Selasa, 30 Oktober 2012

Titer


Posted by skAnA under Review/Liputan | Tags: Joned Suryatmo, Teater Garasi |
Leave a Comment 

Oleh: Andy Sri Wahyudi *

“Ih, sebel deh,” gerutu seorang cowok saat berjejal antri masuk ruang pementasan. Pintu masuknya memang terlalu sempit, jadi harus bergilir satu persatu. Apalagi jumlah penontonnya sekitar seratusan orang? “Uh, Busyet dah!”

Malam itu adalah hari pertama pementasan Malam Jahanam karya Motinggo Boesye, yang dimainkan oleh kelompok Actor Studio dan disutradarai  oleh Joned Suryatmoko (Sutradara Teater Gardanalla). Pementasan diadakan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan no:3 Yogyakarta. Pementasan ini merupakan program Aktor Studio: Program belajar keaktoran yang ditujukan kepada siapa saja yang ingin mempelajari keaktoran secara lebih dalam.

Tempat duduk yang berbentuk punden berundak itu sudah dipenuhi penonton. Panggung hanya disinari lampu warna biru yang diredupkan. Para penonton masih menunggu sambil asyik ngobrol dengan berisik. Tata ruang panggung dibagi menjadi dua: level atas adalah sebuah jalan, sedang level bawah rumah penduduk. Dua rumah berdinding bambu dan beratapkan rumbai-rumbai mendominasi ruang.
Suara berisik para penonton berangsur hilang, ketika terdengar suara lirih deburan ombak yang membangun imajinasi tentang pantai. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Suara wanita yang mengumpat jengkel. Ialah Paijah istri Mat Kontan. Seseorang keluar dari dalam rumah dengan bentuk tubuh dan gerak aneh (orang kelainan mental) ia berlari ketakutan sambil mohon ampun saat di kejar Paijah. Ialah Utay, si Pandir. Rupanya pertunjukan telah dimulai.

Saya masih terpesona dengan setting panggungnya. Adalah rumah Soleman di sebelah kanan, agak maju menghadap serong ke kiri dan rumah Mat Kontan berada di kiri panggung lebih ke belakang, mengarah diagonal. Jemuran pakaian berada di samping kanan rumah. Di samping kiri rumah Soleman adalah sebuah gang. Properti yang berupa kelapa kering, jala ikan, dan pasir memeperkuat kesan rumah-rumah itu terletak di daerah pantai. Sebuah lentera kecil tergantung di atap emper rumah Mat Kontan, tanda hari sudah petang. Suasana panggung seperti kehidupan nyata. Sebuah nostalgia kehidupan pantai bagi yang sempat singgah meski sekedar melepas lelah.

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay
Tiba-tiba tawa penonton riuh memecah ruangan, saat melihat tingkah Utay yang membawa jemuran hendak masuk rumah lewat jendela. Sebentar kemudian Soleman keluar rumah, disusul tukang pijit buta yang melintas dengan suara tongkatnya. Utaypun pergi setelah mengusili tukang pijit. Tinggal Paijah dan Soleman yang diam  saling curi pandang, lalu suara kereta api melaju memecah sepi. Peristiwa dan percakapan seperti lewat begitu saja sekedar menghantarkan ke suasana malam.

Cerita mengalir setelah kedatangan Mat Kontan dari membeli burung. Mat Kontan membuka percakapan dengan membanggakan burungnya dan dirinya, tapi Soleman memotongnya dengan mengungkit masalah rumah tangga Mat Kontan. Tentang Kontan Kecil yang terus menangis karena sakit. Mat Kontan memang terkenal sombong dan hanya menuruti kegemarannya bermain burung, ia tak peduli dengan anak dan istrinya meski ia sering membanggakannya, sebab kelahiran Kontan kecil telah menghapus anggapan tentang dirinya yang mandul.

Percakapan mengaliri adegan hingga muncul ketegangan; Burung Beo Mat Kontan hilang. Ia marah, ia tanyakan pada Paijah istrinya, tak peduli bayinya (si Kontan kecil) terus menangis. Ternyata Utay melihat burung Beonya mati di dekat sumur, mati digorok lehernya. Mat Kontan semakin marah, Utay menjadi pelampiasan marahnya lalu Mat Kontan mengajak Utay pergi ke ahli nujum.

