Selasa, 30 Oktober 2012

Titer


Posted by skAnA under Review/Liputan | Tags: Joned Suryatmo, Teater Garasi |
Leave a Comment 

Oleh: Andy Sri Wahyudi *

Ih, sebel deh,” gerutu seorang cowok saat berjejal antri masuk ruang pementasan. Pintu masuknya memang terlalu sempit, jadi harus bergilir satu persatu. Apalagi jumlah penontonnya sekitar seratusan orang? “Uh, Busyet dah!

Malam itu adalah hari pertama pementasan Malam Jahanam karya Motinggo Boesye, yang dimainkan oleh kelompok Actor Studio dan disutradarai  oleh Joned Suryatmoko (Sutradara Teater Gardanalla). Pementasan diadakan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan no:3 Yogyakarta. Pementasan ini merupakan program Aktor Studio: Program belajar keaktoran yang ditujukan kepada siapa saja yang ingin mempelajari keaktoran secara lebih dalam.

Tempat duduk yang berbentuk punden berundak itu sudah dipenuhi penonton. Panggung hanya disinari lampu warna biru yang diredupkan. Para penonton masih menunggu sambil asyik ngobrol dengan berisik. Tata ruang panggung dibagi menjadi dua: level atas adalah sebuah jalan, sedang level bawah rumah penduduk. Dua rumah berdinding bambu dan beratapkan rumbai-rumbai mendominasi ruang.
Suara berisik para penonton berangsur hilang, ketika terdengar suara lirih deburan ombak yang membangun imajinasi tentang pantai. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Suara wanita yang mengumpat jengkel. Ialah Paijah istri Mat Kontan. Seseorang keluar dari dalam rumah dengan bentuk tubuh dan gerak aneh (orang kelainan mental) ia berlari ketakutan sambil mohon ampun saat di kejar Paijah. Ialah Utay, si Pandir. Rupanya pertunjukan telah dimulai.

Saya masih terpesona dengan setting panggungnya. Adalah rumah Soleman di sebelah kanan, agak maju menghadap serong ke kiri dan rumah Mat Kontan berada di kiri panggung lebih ke belakang, mengarah diagonal. Jemuran pakaian berada di samping kanan rumah. Di samping kiri rumah Soleman adalah sebuah gang. Properti yang berupa kelapa kering, jala ikan, dan pasir memeperkuat kesan rumah-rumah itu terletak di daerah pantai. Sebuah lentera kecil tergantung di atap emper rumah Mat Kontan, tanda hari sudah petang. Suasana panggung seperti kehidupan nyata. Sebuah nostalgia kehidupan pantai bagi yang sempat singgah meski sekedar melepas lelah.

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay
Tiba-tiba tawa penonton riuh memecah ruangan, saat melihat tingkah Utay yang membawa jemuran hendak masuk rumah lewat jendela. Sebentar kemudian Soleman keluar rumah, disusul tukang pijit buta yang melintas dengan suara tongkatnya. Utaypun pergi setelah mengusili tukang pijit. Tinggal Paijah dan Soleman yang diam  saling curi pandang, lalu suara kereta api melaju memecah sepi. Peristiwa dan percakapan seperti lewat begitu saja sekedar menghantarkan ke suasana malam.

Cerita mengalir setelah kedatangan Mat Kontan dari membeli burung. Mat Kontan membuka percakapan dengan membanggakan burungnya dan dirinya, tapi Soleman memotongnya dengan mengungkit masalah rumah tangga Mat Kontan. Tentang Kontan Kecil yang terus menangis karena sakit. Mat Kontan memang terkenal sombong dan hanya menuruti kegemarannya bermain burung, ia tak peduli dengan anak dan istrinya meski ia sering membanggakannya, sebab kelahiran Kontan kecil telah menghapus anggapan tentang dirinya yang mandul.

Percakapan mengaliri adegan hingga muncul ketegangan; Burung Beo Mat Kontan hilang. Ia marah, ia tanyakan pada Paijah istrinya, tak peduli bayinya (si Kontan kecil) terus menangis. Ternyata Utay melihat burung Beonya mati di dekat sumur, mati digorok lehernya. Mat Kontan semakin marah, Utay menjadi pelampiasan marahnya lalu Mat Kontan mengajak Utay pergi ke ahli nujum.

Malam itu semakin sunyi, rahasia-rahasia cerita mulai terungkap. Soleman berselingkuh dengan Paijah. Mereka berdua hanyut dalam kekhawatiran yang tak terpecahkan. Ketegangan semakin memuncak setelah Mat Kontan datang dan terbongkarnya rahasia, ternyata Kontan kecil adalah anak Soleman. Naluri primitif kedua laki-laki itu tergugah. Mereka hendak berkelahi demi kegagahannya sebagai laki-laki. Awalnya Mat Kontan mengalah, tapi Utay memanas-manasi. Mat Kontan terbakar amarah, ia akan membunuh Soleman tapi Soleman berhasil lolos. Nasib naas menimpa Utay, ia mati. Kepalanya disepak Soleman. Paijah menjerit histeris, ia tak dapat menerima kenyataan. Bayinya telah mati. Ia berlari, berteriak seakan menyesali segalanya. Hanya si Tukang pijat buta terdiam di tengah malam. Malam yang membutakan segalanya. Malam Jahanam. Suara kereta melaju kencang melindas peristiwa dan perasaan-perasaan lalu.

