kepada matahari agar menjadi sahabat abadi. Sejak saat itu Kami mengaku sebagai anak matahari.
Selain kisah ‘matahari’, ada yang membuatku tersenyum ketika mengingat sesaji yang kami buat dari daun-daun, tanah, air, ranting, batu dan buah-buahan yang jatuh. Sesaji itu kami taruh pada sebuah sekotak kayu  yang tak lagi terpakai. Kami menaruhnya di bawah pohon – pohon besar karena setiap pohon yang besar kami anggap sebagai Ibu dari setiap pohon kecil yang sedang tumbuh. Sesaji itu kami persembahkan kepada pohon besar  sebagai tanda rasa sayang kami kepada ibu pohon yang menghidupi pohon-pohon yang lain.
Ah, belasan tahun telah lewat tapi kenangan itu masih juga hangat terasa dalam ingatan dan perasaan kami berdua. Di ruang tamu kami tertawa-tawa, menertawai nostalgia dan pertemuan tak disangka. Tia adalah anak pak Hasan, tetanggaku dulu yang pindah rumah lantaran Pak Hasan dipindah tugaskan ke luar pulau Jawa. Dulu keluargaku dan keluarga Tia sangatlah akrab meski keluarga Tia jauh lebih kaya dari keluargaku.
Saat ini adalah Lanang dan Tia yang mengaku sudah sama-sama dewasa.

Tia, Kamu Seksi
Jendral Ramilo dari Filipina pernah berkata kepada Presiden Sukarno bahwa orang-orang Filipina itu ganteng dan cantik, Sukarno menjawabnya dengan enteng “Ya, mungkin, tapi orang-orang Indonesia itu Seksi”. Tia hanya tersenyum kecut mendengar ceritaku, dia bilang, ah, Sukarno  si pecinta keindahan itu, memang selalu membuat bangsanya menjadi percaya diri. Apakah Sukarno punya ukuran seksi yang mengglobal? Seksi yang diakui seluruh dunia? Hehehe..kubilang bahwa semua orang Indonesia itu memang seksi termasuk nenek-nenek, kakek-kakek, ibu-ibu. Juga tanah airnya yang ke-seksi-annya diakui dunia. Kalau masih nggak percaya lihatlah relief perempuan di candi-candi itu, betapa seksinya leluhur kita. Seksi yang subur, bukan seksi yang kerempeng. Kami berdebat hingga marahan seminggu hanya gara-gara kata: Seksi!
Suatu ketika aku menulis surat pernyataan buat Tia tentang kata ‘seksi’ yang kuakhiri dengan kalimat: Tia, kamu seksi. Tia membalas surat itu dengan balpoin warna merah marun, “GOMBAL!”
Aku sedikit tersinggung, lantas ku bercerita apa adanya pada Tia:
Tia, kamu layak mencurigai seleraku tentang perempuan yang keibuan dan yang berbau ibu-ibu. Sebab sejatinya aku bingung dengan diriku, bingung dengan semua relasi yang pernah kujalani. Salah seorang sahabatku pernah bilang bahwa aku tak mempunyai selera tentang perempuan. Katanya aku asal pacaran saja, asal menerima dan menyatakan cinta, setelahnya tak ada masa depan untuk cinta. Aku tak pernah merawat dan bercita-cita dalam berpacaran. Lantas untuk apa pacaran?
Sejak saat itu aku tak pernah lagi pacaran, karena aku merasa bersalah dan merenungi keadaanku. Aku bingung  dengan mitos cinta yang katanya, membuat deg-degan, salah tingkah, menggetarkan dada dan indah tak terkatakan. Juga menyimpan misteri. Tapi diusiaku yang sudah 25 tahun belum juga merasakan seperti dalam mitos tersebut. Biasa saja, bahkan terlalu biasa. Aku pernah curiga dengan diriku, jangan-jangan aku pecinta sesama jenis. Aku pernah secara iseng beciuman dengan laki-laki tapi rasanya juga biasa saja, malah geli sendiri.