Malam itu semakin sunyi, rahasia-rahasia cerita mulai terungkap. Soleman berselingkuh dengan Paijah. Mereka berdua hanyut dalam kekhawatiran yang tak terpecahkan. Ketegangan semakin memuncak setelah Mat Kontan datang dan terbongkarnya rahasia, ternyata Kontan kecil adalah anak Soleman. Naluri primitif kedua laki-laki itu tergugah. Mereka hendak berkelahi demi kegagahannya sebagai laki-laki. Awalnya Mat Kontan mengalah, tapi Utay memanas-manasi. Mat Kontan terbakar amarah, ia akan membunuh Soleman tapi Soleman berhasil lolos. Nasib naas menimpa Utay, ia mati. Kepalanya disepak Soleman. Paijah menjerit histeris, ia tak dapat menerima kenyataan. Bayinya telah mati. Ia berlari, berteriak seakan menyesali segalanya. Hanya si Tukang pijat buta terdiam di tengah malam. Malam yang membutakan segalanya. Malam Jahanam. Suara kereta melaju kencang melindas peristiwa dan perasaan-perasaan lalu.

Naskah Malam Jahanam yang ditulis pada tahun 1958 dan mendapat juara pertama sayembara penulisan drama Departemen P & K 1958 memang sudah tak asing lagi, berpuluh kali telah dipentaskan di atas panggung seiring jaman yang terus bergerak, ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, dan teknologi modern yang terus melaju (meski sering muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah karena kurangnya naskah drama realis di Indonesia?). Kisah klasik dan permasalahan  lama manusia masih juga hangat. Tentang relasi berpasangan, perselingkuhan, dan perasaan purba manusia yang dikemas dalam sebuah drama panggung yang memikat dan eksotis. Rupanya tragedi “Malam Jahanam” pun perlu kita kaji ulang, bukan sekedar menilai baik-buruk atau benar-salah,  tapi  dari banyak sudut pandang yang memungkinkan melahirkan nilai-nilai baru? Cerita Malam Jahanam seperti tak habis-habisnya dibicarakan orang dari jaman ke jaman, tak kan lapuk termakan waktu. Ah, siapa yang sanggup menjelaskan cinta dan air mata?
Soleman, Paijah, dan Mat Kontan

Pementasan yang digarap dalam bentuk drama realis ini, adalah presentasi para aktor studio dari hasil belajar mereka selama kurang lebih enam bulan. Aktor benar-benar teruji dalam mendalami karakter setiap tokoh dan terlatih kecakapannya dalam berdialog dengan cepat, tangkas dan sesuai dengan karakter tokoh.
Pentas telah usai. Ternyata pementasan ini berhasil menarik penonton yang tidak hanya dari kalangan seniman teater saja tetapi dari banyak kalangan. Ada ibu rumah tangga, pelajar, aktivis LSM, guru, mahasiswi dan remaja gaul yang cakep-cakep.
* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre
(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Tim Kerja ‘Malam Jahanam’:
Sutradara Joned Suryatmoko Pemain Mat Kontan (Darmanto Setiawan), Soleman (Guntur Yudho Saputro), Paidjah (Dien Rukudzi), Utay (Alex Suhendra), Tukang Pijit (Siswadi)

Komentar Penonton:
“Paling kusuka tokoh Utay-nya, karakternya bagus banget. Selalu kutunggu kemunculannya.” (Nonik 26 tahun, Guru Wisma Bahasa)

“Kalau bagus sudah biasa, siapa dulu yang menggarapnya? Saya suka bentuk realis apalagi sutradaranya muda meski sudah tujuh kali saya melihat partunjukan teater yang menggarap Malam Jahanam.” (Hasta Indriyana, 30 tahun. Komunitas Tanda Baca)

“Keseluruhan pertunjukan lancar dan terselamatkan, tapi beberapa actor masih terbata-bata saat memasuki perannya.harus lebih digali pencarian karakternya. Selamat buat Alex untuk peran Utai-nya.” (Catur Stanis, 30 Tahun lebih)