Naskah Malam Jahanam yang ditulis pada tahun 1958 dan mendapat juara pertama sayembara penulisan drama Departemen P & K 1958 memang sudah tak asing lagi, berpuluh kali telah dipentaskan di atas panggung seiring jaman yang terus bergerak, ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, dan teknologi modern yang terus melaju (meski sering muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah karena kurangnya naskah drama realis di Indonesia?). Kisah klasik dan permasalahan  lama manusia masih juga hangat. Tentang relasi berpasangan, perselingkuhan, dan perasaan purba manusia yang dikemas dalam sebuah drama panggung yang memikat dan eksotis. Rupanya tragedi “Malam Jahanam” pun perlu kita kaji ulang, bukan sekedar menilai baik-buruk atau benar-salah,  tapi  dari banyak sudut pandang yang memungkinkan melahirkan nilai-nilai baru? Cerita Malam Jahanam seperti tak habis-habisnya dibicarakan orang dari jaman ke jaman, tak kan lapuk termakan waktu. Ah, siapa yang sanggup menjelaskan cinta dan air mata?
Soleman, Paijah, dan Mat Kontan

Pementasan yang digarap dalam bentuk drama realis ini, adalah presentasi para aktor studio dari hasil belajar mereka selama kurang lebih enam bulan. Aktor benar-benar teruji dalam mendalami karakter setiap tokoh dan terlatih kecakapannya dalam berdialog dengan cepat, tangkas dan sesuai dengan karakter tokoh.
Pentas telah usai. Ternyata pementasan ini berhasil menarik penonton yang tidak hanya dari kalangan seniman teater saja tetapi dari banyak kalangan. Ada ibu rumah tangga, pelajar, aktivis LSM, guru, mahasiswi dan remaja gaul yang cakep-cakep.
* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre
(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Tim Kerja ‘Malam Jahanam’:
Sutradara Joned Suryatmoko Pemain Mat Kontan (Darmanto Setiawan), Soleman (Guntur Yudho Saputro), Paidjah (Dien Rukudzi), Utay (Alex Suhendra), Tukang Pijit (Siswadi)

Komentar Penonton:
“Paling kusuka tokoh Utay-nya, karakternya bagus banget. Selalu kutunggu kemunculannya.” (Nonik 26 tahun, Guru Wisma Bahasa)

“Kalau bagus sudah biasa, siapa dulu yang menggarapnya? Saya suka bentuk realis apalagi sutradaranya muda meski sudah tujuh kali saya melihat partunjukan teater yang menggarap Malam Jahanam.” (Hasta Indriyana, 30 tahun. Komunitas Tanda Baca)

“Keseluruhan pertunjukan lancar dan terselamatkan, tapi beberapa actor masih terbata-bata saat memasuki perannya.harus lebih digali pencarian karakternya. Selamat buat Alex untuk peran Utai-nya.” (Catur Stanis, 30 Tahun lebih)

“Apik. Utai-nya sueger banget dan membuatku cukup betah, asyik. Cuma kalau dengan gaya realis model Joned gak pas dengan kurun waktunya.” (Ria, 25 Tahun, kerja di Papermoon)
“Lumayan dan menarik.” (Orangnya cantik tapi malu-malu nyebutin namanya-Mahasisiwi Fak 
Fisipol Atmajaya, 22 Tahun)

“Kurang renyah masih seperti hari kemarin, tapi aku suka tokoh Utai-nya Cuma artikulasinya kurang ok. Kalau yang cewek mainnya tanggung banget, seharusnya di tangan Joned (sang Sutradara) bisa lebih menarik.” (Teguh, 28 Tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia Sanata Darma)

“Secara realis sangat terpahami dan menghibur.” (Ajis, 24 Tahun, Komunitas Film 03)

“Apik dan sangat realis.” (Adin, 21 Tahun dari Teater EmKa UNDIP Semarang)

“Cukup menghibur, penyutradaraannya bagus. Ehm, ceweknya lemah dalam akting.” (Soni Wibisono, 26 Tahun, pengkelana dari Semarang)

“Duh, komentar apa ya? Eh, Aku suka Utay-nya titik!” (Ari “Inyong” Dwianto, 25 Tahun, Sutradara Bengkel Pantomim)