Ketika beberapa kali bertemu denganmu aku merasakan seperti mitos cinta orang kebanyakan itu. Saat itu juga aku merasa punya selera pada perempuan, maka kukatakan padamu kalau seleraku cewek yang keibuan dan serba ibu-ibu. Karena aku melihatmu dengan ciri-ciri seperti itu, tapi sebenarnya ada sesuatu yang sulit kukatakan dengan bahasa daerah atau bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Biarkan sesuatu itu hanya kurasakan dan menjadi milikku.
Kamu boleh membuang suratku, tapi yang harus kamu ingat  “Seksi itu tidak setiap hari muncul, tapi setiap saat bisa muncul dan diam-diam memukau”. Aku tak akan mengatakan saat kamu secara diam-diam membuatku terpukau. Maaf.
Sekali lagi kukatakan padamu, kali ini secara lisan: Tia, kamu Seksi J

Cerita-Cerita Kecil Menuju Harapan
Pertemuanku dengan Tia membuat orang tuaku kaget, apalagi setelah aku mengajak Tia main ke rumah. Ibu seolah tak percaya.
“Masak sih ini Tia..?” kata Ibu memandangi Tia agak lama.
“Iya, bu, ini Tia anak Pak Hasan.” Kataku menyahut.
“Ah, ibu nggak percaya, coba ibu tanya”
Tia hanya tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya.
“Tia, Ibumu masak apa?” tanya ibu membuatku heran.
Tia melihat ibu lalu tersenyum dan menjawab dengan cepat.
“Masak terong dan goreng ikan asin!”
“Apa?
“Masak terong dan goreng ikan asin!!” kata Tia dengan nada meninggi.
Setelah itu Tia tertawa, ibu juga tertawa dan mereka berpelukan erat. Aku baru ingat, pertanyaan itu sering diucapkan ibu untuk menggoda Tia waktu masih kecil. Tia selalu menjawabnya dengan jawaban yang selalu sama dan bernada sebal, karena ibu selalu mengulang pertanyaannya. Kemudian terjadi percakapan hangat antara ibu dan Tia. Ibu menanyakan kabar Pak Hasan dan Bu Hasan yang sekarang tinggal di Klaten. Ibu bercerita kalau ayah sudah meninggal dunia dua tahun lalu dan tentang kakakku yang sekarang bekerja di Surabaya.  Aku memberitahu ibu, Tia sekarang tinggal di rumah Neneknya di Jogja. Ibu nitip salam buat keluarga Tia. Aku berharap ibu bahagia jika aku pacaran dengan Tia. Ibu terlihat sayang pada Tia. Aku juga berharap Tia membuatku bersemangat untuk menyelesaikan skripsiku yang sudah dua tahun terbengkalai.  
***
Menjelang siang di bulan Maret, aku dan Tia pulang kuliah jalan kaki menuju rumah Nenek Tia. Langit yang cerah, tiba-tiba mendung, rintik gerimis turun perlahan. Aku dan Tia melihat langit, lalu kami berpandangan dan tersenyum seolah bersepakat untuk tidak berteduh. Berdua berjalan santai membiarkan gerimis yang diam-diam membasahi baju dan tubuh kami. Beruntung tas kami terbuat dari bahan anti air. Aku dan Tia menikmati perjalanan hari itu, bercakap-cakap di sepanjang jalan di bawah gerimis yang lembut. Tentu saja sambil tertawa-tawa, kadang menertawai orang-orang yang kerepotan mengenakan mantel di tepi jalan. Berdua bergandengan hingga sampai ke rumah nenek Tia dengan basah yang menggembirakan. Hati kecilku bebisik pelan: terimakasih Tuhan,  telah menghadiahiku gerimis seperti ini. Aseekk…deh…
Sesampai di beranda rumah, Pak Hasan dan Bu Hasan menyambut dengan senyuman dan geleng-geleng kepala.