“Apik. Utai-nya sueger banget dan membuatku cukup betah, asyik. Cuma kalau dengan gaya realis model Joned gak pas dengan kurun waktunya.” (Ria, 25 Tahun, kerja di Papermoon)
“Lumayan dan menarik.” (Orangnya cantik tapi malu-malu nyebutin namanya-Mahasisiwi Fak 
Fisipol Atmajaya, 22 Tahun)

“Kurang renyah masih seperti hari kemarin, tapi aku suka tokoh Utai-nya Cuma artikulasinya kurang ok. Kalau yang cewek mainnya tanggung banget, seharusnya di tangan Joned (sang Sutradara) bisa lebih menarik.” (Teguh, 28 Tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia Sanata Darma)

“Secara realis sangat terpahami dan menghibur.” (Ajis, 24 Tahun, Komunitas Film 03)

“Apik dan sangat realis.” (Adin, 21 Tahun dari Teater EmKa UNDIP Semarang)

“Cukup menghibur, penyutradaraannya bagus. Ehm, ceweknya lemah dalam akting.” (Soni Wibisono, 26 Tahun, pengkelana dari Semarang)

“Duh, komentar apa ya? Eh, Aku suka Utay-nya titik!” (Ari “Inyong” Dwianto, 25 Tahun, Sutradara Bengkel Pantomim)

Liputan Monolog


Monolog Demam dalam 50 cm3
Oleh: Andy Sri Wahyudi

Perempuan itu terlihat lugu dan innocent: berkuncir dua, berdaster kembang-kembang, telanjang kaki, dan wajahnya, ai..aih…saya sendiri pasti akan selalu sayang dan cinta jika ia menjadi istriku. Manis dan polos nada bicaranya. Akan tetapi siapa sangka perempuan itu adalah pelaku pembunuhan dua anaknya dengan membenamkan mereka dalam bak mandi? Duh…ada apa di balik itu semua?

adegan Demam dalam 50 cm3. Foto: Agung Kurniawan

Erythrina Baskoro memerankan tokoh perempuan yang namanya disamarkan sebagai Pipit, sekaligus menjadi penulis naskah monolog yang berjudul Demam dalam 50 cm3 itu. Monolog itu dipentaskan pada tanggal 21–22 Januari di Studio Teater Garasi, dua kali dalam semalam. Dalam pementasan dengan kapasitas penonton  40 orang tersebut, Ery bermain dalam ruang yang simpel dan bersih yang didesain oleh Andy Seno Aji. Ruangan itu berbentuk kotak tiga dinding berwarna putih berukuran 3 X 4 meter, dengan properti sebuah kursi. Ada sebingkai cermin kecil menempel di dinding belakang. Ery tampak seperti boneka yang berada dalam etalase mainan anak-anak.

Selama 30 menit pertunjukan berlangsung, Ery mencoba bermain dengan rileks di setiap pergantian perannya -sebagai Pipit, Psikolog, suami Pipit dan dirinya sendiri sebagai pencerita.. Keluar masuk karakter tokoh dalam dirinya mengalir begitu saja, dalam artian tidak terjadi perubahan secara drastis namun cukup menggambarkan karakter yang berbeda. Ery hanya memainkan gestur dan intonasi yang berbeda. Karakter tokoh-tokoh itu timbul tenggelam dalam diri Ery malam itu, dan menggulirkan alur cerita yang meminta untuk didengarkan.

Pentas monolog yang disutradarai Yudi Ahmad Tajudin tersebut tidak banyak mengeksplorasi ruang, namun memberikan kesan ganjil. Model penyutradaraan itu menurut saya memiliki daya ganggu terhadap nalar umum permainan panggung yang biasanya seperti mengharuskan aktor untuk memanfaatkan seluruh ruang untuk bermain. Sementara, Ery hanya bermain di sisi kiri panggung, bahkan properti kursi hanya sekali mendapat sentuhan dan hanya melakukan gerakan-kerakan kecil: jari telunjuk yang menyentuh dinding seperti tengah menggambar sesuatu.  Hingga akhir adegan ia menghabiskan aktingnya di sisi kiri panggung. Meski demikian dinamika permainan tetap tergarap seirama dengan akting dan karakter setiap tokoh. Bagi saya, tidak begitu istimewa tapi menggemaskan!