Liputan Monolog


Monolog Demam dalam 50 cm3
Oleh: Andy Sri Wahyudi

Perempuan itu terlihat lugu dan innocent: berkuncir dua, berdaster kembang-kembang, telanjang kaki, dan wajahnya, ai..aih…saya sendiri pasti akan selalu sayang dan cinta jika ia menjadi istriku. Manis dan polos nada bicaranya. Akan tetapi siapa sangka perempuan itu adalah pelaku pembunuhan dua anaknya dengan membenamkan mereka dalam bak mandi? Duh…ada apa di balik itu semua?

adegan Demam dalam 50 cm3. Foto: Agung Kurniawan

Erythrina Baskoro memerankan tokoh perempuan yang namanya disamarkan sebagai Pipit, sekaligus menjadi penulis naskah monolog yang berjudul Demam dalam 50 cm3 itu. Monolog itu dipentaskan pada tanggal 21–22 Januari di Studio Teater Garasi, dua kali dalam semalam. Dalam pementasan dengan kapasitas penonton  40 orang tersebut, Ery bermain dalam ruang yang simpel dan bersih yang didesain oleh Andy Seno Aji. Ruangan itu berbentuk kotak tiga dinding berwarna putih berukuran 3 X 4 meter, dengan properti sebuah kursi. Ada sebingkai cermin kecil menempel di dinding belakang. Ery tampak seperti boneka yang berada dalam etalase mainan anak-anak.

Selama 30 menit pertunjukan berlangsung, Ery mencoba bermain dengan rileks di setiap pergantian perannya -sebagai Pipit, Psikolog, suami Pipit dan dirinya sendiri sebagai pencerita.. Keluar masuk karakter tokoh dalam dirinya mengalir begitu saja, dalam artian tidak terjadi perubahan secara drastis namun cukup menggambarkan karakter yang berbeda. Ery hanya memainkan gestur dan intonasi yang berbeda. Karakter tokoh-tokoh itu timbul tenggelam dalam diri Ery malam itu, dan menggulirkan alur cerita yang meminta untuk didengarkan.

Pentas monolog yang disutradarai Yudi Ahmad Tajudin tersebut tidak banyak mengeksplorasi ruang, namun memberikan kesan ganjil. Model penyutradaraan itu menurut saya memiliki daya ganggu terhadap nalar umum permainan panggung yang biasanya seperti mengharuskan aktor untuk memanfaatkan seluruh ruang untuk bermain. Sementara, Ery hanya bermain di sisi kiri panggung, bahkan properti kursi hanya sekali mendapat sentuhan dan hanya melakukan gerakan-kerakan kecil: jari telunjuk yang menyentuh dinding seperti tengah menggambar sesuatu.  Hingga akhir adegan ia menghabiskan aktingnya di sisi kiri panggung. Meski demikian dinamika permainan tetap tergarap seirama dengan akting dan karakter setiap tokoh. Bagi saya, tidak begitu istimewa tapi menggemaskan!

Narasi dari Pencerita
Mulanya Ery membaca naskah klasik Medea karya Euripedes, pengarang zaman Yunani kuno yang hidup di kisaran abad 5 SM. Naskah Medea bercerita perihal sosok perempuan yang membunuh anaknya lantaran disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Ery merasa ada kesejajaran antara naskah tersebut dengan kasus yang sama (pembunuhan anak oleh ibunya sendiri) di beberapa kota di Indonesia. Kemudian Ery mulai menelusuri beritanya di koran-koran dan internet, dan muncul pertanyaan: alasan apa yang menyebabkan seorang ibu sebagai sosok pelindung, pemelihara, dan penuh kasih, tega membunuh darah dagingnya?

Berawal dari kegelisahan atas merebaknya kasus pembunuhan anak oleh ibunya tersebut, Ery kemudian melakukan observasi menemui psikolog dan pelaku pembunuhan anak secara langsung. Ery mengkhususkan berangkat dari kasus “Pipit” asal Pekalongan. Dalam penelusurannya ditemukan sebuah kenyataan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa akibat mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sebuah tekanan yang tak lagi dapat ditanggung sebagai seorang istri. Akan tetapi, tak sedikit orang-orang di sekitar Pipit menuduhnya sebagai pembunuh anak yang layak dihukum. Tak jauh berbeda dari kisah Medea di jaman Yunani Kuno: disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Sering Pipit menangis tiba-tba ketika mengingat anaknya yang mati di tangannya sendiri. Dari peristiwa itu Ery mulai menyusun peristiwa-peristiwa yang kemudian  ia hadirkan dan ceritakan sendiri dalam sebuah peristiwa pementasan di atas panggung.
Dalam teks itu Ery menemukan semacam ambiguitas antara seseorang yang disebut sebagai korban atau pelaku.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, anggota Bengkel Mime Theatre
(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)
*****
Kerabat Kerja
Penulis dan Aktor: Erythrina Baskoro / Penata Musik: Risky Summerbee / Penata Cahaya: Ign. Sugiarto / Penata Ruang: Andy Seno Aji dan YAT / Sutradara: Yudi Ahmad Tajudin / Kru Panggung: Adi Wisanggeni, Ega Kuspriyanto, Samsul Islam / Manajer Produksi: Reni Karnila Sari dan Theodorus Cristanto