“ Duh…kalian itu sadar nggak sih kalau sudah dewasa? atau mau nostalgia masa kecil?” kata Bu Hasan dengan nada sedikit jengkel.
“Iya bu, sadar kok…” balas Tia sambil menaruh tas di kursi beranda.
“Udah sana langsung ke belakang jangan sampai ketahuan Nenek.” Sahut pak Hasan.
Sementara aku agak kikuk dengan kejadian itu, sungguh malu sekali rasanya. Aku tak menyangka kalau orang tua Tia datang ke Jogja. Tia menggandeng tanganku ke kamar mandi lewat pintu belakang. Kuucapkan kata permisi dengan agak gerogi pada orang tua Tia. Kuharap pak Hasan dan Bu Hasan memaklumi kejadian ini.
“Lho, Lanang sudah bawa pakaian ganti?” kata Bu Hasan.
Aku menjadi tambah kikuk, aku dan Tia menghentikan langkah.
“Tia, nanti Lanang dipinjami baju ayah, ambil di almari lama.” Lagi Pak Hasan menyahut.
“Waduh..terimakasih Pak…” ucapku lirih.
“Ayo cepet!” Tia menarik tanganku.
Aku segera akrab dengan keluarga Tia. Bu Hasan sering bercerita padaku tentang Tia dan tentang kakaknya yang bekerja di Jakarta. Pak Hasan juga sering bercerita tentang burung-burung piaraannya. Bu Hasan da Pak Hasan menanyakan kabar ibu, dan berencana bermain ke rumahku. Duh…aku merasa diterima di tengah  keluarga Tia.
***
Suatu hari Tia bercerita padaku tentang kisah cintanya yang selalu ia sembunyikan pada siapapun, juga keluarganya. Tia pernah pacaran dengan cowok sekelasnya sewaktu SMA dan kakak angkatannya di kampus, tapi keduanya berakhir dengan alasan yang sama: sudah tidak cocok lagi. Aku tak menanyakan perihal ketidakcocokannya, hanya kudengarkan saja semua ceritanya. Kadang di sesela cerita aku mencium kening Tia saat dia menundukkan kepala.
“Hmm…Tia, aku suka nonton film kartun Tom and Jerry, Kamu suka?”
Tia terdiam tiba-tiba, mungkin dia merasa jengkel karena aku seperti akan mengalihkan tema ceritanya. Mungkin ia mengira aku malas mendengarkan ceritanya, tapi segera kujelaskan tentang falsafah film kartun itu. Tom dan Jerry, sepasang tokoh kucing dan tikus yang tak pernah cocok, tapi mereka menjadi sepasang tokoh yang seru. Tokoh yang menghibur diri sendiri dengan ketidakcocokkan. Tokoh yang banyak akal karena terinspirasi dari ketidakcocokkan. Tokoh yang membuat dunia mereka menjadi ramai karena “tidak cocok”. Aku yakin jika tak ada Tom pasti Jerry kesepian, begitu juga Tom pasti akan resah dan merasa kehilangan jika tak ada Jerry. Jadi mengapa harus putus hanya karena tidak cocok? Aiihh, aku ini….diam-diam aku berdoa, semoga Tia tidak bertanya mengapa aku putus dengan pacar-pacaraku. Aku khawatir akan kujawab: sudah tidak cocok lagi. Tia tersenyum lebar lalu meremas lembut jari-jari tanganku.
Aku dan Tia duduk berdua di sebatang pohon Jambu yang baru tumbang di belakang rumahku. Kami bercerita tentang banyak tentang sambil melihat bulan yang bulat penuh. Tia berbisik padaku, “Nang, kita akan saling bercerita hingga kita sama-sama tua kan?” Aku menoleh, kupandangi mata Tia dalam-dalam lalu kuberbisik padanya, “Iya Tia, kita akan bercerita hingga sama-sama tua.”
Ujung bibirku menyentuh daun telinga Tia, tepat ketika seekor nyamuk menggigit leherku.

Jogjakarta, Maret 2012