Narasi dari Pencerita
Mulanya Ery membaca naskah klasik Medea karya Euripedes, pengarang zaman Yunani kuno yang hidup di kisaran abad 5 SM. Naskah Medea bercerita perihal sosok perempuan yang membunuh anaknya lantaran disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Ery merasa ada kesejajaran antara naskah tersebut dengan kasus yang sama (pembunuhan anak oleh ibunya sendiri) di beberapa kota di Indonesia. Kemudian Ery mulai menelusuri beritanya di koran-koran dan internet, dan muncul pertanyaan: alasan apa yang menyebabkan seorang ibu sebagai sosok pelindung, pemelihara, dan penuh kasih, tega membunuh darah dagingnya?

Berawal dari kegelisahan atas merebaknya kasus pembunuhan anak oleh ibunya tersebut, Ery kemudian melakukan observasi menemui psikolog dan pelaku pembunuhan anak secara langsung. Ery mengkhususkan berangkat dari kasus “Pipit” asal Pekalongan. Dalam penelusurannya ditemukan sebuah kenyataan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa akibat mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sebuah tekanan yang tak lagi dapat ditanggung sebagai seorang istri. Akan tetapi, tak sedikit orang-orang di sekitar Pipit menuduhnya sebagai pembunuh anak yang layak dihukum. Tak jauh berbeda dari kisah Medea di jaman Yunani Kuno: disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Sering Pipit menangis tiba-tba ketika mengingat anaknya yang mati di tangannya sendiri. Dari peristiwa itu Ery mulai menyusun peristiwa-peristiwa yang kemudian  ia hadirkan dan ceritakan sendiri dalam sebuah peristiwa pementasan di atas panggung.
Dalam teks itu Ery menemukan semacam ambiguitas antara seseorang yang disebut sebagai korban atau pelaku.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, anggota Bengkel Mime Theatre
(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)
*****
Kerabat Kerja
Penulis dan Aktor: Erythrina Baskoro / Penata Musik: Risky Summerbee / Penata Cahaya: Ign. Sugiarto / Penata Ruang: Andy Seno Aji dan YAT / Sutradara: Yudi Ahmad Tajudin / Kru Panggung: Adi Wisanggeni, Ega Kuspriyanto, Samsul Islam / Manajer Produksi: Reni Karnila Sari dan Theodorus Cristanto

Komentar penonton:
Pentasnya Ery memang keren… (Ikun SK, Penulis)

Konsep panggung dan pertunjukan simpel, fresh, kuat. Pementasannya sendiri lumayan intense, cukup menantang si aktor, karena penonton seperti diajak untuk mencermati setiap detail dan adegan. Suka beberapa pilihan karakter yang dimainkan, meski ada satu dua adegan yang terasa agak panjang atau mungkin masih bisa dieksplorasi. Dari isu dan ceritanya, ibarat keripik, gaungnya cukup crispy ya, kayaknya banyak yang demen J. Sorry, ini komentar sembarangan dan subjektif, apalagi yang saya nikmati adalah pentas presentasi awal, bukan pentas ‘finalnya’. Selamat ya, sukses! Kapan lagi? (Anihimawati, aktivis jaringan perempuan)

Rabu, 24 Oktober 2012

Puisi Mentimun


Mendekatimu

Ingin kuselipkan  musik clasic di rambutmu
Agar kamu tak lagi suka melamun atau bicara sendiri

Apakah kamu masih sewangi hujan?
Udara dingin ini sekadar mengingatkan pertemuan pertama
Duduklah di sini, bermain playstation atau belajar sempoa
Sebentar lagi kankuajak menangkap kupu-kupu di kebun kakek
Hingga sore nanti, Hingga keringat terasa manis,
Hingga semua nama berubah kita,
Hingga kita melupakan dunia.

Mei  2011 - 2012