Komentar penonton:
Pentasnya Ery memang keren… (Ikun SK, Penulis)

Konsep panggung dan pertunjukan simpel, fresh, kuat. Pementasannya sendiri lumayan intense, cukup menantang si aktor, karena penonton seperti diajak untuk mencermati setiap detail dan adegan. Suka beberapa pilihan karakter yang dimainkan, meski ada satu dua adegan yang terasa agak panjang atau mungkin masih bisa dieksplorasi. Dari isu dan ceritanya, ibarat keripik, gaungnya cukup crispy ya, kayaknya banyak yang demen J. Sorry, ini komentar sembarangan dan subjektif, apalagi yang saya nikmati adalah pentas presentasi awal, bukan pentas ‘finalnya’. Selamat ya, sukses! Kapan lagi? (Anihimawati, aktivis jaringan perempuan)

Rabu, 24 Oktober 2012

Puisi Mentimun


Mendekatimu

Ingin kuselipkan  musik clasic di rambutmu
Agar kamu tak lagi suka melamun atau bicara sendiri

Apakah kamu masih sewangi hujan?
Udara dingin ini sekadar mengingatkan pertemuan pertama
Duduklah di sini, bermain playstation atau belajar sempoa
Sebentar lagi kankuajak menangkap kupu-kupu di kebun kakek
Hingga sore nanti, Hingga keringat terasa manis,
Hingga semua nama berubah kita,
Hingga kita melupakan dunia.

Mei  2011 - 2012

Artikel Yogyasastra

Sastra di Yogya: Asyik-asyik Saja
Cerita buat dik Anes Prabu dan Saiful Anwar

Oleh: Andy Sri Wahyudi


Tulisan ini fragment. Bukan tanggapan atau memberikan pandangan baru tentang sastra. Cerita dari renungan kecil dalam dunia keseharianku sebagai anak kampung yang lahir dan tinggal di Yogya. Cerita yang kupersembahkan untuk Dik Anes Prabu dan Saiful Anwar sebagai respon atas tulisan perihal sastra di Yogya.

Suatu hari Ayahku pernah menegurku saat dahan dan daun pohon nangka kupotongi dengan pisau secara serampangan. Ayahku bilang, “Jangan kau sakiti pohon nangka itu, nanti kuwalat. Pohon Nangka itu adalah kakekmu!” Ayah bercerita, kakekku mati dibayonet tentara Belanda saat Agresi Militer II, lalu dikubur di bawah pohon nangka halaman rumah. Aku yang masih kecil hanya terdiam, lalu berlari ke dapur mengembalikan pisau sambil menyesali perbuatan. Sejak saat itu aku tak pernah menyakiti pohon nangka, juga semua pohon di halaman rumah. Sebab aku merasa semua pohon adalah teman kakekku.

Aku punya kenalan tetangga kampung namanya Mbah Temu, mantan pejuang 45 yang sekarang bekerja sebagai tukang parkir di sebuah Puskesmas. Aku mengenalnya ketika ia sedang ura-ura (bersenandung tembang jawa) di bawah pohon mlinjo. Istrinya lumpuh tak kunjung sembuh. Ia bercerita, hanya dengan ura-ura itulah ia bisa merasakan kenyataan. Istrinya akhirnya meninggal dunia.

Simbok dan Eva. Dua perempuan ini usianya jauh beda. Simbok berumur 70 tahun, ia tetangga dekat yang turut merawatku sewaktu kecil. Ada yang selalu kuingat setiap ia hendak menidurkanku. Ia membuat drama fabel di tembok dengan bayangan tangan. Tangan dan jari-jarinya bisa membentuk ular, itik, menjangan dan srigala, lantas ia bercerita hingga aku tertidur setelah tertawa cekikikan. Ceritanya selalu berbeda dan setiap hewan pernah menjadi tokoh utama. Entah dari mana ia belajar menulis naskahnya, padahal simbok tidak sekolah, tentu tak bisa membaca dan menulis. Akan tetapi aku merasakan cerita itu hidup karena ketulusan dan rasa sayangnya padaku.

Tidak jauh beda dengan Eva (30 tahun), seorang guru SMA dan pendamping PAUD di kampung-kampung. Terus terang aku pernah mendekati, karena wajahnya manis. Pernah kubuatkan cerita pendek yang romantis dan kukirimi SMS puisi-puisi. Tak kusangka ia membalasnya dengan mengirimiku cerpen, puisi dan resensi sebuah novel sejarah.  Aku bingung diajaknya diskusi sastra. Lantas kubilang padanya, mengapa karya tulismu tidak dipublikasikan? Ternyata aku salah. Katanya, setiap hari ia mempublikasikan karyanya dengan mengajari anak-anak kecil menanam sayuran dan menyayangi binatang. Juga dengan ngobrol bersama murid-muridnya tentang kehidupan dunia remaja yang kadang mengkhawatirkan. Ada kata-katanya yang masih kuingat saat kutanya mengapa ia belajar sastra. Sastra mengajariku bahagia tanpa tanda tanya!, jawabnya.
Simbok membuat karya sastra lisan sedang Eva membuat karya sastra tertulis dengan dasar yang sama, karena rasa sayang dan kepeduliannya kepada yang dicintai.

Dari fragment di atas, aku merasa kehidupan Sastra di Yogya asyik-asyik saja. Sastra selalu ramai di seputarku. Ia hadir dalam hidup sehari-hari. Sastra tidak berhenti pada sebuah karya yang sekadar dibacakan, dipublikasikan lewat media massa, menjadi buku himpunan karya bersama untuk dibanggakan, atau menjadi kegiatan komunitas untuk memupuk rasa percaya diri bersastra. Aku merasa dalam kehidupan diseputarku, sastra menjadi spirit hidup dan berdaya guna. Sastra tidak hilang dalam gegap gempita tepuk tangan di atas panggung atau meringkuk dalam tumpukan dokumentasi berdebu. Tetapi ia melebur dalam hidup, ia bisa berubah menjadi berbagai wajah: semangat, cinta, sejarah, daya kerja, doa, obat, teknologi dan ilmu pengetahuan.
Aku kira tokoh-tokoh dalam fragment cerita di atas hanya setetes kisah yang kurang mewakili, sebab masih banyak tokoh-tokoh lain di Yogya, yang belum kita kenali tapi mempunyai sikap dan makna dalam menerapkan sastra di kehidupannya untuk sekadar membangun komunikasi dan pergaulan yang bermutu. Sebuah kehidupan yang luwes, berakar, berjuang, bertujuan, dan mengasyikkan.

Selain menawarkan sastra dalam intensitas hidup keseharian,  Jogja memberikan hal yang mungkin tak dimiliki kota lain. Yogya memberikan banyak tempat ‘pertapaan’ yang berupa trotoar, kafé, kos, jalan raya, pasar, sawah, sungai, mall, angkringan, alun-alun, studio musik, sanggar, kampus, halaman rumah dan lain-lain. Tempat-tempat itu yang mengajak kita sejenak berhenti untuk berkelakar, berbagi cerita, dan tak terasa melihat sekaligus merasakan banyak tema berkeliaran  di seputar kita. Tema yang meminta untuk kita renungkan, untuk kita ikuti dengan kerelaan berpikir dan berimajinasi hingga melahirkan sesuatu yang disebut karya. Maka banyak orang dari berbagai daerah datang untuk berhenti (sejenak) di kota Jogja. Tidak sekadar menikmati tapi melakoni sungguh-sungguh. Demikianlah cerita ini kusampaikan, cerita dari anak kampung pinggiran kota Yogya yang belajar sastra dari seorang tukang tambal ban (Ayahku).

Sungguh tidak adil dan terlalu arogan jika dunia sastra hanya mengenal Kirjomulyo, Nasyah Jamin, Umar Kayam, Rendra, Kunto Wijoyo, Linus Suryadi, Arifin C. Noer, Emha Ainun Najib, Imam Budi Santosa, Landung Simatupang, dan orang-orang yang kau namai sastrawan itu. Tanyakan pada Rendra, dari mana Kasidah Barzanji itu lahir. Tanyakan pada Kirjomulyo dari mana Romansa Perjalanan itu mengalir. Tanyakan pada Indrian Koto, darimana ia dapatkan planet-planet di dalam kopinya, Tanyakan pada Arifin C. Noer, darimana Mega Mega itu bisa hadir. Aku yakin mereka akan menjawab sama: dari orang-orang dan suasana yang ia jumpai di kota Jogja!

Dik Anes dan Saiful Anwar yang baik, tidakkah kau sadari sejak pertama kakimu menginjak tanah Ngayogyakarta Hadiningrat ini, sesungguhnya kau telah berada dalam pusaran sastra yang hidup sepanjang waktu. Hidup di sulur-sulur darah setiap manusianya. Itulah salah satunya mengapa Yogya menjadi daerah istimewa.


Pantomimer dan Penyair, Putra Jogja.

Tulisan ini dimuat di Koran Mingguan MINGGU PAGI yang terbit hari Jum'at, tanggal 19 Oktober 2012

Minggu, 21 Oktober 2012

Liputan Pentas Puisi



Dik Iblis Menertawai Penyair

SEMARANG -- Konsep baru pembacaan puisi disuguhkan dengan menggemaskan di acara "Sahabatan Sama Dik Iblis", Rabu (19/7) malam. Pasalnya, puisi dibacakan ke dalam sebuah konsep pertunjukan teaater. Berpuluh puisi dinikmati dengan lugas. Meski kata penuh arti tetap menjadi kekuatan utama di setiap puisi. Perhelatan ini diadakan di Gedung E Lantai III, kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Jalan Nakula 1 Nomor 1- 12, Semarang. Penonton seringkali tertawa cekikikan karena ulah aktornya yang lucu.

Acara ini merupakan rangkaian dari bedah buku puisi karya Andy Sri Wahyudi (32). Andy adalah pelaku kesenian lintas genre. Ia mengibaratkan laku seninya seperti bermain-main dengan semangat anak kecil tetapi tetap bertanggungjawab. Seperti halnya kali ini, puisinya dalam dua buku antologi di pilih dan direpresentasikan ke pertunjukan teater. Dua buah antologi puisi itu yakni, "Ibu, Aku Ingin Dibelikan Mushola" dan "Iblis Imut dan Uh Kamu Nyebelin".

Selama sepuluh tahun Andy menulis puisi dalam dua buku tersebut. Laku seni, bagi Andy, bukanlah laku memiskinkan diri. Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam tersebut mencoba membongkar faham itu. Keseriusan berjibaku dengan karya seni yang membuat lupa dengan sisi lain dari hidup ditolaknya. "Yang penting aku tidak mengalami kalau puisi memiskinkan diriku," ucap salah satu tokoh dalam pertunjukan dengan tajuk "Pertunjukan Puisi Dalam Fragment Cinta".

Andy menggodog konsep pertunjukannya dengan membenturkan realita. Dalam salah satu adegan, seorang penyair membaca dengan serius. Tetapi masyarakat bukannya menikmati, malahan menganggapnya tidak ada. Bahkan ada yang menyangsikan kata-kata indah dari mulut penyair. "Buku ini bagi saya adalah sebuah kenang-kenangan perjalanan hidup," kata Andy kepada Jateng Pos.

Lagi, tokoh dik iblis di pertunjukan ini adalah interprestasi sahabat yang setia. Tokoh utama, diperankan Andy, mempunyai sahabat sedari kecil yaitu dik iblis ini. Sejak kecil tokoh utama tanpa nama ini menginginkan menjadi penyair. Namun, ibunya selalu tidak merestui. Bahkan seringkali diusir karena menurut ibunya penyair tidak mempunyai ketrampilan dalam bertahan hidup. Tokoh utama tetap bersikeras menjadi penyair. "Sedikit banyak tulisan saya adalah pengalaman hidup saya sendiri," ucap penulis naskah Bengkel Mime Teathre ini.

Sekitar 90 penonton dibuat gembira karena kelucuan realitas penyair. Usai pementasan dilanjutkan bedah dua buku antologi itu. Diskusi berjalan mengalir. Konsep pembacaan puisi yang dibawa Andy dianggap eksplorasi baru. Penyuguhkan pantomim dan alur dianggap menjadi kabar gembira dalam eksplorasi puisi yang seringkali terkesan kaku. "Menurut saya puisi Andy itu sangat serius. Meski presentasi dalam pertunjukan diungkapkan dengan kulucuan," kata Agung Hima, pembicara dalam bedah buku. (Aristya Kusuma Verdana)


________________________________________________________________________


Andy SW, Mengolok-olok dalam Puisi

Semarang Tengah

Kurang lebih satu jam lamanya, Rabu (19/7) lalu penonton disuguhi pembacaan puisi  oleh kelompok pertunjukan Bengkel Mime di Gedung E Lantai III, kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Jalan Nakula 1 Nomor 1- 12, Semarang. Andy Sri Wahyudi (32) penyair yang puisinya diterjemahkan dalam bentuk pertunjukan malam itu juga ikut pentas bersama Bengkel Mime. Pertunjukannya menjadi menarik karena seluruh puisi  yang ditampilkan dibingkai dalam satu alur cerita tertentu. Ada penokohan meskipun tidak jelas benar karakternya. Semua fragmen bersumber pada 2 antologi yang malam itu diluncurkan bersamaan.

Dua buah antologi puisi itu yakni, Ibu, Aku Ingin Dibelikan Mushola dan Iblis Imut dan Uh Kamu Nyebelin. Nyaris semua puisi yang dipilih merupakan bahan olok-olok, ejekan, ajakan menertawakan diri profesi penyair. Andy, penyair kelahiran Yogyakarta 13 Desember 1980 bersama para pemain lainnya secara bergantian membacakan puisi setelah sebelumnya selalu didahului dialog-dialog antar pemainnya."Ini merupakan kali pertama saya mementaskan puisi, saya bilang pentas karena seluruh pertunjukannya memang digarap serius dan tidak asal baca. Ada alur, tokoh yang berusaha kami bangun, konflik, dan klimaks," katanya pada Warta Jateng.

Tidak dinyana, bahasa puisi yang untuk beberapa orang sulit dipahami, dengan dibantu visualisasi melalui pentas menjadi cukup mudah dipahami. Hal ini dirasakan oleh Sulung Pamanggih, mahasiswa IKIP PGRI yang malam itu menonton."Pertunjukannya ringan, mudah dipahami, namun cukup menampar," katanya.

Dalam salah satu adegan misalnya, tokoh utama terus menerus membacakan puisinya sementara ibunya di dapur memanggil-manggil tokoh  utama untuk disuruh membeli bumbu dapur. Dengan tegas tokoh utama menolak, lalu sekonyong-konyong ibunya datang dan menampar wajah anaknya."Itu salah satu adegan yang  saya suka, menjadi ringan karena adegan itu disajikan dengan sederhana. Si Anak wajahnya polos, dan kemarahan ibunya ditunjukkan dengan wajar. Tidak heroik dan berlebihan," tambah Sulung.

Dalam sebuah diskusi setelah pementasan, Andy juga mengakui pertunjukannya diinspirasi oleh kejadian sehari-hari yang dialaminya."Saya sutradara, penulis naskah, editor, aktor, dan kadang-kadang menyamar menjadi penyair. Semua campur aduk. Pentas ini bersumber dari apa yang saya alami dan didedikasikan untuk ibu saya dan seluruh pengalaman di masa lalu," katanya.

Bagi Andy menjadi penyair tidaklah harus terkotak-kotak dalam satu disiplin tertentu. Baginya menjadi penyair sebagaimana pilihan profesi sebagai seniman lainnya tidak lebih dari main-main semasa pentas tujuh belas agustusan. Semua orang bisa dengan mudah bertukar peran,  tidak ada sekat-sekat antara menjadi aktor, penyair, penulis naskah atau pilihan profesi lainnya."Saya hanya ingin menyatakan kehidupan kesenian itu tidak terkotak-kotak. Tak heran dalam pementasan puisi saya ini saya mengandalkan semua potensi dan sumber daya yang saya miliki," tegasnya. (m8 / Adin)


Dari Kesalahan Negara, Berubah Menjadi Maha Karya
oleh Imam Supriono pada Sabtu, Juli 21st, 2012 dilihat 125 kali
Pasti menjadi hal yang sangat menggembirakan kalau sebuah karya tulis bisa di diabadikan menjadi buku. Yap, hal inilah yang mungkin sedang dirasakan Andy Sri Wahyudi. Cowok dengan gaya gokil yang berasal dari Jogja ini baru saja melakukan bedah buku yang dibuatnya lho. Nggak hanya melakukan bedah buku saja, tapi bekerjasama dengan teman-teman dari Teater Kaplink Udinus, dia juga mementaskan tulisan puisi yang di bukukannya dalam fragment kasih sayang lho.
Gedung E Universitas Dian Nuswantoro lantai tiga adalah tempat yang dijadikan sebagai tempat berlangsungnya acara yang bertajuk “Sahabatan Dengan Dik Ibliz”. Tepat pada jam tujuh malam acara pun dimulai. Dengan mementaskan sebuah drama yang diambil dari buku hasil garapan Andy, mereka menghibur para penonton yang malam itu ikut hadir membanjiri veneu. Karena alur cerita pementasan dan tingkah laku para pemainnya yang gokil, nggak sedikit juga penonton yang tertawa terbahak-bahak.
Sebenarnya memang asal mula buku yang berisi kumpulan puisi yang dibuat Andy memang gokil. Jadi nggak salah kalau pementasannya sedikit berbabau humor.
Andy yang sebenarnya adalah orang yang nggak tahu sistematika dunia tulis nggak merasa minder untuk menjadi seorang penulis. Dengan memilih puisi yang mungkin banyak dari penerbit mayor label menimang puisi, maka dipilih jalur Indie untuk menyalurkan hobi menulisnya itu. Dengan ciri khas gayanya yang kekanakan, imajinya yang ‘kartun’ ini dia menceritakan hal-hal yang sederhana seputar kesehariannya.
Cowok yang menjadi penulis sekaligus sutradara dan pemeran ini juga menuturkan bahwa karena kesalahan negara lah yang membuatnya menjadi seorang seniman seperti ini. “Yang membuat saya terjun di dunia seni itu sebenarnya adalah karena kesalahan negara. Hehe! Karena dari kecil saya dididik menampilkan drama, puisi atau yang lain yang berbau dengan puisi pada peringatan 17′an”, tuturnya sambil tertawa. Dia juga mengaku bahwa dari lima saudaranya yanng lain, hanya Andy lah yang nggak memiliki jiwa seni di dalam dirinya. Namun karena terbiasa dari kecil, maka dari itu sekarang dia jadi seorang seniman.
Setelah 10 tahun menulis, akhirnya tiga buah buku pun dikeluarkannya. Sebut saja, “Uh Kamu Nyebelin (II&UKN)”, “Ibliz Imut”, “Ibu Aku Minta Dibeliin Mushola (IAMDM)“. Setelah selesai menyelesaikan bukunya itu dia juga mencurahkan isi hatinya kalau dia menyayangkan bukunya itu untuk dijual. “Sebenarnya nggak enak untuk menjual buku itu. Karena setelah menjualnya saya takut nggak bisa nulis lagi”, kata Andy dengan sedikit sedih.
Ya, kita doa kan saja semoga buku yang dibuat Andy bisa laku di pasaran. Semoga saja dengan di bedahnya buku itu semakin membuat Andy semangat untuk menulis kembali dan selalu memiliki inspirasi-inspirasi menulis yang lebih banyak. Amin! Keep spirit Andy!!!


Headlines News :
Home » Agenda » Rabu, "Sahabatan Sama Dik Ibliz" di Udinus 

Rabu, "Sahabatan Sama Dik Ibliz" di Udinus

Rabu, "Sahabatan Sama Dik Ibliz"" di Udinus

SEMARANG- Kegelisahan para seniman terus terjadi seiring laju peradaban zaman, mereka berusaha menemukan identitas dengan segala kebebasannya dalam berekspresi.

Seperti seorang sastrawan muda asal Jogjakarta, Andy Sri Wahyudi ini. Dengan menggandeng Teater Kapling Udinus serta aktivis kesenian di Semarang, karya-karya puisi seniman ini bakal "unjuk gigi" dalam pementasan puisi fragmen kasih sayang bertajuk "Sahabatan Sama Dik Ibliz", Rabu, (18/7) mulai pukul 19.00-23.00. Pergelaran akan berlangsung di Gedung E Lantai 3 Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang dengan tiket masuk Rp 10 ribu.

Pembacaan puisi kali ini mempunyai konsep, corak dan inovasi baru dari sang penggagas, Andy. Ia selaku penulis puisi, juga menjadi aktor sekaligus sutradara. "Bentuknya pementasan teater. Maka kami melibatkan beberapa aktor lain," tutur Bintang Al Huda selaku ketua perhelatan tersebut.

Beberapa aktor yang dilibatkan masing-masing; Desita Wahyu Gundi Aditya, Ficky Tri Sanjaya. Sementara pada Lighting dipegang oleh Firdaus Firmanto.
Menurut Bintang, Andy memang sengaja diusung dalam pertunjukan tersebut, sebab sastrawan satu itu mempunyai corak yang unik dalam generasi belakangan ini. "Sehingga, Andy kami anggap menarik dan karya sastra milik Andy patut mendapat apresiasi," ungkapnya.

Materi dalam pementasan ini diambil dua buku kumpulan puisi karya Andy Sri Wahyudi. Masing-masing berjudul "Ibliz Imut: Uh, Kamu Nyebelin!" dan "Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola". "Kami menggabungkan sisi puisi dengan teater. Setiap kata diramu dan diterjemahkan ke dalam bentuk konsep pertunjukan. Mulai kata-kata ringan, selenge'an, hingga kata penuh arti. Kesemuanya disampaikan secara lugas, bebas tapi tertata," terang Bintang.

Andy mengaku menggubah karya-karya puisinya sendiri untuk dipersembahkan secara khusus pada acara ini. "Jangan lupa datang lebih awal supaya kita bisa berbincang. Disediakan berkardus-kardus senyuman untuk Anda," timpal Andy yang juga aktif sebagai penulis dan sutradara di Bengkel Mime Theatre, sembari bercanda.

Tidak hanya itu, dalam rangkaian acara tersebut juga akan dilakukan bedah buku, yakni dua buku kumpulan puisi karya Andy Sri Wahyudi. Narasumber dalam diskusi dan bedah buku tersebut bakal mendatangkan sastrawan sekaligus jurnalis Adin Hysteria dan seniman senior Agung Hima. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Bintang +6287832358297. (G-15)


Home » AGENDA » Rabu, Bedah Buku Sahabatan sama Dik Ibliz di Udinus

Rabu, Bedah Buku Sahabatan sama Dik Ibliz di Udinus

By HaloSemarang - Sun Jul 15, 6:37 pm
Diskusi dan launching dua kumpulan buku karya Andy Sriwahyudi bertemakan “Sahabatan Sama Dik Iblis” akan digelar di Udinus.
Acara yang akan diselenggarakan pada 18 Juni 2012 ini dimeriahkan oleh Desita Wahyu, Gandhi Aditya, Ficky Tri Sanjaya serta sang penulis.
Pementasan yang akan dimulai pukul 19.00 ini juga menampilkan mini mime dan drama serta pembacaan puisi oleh rekan-rekan penyair Solo dan Semarang.
Jangan lewatkan diskusinya bersama Adin dan Agung Hima dalam membedah “Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola” dan “Ibliz Imut: Uh, Kamu Nyebelin” di Auditorium Gedung E Lantai 3, Jalan Nakula 1 No. 5-12 dengan harga tiket masuk Rp 10 ribu saja.
(Fitria Rahmawati)